Berburu Keberkahan di Sendang Nyatnyono

UNGARAN (Awal.id) – Di daerah Ungaran, Kabupaten Semarang, terdapat sendang yang konon airnya tak akan habis walaupun di musim kemarau sekalipun. Air sendang itu juga diyakini membawa keberkahan.

Oleh Pemerintah Kabupaten Semarang sendang tersebut dikelola dan dijadikan destinasi wisata religi. Sendang tersebut bernama Sendang Nyatnyono, yang namanya sudah banyak dikenal masyarakat, khususnya di Pulau Jawa.

Sendang Nyatnyono merupakan sebuah sendang yang berada di Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Setiap hari Sendang Nyatnyono selalu ramai pengunjung. Rata-rata tujuan pengunjung datang ke lokasi ini untuk mandi demi menyegarkan badan. Namun, banyak pula pengunjung datang ke lokasi ini untuk  berburu keberkahan air Sendang Nyatnyono yang menjadi petilasan Syekh Hasan Munadi.

Baca Juga:  Biddokkes Polda Jateng Raih Penghargaan dari PT Jasa Raharja

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pengelola memisahkan tempat mandi untuk kaum laki-laki dan perempuan. Meskipun mandi dengan sesama jenis, tapi pihak pengelola menganjurkan pengunjung yang mandi agar memakai sarung atau tidak boleh telanjang.

“Saya sering ke sini setelah pulang dari kerja. Soalnya kan saya kuliah sambil kerja jadi tujuannya ke sini untuk menenangkan pikiran dengan hal-hal positif,” kata Ikhsan, seorang pemuda yang mengaku kerap mengunjungi Sendang Nyatnyono.

Kisah Syekh Hasan Munadi

Kata Nyatnyono sendiri berasal dari sebuah kisah Syekh Hasan Munadi yang mendapat petunjuk untuk mendirikan masjid. Saat akan meninggalkan lokasi pertapaannya, Syekh Hasan Munadi mendapat gambaran masjid, ada yang bilang kayu berlubang (beduk). Kemudian Syekh Hasan mengatakan ”nembe menyat wes ono” (baru selesai khalwat sudah ada petunjuk) yang kemudian berubah menjadi Nyatnyono.

Baca Juga:  Dialog Kebudayaan : Awalnya Ingin Kembalikan Aloon-aloon yang Hilang Malah Jadi Episentrum Baru

Syech Hasan Munadi adalah ulama berdarah biru keturunan Majapahit terakhir Brawijaya V. Karena itu, Syekh Hasan Munadi masih ada pertalian darah dengan penguasa Kerajaan Demak, Raden Fatah, yakni satu ayah lain ibu.

Kisah Syech Hasan Munadi ditulis dalam buku dengan judul ”Sejarah Waliyullah Hasan Munadi dan Hasan Dipuro”. Diceritakan, meski mempunyai jabatan tinggi di Kerajaan Demak, Hasan Munadi tetap berkeinginan melakukan syiar Islam ke seluruh pelosok Kerajaan Demak.

Baca Juga:  Serah Terima Jabatan PJU dan Kapolsek, Ini Pesan Kapolrestabes Semarang

Sepanjang perjalanannya, ajaran Islam terus disyiarkan kepada setiap orang yang bertemu. Hingga akhirnya Syekh Hasan Munadi sampai di kawasan kaki Gunung Ungaran, sebuah wilayah yang dulu dikuasai orang-orang sakti dan beda keyakinan. Karena itu, Syekh Hasan pun mengikhtiarkan diri bertapa di Gunung Suralaya, salah satu gunung di Gunung Ungaran.

Akses jalan ke Sendang Nyatnyono juga sangat mudah ditemukan, karena banyak petunjuk arah yang memandu pengunjung menuju Sendang Nyatnyono.

Dari pihak pengelola tidak mematok tarif untuk masuk ke Sendang Nyatnyono. Pengelola hanya menyediakan kontak infaq kepada pengunjung yang memasukkan uang untuk mendukung pengelolaan destinasi wisata riligi tersebut. (Muhammad Chanif)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *