Mengenal Lebih Dalam Gelar Budaya Sendang Ndaru, Petirtaan Kalijaro Hingga Kini Masih Digunakan Masyarakat Karangjati

Sendang Ndaru
Sendang Ndaru

KARANGJATI (Awal.id) – Grup Kesenian Tari Tradisioanal Kali Jaro Taruno Mudo (X-JTM) sukses mementaskan Gelar Budaya Sendang Ndaru di Lingkungan Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, selama dua hari Jumat-Sabtu (29-30/10). Pada pementasan tahun ini, X-JTM mengusung tema “Memayu Bumi Pertiwi”.

Mengenal lebih jauh mengenai Sendang Ndaru atau Sendang Kalijaro adalah testis temporum. Saksi dari berlangsungnya rupa-rupa kehidupan manusia sejak zaman purba di kawasan Gunung Ungaran, tepatnya berada di wilayah Kelurahan Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

Di lokasi sumber air ini, pernah berdiri sebuah kolam pemandian suci kuno, biasa disebut dengan nama Petirtaan. Dalam kajian peradaban Jawa Kuno, keberadaan Petirtaan sangat berkaitan dengan penanda peradaban lainnya, seperti bangunan candi, arca, atau tinggalan arkeologi lainnya yang berasal dari masa klasik.

Adanya situs Petirtaan di sebelah timur Gunung Ungaran ini menunjukkan bahwa sekitar 1 milenium yang lampau, komunitas masyarakat Jawa Kuno sudah mulai terbentuk.

Baca Juga:  Berbagai Permintaan Anak Bajang Saat Tradisi Potong Rambut Gimbal pada Dieng Culture Festival 2022 

Sumber data epigrafi memberikan informasi bahwa masyarakat Jawa telah mengenal pembagian wilayah desa (wanua), biasanya desa-desa ini membentuk konfederasi yang terdiri dari satu desa induk dengan dikelilingi oleh empat atau delapan anak-desa atau kelipatannya, masing-masing menempati penjuru arah mata angin.

Kuratorial Gelar Budaya Sendang Ndaru, Tri Subekso menjelaskan Petirtaan ini dahulunya berhubungan dengan bangunan candi yang merupakan pola umum dalam pendirian bangunan suci masa klasik. Candi adalah tempat memuliakan dewa, sedangkan Petirtaan untuk mengambil air suci.

“Keberadaan Petirtaan ini sesungguhnya berhubungan erat dengan kisah Samudramanthana yang menceritakan upaya pencarian tirtha amerta, yaitu pemutaran lautan susu dan perjuangan para dewa melawan raksasa untuk memperoleh amerta (air kehidupan). Upaya ini menggunakan Gunung Mandara sebagai alat pengaduknya. Bangunan candi yang pernah berdiri di sekitar Kalijaro dapat disamakan dengan Gunung Mandara, sementara Petirtaan Kalijaro yang mengelilingi adalah lautannya,” papar Tri Subekso dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/10).

Tri Subekso (berpakaian Putih) Saat Melakukan Prosesi Pembukaan Gelar Budaya Sendang Ndaru

Tri Subekso (berpakaian Putih) Saat Melakukan Prosesi Pembukaan Gelar Budaya Sendang Ndaru

Menurut Tri Subekso, dalam perubahan peradaban memang memberikan dampak terhadap perubahan peranan dan fungsi petirtaan. Terlepas dari perubahan tersebut, tidak dapat disangkal bahwa petirtaan masih tetap eksis dan memiliki beberapa fungsi penting, antara lain berkaitan dengan nilai ekonomi, sosial, dan agama.

Baca Juga:  Valentino "The Doctor" Rossi Akhiri Karir Balap MotoGP

“Diketahui saat ini, Sendang Kalijaro atau Sendang Ndaru masih digunakan oleh masyarakat lokal sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun spiritual. Fungsi ini nyatanya terus melekat selama beratus-ratus tahun. Sendang yang masih menyisakan struktur batuan kuno tersebut telah bermetamorfosis menjadi alat memoria bagi masyarakat di lingkungan Karangjati. Kalijaro, kini menemukan tugas abadinya sebagai perpanjangan daya ingat manusia sepanjang masa,” papar Tri Subekso.

Baca Juga:  Gratifikasi Dorong ASN Bersikap Tak Profesional

Oleh sebab itu, tambah Tri Subekso, pengungkapan nilai-nilai luhur ini oleh pihak penyelenggara diterjemahkan melalui serangkaian kegiatan budaya daring pada tanggal 29-30 Oktober 2021, meliputi prosesi penempatan ancak di 13 titik penjuru wilayah Karangjati, seni pertunjukan berbagai genre, seni instalasi, pameran, dan diskusi budaya.

“Kegiatan budaya ini terasa istimewa, karena mengundang anak-anak berkebutuhan khusus untuk menampilkan karyanya, baik lewat seni panggung maupun pameran produk. Partisipasi perempuan dalam kegiatan ini dirasakan begitu kuat, terlihat dari pelibatan koreografer dan dalang perempuan, termasuk penciptaan karya tari yang menyajikan isu-isu perempuan. Sungguh, kiranya peristiwa budaya ini menjadikan kita makin mencintai bumi pertiwi, mendekapnya erat-erat, dan memaknainya bagi kemajuan harkat manusia,” tandas Tri Subekso. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *