Hari Kusta Dunia, Para Penyintas Berharap Stigmatisasi Dihilangkan

SEMARANG (Awal.id) – Dibutuhkan rekomendasi atau metodologi untuk memperbaiki dan menghilangkan kondisi terkait masih adanya stigmatisasi dan diskriminasi terhadap penyintas kusta.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memberi contoh, misalnya dalam tracing dan pencarian kasus bisa menggunakan teknologi. Juga lebih terbuka dengan berbagai media untuk pelaporan sehingga penyintas mau dan tidak malu untuk melapor.
“Kalau dulu kita mencari dan orang yang dicari tidak mau mengaku. Jauhi penyakitnya bukan orangnya karena penularan butuh intensitas tinggi, butuh jangka waktu lama dan intensitas ketemu tinggi,” ungkap gubernur usai membuka acara Hari Kusta Dunia tingkat Provinsi Jawa Tengah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Senin (31/1).
Dalam acara tersebut, Ganjar juga sempat berbincang dengan penyintas kusta, Firmansyah. Menurut Firmansyah, stigmatisasi terhadap penyintas kusta memang masih ada bahkan ia sendiri pernah mengalami. Mulai dari keluarga hingga masyarakat yang tidak mau mendekat karena takut ketularan. Stigmatisasi itu juga membuat penyintas merasa tambah sakit.
“Saya sendiri pernah merasakan minder, orang tidak mau mendekat karena takut tertular. Padahal penularan penyakit ini sendiri butuh waktu yang lama, inkubasinya bisa lima tahun,” ujar Firmansyah saat berbincang dengan Ganjar.
“Jadi saya berharap stigma diskriminasi terhadap penyintas kusta bisa dihapuskan,” tambah Firmansyah.
Pada kesempatan itu, Ganjar juga memaparkan langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan penanggulangan kusta, antara lain adalah pencarian kasus yang lebih intens, komunikasi dengan masyarakat dna puskesmas untuk deteksi secara langsung.
“Pemerintahan sampai level desa serta RT/RW bisa melaporkan kasus. Deteksi dini memang perlu maka kita butuh memberikan indikator atau gejala awal sehingga bisa cepat diketahui,” katanya. (is)




















