47 Mahasiswa Pariwisata USM KKL di Bali, Pelajari Strategi Pengelolaan Destinasi dan Kearifan Lokal

BALI (Awall id) – Sebanyak 47 mahasiswa Program Studi S1 Pariwisata melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Bali pada 26–30 Juni 2026.
Kegiatan tersebut sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang bertujuan memperkuat kompetensi akademik sekaligus mempertemukan teori yang diperoleh di ruang kuliah dengan praktik nyata di industri pariwisata.
Didampingi Dosen Koordinator KKL, Faisal Yusuf BA SM MM MBA, para mahasiswa mengunjungi dua destinasi wisata unggulan di Bali, yakni DTW Ulun Danu Beratan di Kabupaten Tabanan dan Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli.
Di dua lokasi tersebut, mahasiswa mempelajari strategi pengelolaan destinasi, komunikasi pemasaran, serta implementasi Community-Based Tourism (CBT) yang berorientasi pada keberlanjutan dan pelestarian budaya.
Pada hari pertama, Sabtu (27/6), rombongan mengunjungi DTW Ulun Danu Beratan dan diterima Ketua Humas dan Marketing DTW Ulun Danu Beratan, I Made Sukarata SE.
Pada kesempatan itu, I Made Sukarata memaparkan strategi komunikasi pemasaran destinasi, pengelolaan citra (brand image), hingga tantangan menjaga keseimbangan antara peningkatan kunjungan wisatawan dengan pelestarian nilai-nilai budaya dan spiritual Pura Ulun Danu Beratan.
Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai pentingnya membangun citra destinasi secara profesional melalui promosi yang efektif, pengelolaan kunjungan wisatawan (visitor management), serta komitmen terhadap kelestarian lingkungan sebagai bagian dari pengembangan destinasi wisata berkelas dunia.
Faisal Yusuf menilai pengalaman tersebut memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi mahasiswa karena mereka dapat melihat secara langsung bagaimana strategi komunikasi dan pemasaran diterapkan untuk mempertahankan daya saing destinasi di tengah perkembangan industri pariwisata yang semakin dinamis.
”Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai strategi pemasaran, tetapi juga memahami bagaimana pengelola menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menjaga citra destinasi, mengelola arus wisatawan, hingga mempertahankan nilai budaya di tengah perkembangan industri pariwisata yang semakin kompetitif,” ujarnya.
Kegiatan KKL berlanjut pada Minggu (28/6) dengan kunjungan ke Desa Wisata Penglipuran yang diterima oleh pengelola desa, I Nengah Sudibya. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa mendapatkan pemaparan mengenai sejarah Desa Penglipuran, filosofi kehidupan masyarakat, tata ruang tradisional desa, penerapan konsep Tri Hita Karana, hingga komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan bambu sebagai bagian dari konservasi lingkungan sekaligus identitas budaya desa.
Mahasiswa juga mempelajari bagaimana konsep Community-Based Tourism diterapkan secara konsisten melalui keterlibatan aktif masyarakat dalam mengelola potensi wisata sehingga mampu menciptakan keseimbangan antara pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal.
Faisal Yusuf menyampaikan bahwa rangkaian Kuliah Kerja Lapangan ini menjadi laboratorium pembelajaran yang sangat penting bagi mahasiswa karena memberikan pengalaman nyata mengenai praktik pengelolaan destinasi wisata dari dua perspektif yang berbeda namun saling melengkapi.
Menurutnya, DTW Ulun Danu Beratan menunjukkan destinasi wisata dikelola secara profesional melalui strategi komunikasi dan pemasaran yang terencana, sedangkan Desa Penglipuran menjadi contoh keberhasilan penerapan pariwisata berbasis masyarakat yang mampu mempertahankan nilai-nilai budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
”Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di dalam kelas, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana konsep komunikasi, pemasaran destinasi, pengelolaan wisata, dan Community-Based Tourism diterapkan dalam praktik. Pengalaman ini diharapkan mampu memperkuat kemampuan analisis mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi pengelolaan pariwisata yang adaptif, berkelanjutan, dan tetap berakar pada kearifan lokal,” ungkapnya.
Dia berharap, melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memiliki perspektif yang lebih komprehensif mengenai tata kelola destinasi wisata modern sekaligus mampu mengembangkan solusi dan inovasi yang dapat diterapkan dalam pengembangan sektor pariwisata di berbagai daerah di Indonesia.
”Hasil observasi dan kajian selama KKL selanjutnya akan diolah menjadi laporan ilmiah sebagai bagian dari proses pembelajaran akademik yang mengintegrasikan teori, riset, dan praktik lapangan,” ungkapnya.
Salah satu peserta KKL, Firda Riyandini mengungkapkan, kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang jauh lebih komprehensif dibandingkan hanya mempelajari teori di ruang kuliah.
Menurutnya, kunjungan ke DTW Ulun Danu Beratan dan Desa Wisata Penglipuran membuka wawasan mahasiswa mengenai pentingnya sinergi antara strategi komunikasi, pengelolaan destinasi, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan.
‘Melalui KKL ini kami tidak hanya melihat destinasi wisata sebagai tempat yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga memahami bagaimana sebuah destinasi dikelola secara profesional dengan tetap menjaga nilai budaya dan lingkungan. Pengalaman ini menjadi bekal yang sangat berharga bagi kami sebagai calon insan pariwisata untuk menghadirkan inovasi pengelolaan destinasi yang berkelanjutan di masa depan,” tutur Firda.




















