Rektor USM: Tak Ada Toleransi terhadap Kekerasan di Lingkungan Kampus

Rektor USM Dr Supari ST MT bersama peserta Pelatihan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Kampus, yang berlangsung di Gedung Menara USM, pada 26 Mei 2026

SEMARANG (Awall.id) – ”Tidak ada toleransi terhadap segala bentuk kekerasan di lingkungan kampus USM. Kita harus bergerak dari sekadar responsif menjadi preventif, dari sekadar prosedural menjadi substansial, dan dari sekadar formalitas menuju keberpihakan nyata kepada korban.

Hal itu diungkapkan Rektor USM Dr Supari ST MT saat membuka Pelatihan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Kampus di Gedung Menara USM, pada 26 Mei 2026.

Kegiatan yang digelar oleh Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Semarang (USM) itu dihadiri Wakil Rektor I USM Prof Dr Ir Haslina MSi.

Baca Juga:  "Purnama Puisi di Atas Awan", USM-PWI Jateng Ajak Audiens Berselancar di Lorong Sejarah

Kegiatan menghadirkan narasumber Witi Muntari MPd dari Legal Resource Center untuk Keadilan Jender dan HAM/LRC KJHAM, dan Ninik Jumoenita SH dari Sammi Institut.

Rektor mengatakan, perguruan tinggi bukan hanya ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, nilai, dan peradaban.

”USM memiliki tanggung jawab moral dan institusional untuk memastikan bahwa seluruh sivitas akademika berada dalam lingkungan yang aman, bermartabat, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” katanya.

Menurutnya, kekerasan, dalam bentuk apa pun tidak hanya melukai individu, tetapi juga merusak fondasi kepercayaan dan integritas institusi pendidikan itu sendiri.

Baca Juga:  Dubes RI di Tokyo Terima Kunjungan Soeharsojo, Bahas Potensi Kerja Sama USM dengan Perguruan Tinggi di Jepang

Upaya pencegahan dan penanganan kekerasan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan merupakan manifestasi dari komitmen kita terhadap nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap HAM.

”Pelatihan ini sebagai langkah konkret dan progresif dalam memperkuat kapasitas institusi kita. Para Wakil Dekan, tenaga kependidikan, serta Satgas PPK memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menciptakan sistem yang responsif, sensitif, dan berkeadilan dalam menangani berbagai kasus kekerasan di lingkungan USM,” ujarnya.

Dia menambahkan, kehadiran para calon duta kampus dan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menunjukkan USM tidak hanya membangun sistem, tetapi juga membangun agen perubahan sebagai generasi muda yang memiliki kesadaran kritis, empati sosial, dan keberanian untuk menjadi bagian dari solusi.

Baca Juga:  Tim Pengabdian USM Mengembangkan Kampung Tematik Kepoh Melalui Digital Marketing

”Kami berharap, melalui pelatihan ini terbangun pemahaman yang komprehensif mengenai bentuk dan dinamika kekerasan di lingkungan perguruan tinggi, tercipta keseragaman perspektif dan langkah dalam pencegahan dan penanganan kasus, serta lahir komitmen kolektif untuk menjadikan USM sebagai kampus yang aman, adil, dan berintegritas,” ungkapnya.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *