Tingkatkan Ketahanan Pangan, Ferry Dorong Petani Jateng Terapkan Integrated Farming

SEMARANG (Awal.id) – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Ferry Wawan Cahyono mendorong petani Jateng untuk mengembangkan konsep integrated farming. Integrated farming yang menjadi konsep pertanian di masa depan ini telah terbukti menguntungkan, karena semua proses bertaninya saling berkaitan, baik tanaman pangan maupun peternakan.
“Konsep Integrated farming cocok dikembangkan di Jateng, dan wilayah Jateng rata-rata memiliki tinggi kesuburan tanah yang memungkinkan untuk menerapkan sistem pertanian masa depan ini,” kata Ferry Wawan Cahyono, di Semarang, Kamis (7/7).
Sekadar informasi, Integrated Farming system merupakan sistem pertanian dengan upaya memanfaatkan keterkaitan antara tanaman perkebunan, pangan, hortikultura, hewan ternak dan perikanan. Penerapan sistem ini untuk mendapatkan agro ekosistem, yang mendukung produksi pertanian (stabilitas habitat), peningkatan ekonomi dan pelestarian sumber daya alam.
Menurut Ferry, sejumlah daerah di Jateng, bahkan di tingkat desa, kini para petaninya sudah ada yang menerapkan integrated farming. Seperti para petani di Dusun Trayem, Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, misalnya, mereka sudah melakukan transformasi dalam bidang pertanian dengan menerapkan dan mengembangkan pertanian terintegrasi dengan beberapa usaha pertanian lainnya.
Dengan penerapan sistem pertanian secara terpadu dan serasi ini, lanjut Ferry, para petani jagung yang mengintegrasi dengan beberapa usaha pertanian lain, seperti padi, hortikultura, dan peternakan, mampu meningkatkan ekonomi keluarga. Di sisi lain, penerapan integrated farming secara menyeluruh di semua daerah ini bisa meningkatkan ketahanan pangan masyarakat Jateng.
Politikus dari Partai Golongan Karya (Golkar) Jateng ini menyebut model pertanian integrasi merupakan salah satu terobosan untuk meningkatkan produksi dan secara holistiknya, sehingga diharapkan bisa memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Integrated Farming bisa menjadi andalan para petani Jateng untuk menghadapi semua tantangan, khususnya masalah pangan dan ekonomi masyarakat,” paparnya.

Integrated farming menjadi pola baru dalam pengembangan pertanian di masa depan
Ferry menegaskan, integrated farming juga merupakan terobosan untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) padi. Dengan penerapan pola ini, lanjutnya, dalam setahun petani bisa menanam 4 kali padi atau dikenal IP400.
“Kalau poIa IP400 ini bisa dikembangkan lahan pertanian, produksi beras Jateng bisa naik dan tajam. Jateng bisa swasembaga beras, bahkan menyuplai daerah lain yang produksi berasnya mengalami kekurangan,” katanya.
Politikus Jateng asal daerah pemilihan Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Kebumen meminta Pemprov Jateng perlu melakukan mendampingi kepada para petani Jateng agar bisa menerapkan integrated farming.
Selain, sambung dia, Pemprov perlu memfalitasi semua kebutuhan dari para petani, mulai dari pemberian kredit usaha rakyat (KUR), pendampingi penerapan integrated farming, pemberian bibit, pemupukkan, pemeliharaan hingga penjualan hasil produksi.
Ferry menyakini jika para petani mendapat fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR), penerapan sistem integrated farming akan merata di setiap wilayah. Apalagi, KUR yang menjadi program pembiayaan/kredit bersubsidi pemerintah dengan bunga rendah. 100% dana KUR merupakan milik Bank/Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).
“Dana KUR ini memang diperuntukkan sebagai modal kerja serta investasi. Saya ajak para petani untuk memanfaatkan program pemerintah ini untuk mengembangkan usaha mereka,” ujarnya. (adv/anf)


















