Gubernur Ganjar Geram Dengar Laporan Perusahaan Besar Tidak Taat Prokes

Gubernur Ganjar Pranowo melihat pelaksanaan Jogo Tonggo mengantisipasi penyebaran Covid-19 di Desa Banyuputih, Jepara, Selasa (15/6)
Gubernur Ganjar Pranowo melihat pelaksanaan Jogo Tonggo mengantisipasi penyebaran Covid-19 di Desa Banyuputih, Jepara, Selasa (15/6)

JEPARA (Awal.id) – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo merasa geram saat mengecek penanganan Covid-19 di Jepara, khususnya di Desa Banyuputih Kecamatan Kalinyamatan. Desa ini merupakan salah satu desa yang masuk kategori resiko tinggi Covid-19. Di desa itu, ada 45 orang positif Covid-19 dan 5 diantaranya meninggal dunia.

Yang bikin gubernur geram adalah penyebab tingginya penyebaran Covid-19 di wilayah itu, yang diduga karena perusahaan-perusahaan besar yang ada di sana justru mengabaikan protokol kesehatan.

Seperti yang dilaporkan Petinggi Banyuputih, Joko Prakoso, kepada Gubernur Ganjar. Joko menerangkan, tingginya kasus Covid-19 di desanya salah satunya disebabkan karena dampak perusahaan-perusahaan besar. Di desanya itu, ada empat perusahaan besar dengan karyawan ribuan orang.

Kepada Ganjar, Joko meminta agar menegur perusahaan untuk memperketat protokol kesehatan. Sebab jika tidak, maka warganya terancam akan lebih parah.

Menanggapi aduan itu, Ganjar pun langsung memerintahkan Bupati Jepara, Dian Kristiandi yang mendampingi saat sidak, untuk segera melakukan penertiban. Semua perusahaan wajib memperketat protokol kesehatan.

“Siap bapak, langsung kami tindaklanjuti,” kata Dian.

Ganjar meminta Bupati segera menerbitkan surat edaran itu. Pihaknya juga akan memerintahkan dinas terkait untuk mengeluarkan surat edaran serupa.

“Bupati sudah merespon, maka kita minta dibuatkan surat edaran. Pemprov juga akan mengeluarkan kepada semua perusahaan di Jawa Tengah agar disiplin menjaga protokol kesehatan,” ujarnya.

Surat edaran itu, lanjut Ganjar, sebenarnya sudah diberikan tahun lalu. Tapi karena ada kejadian di Jepara ini, maka Ganjar akan kembali menekankan hal itu.

“Sebab kalau tidak, nanti repot semua. Ini Petingginya  yang repot, mereka tidak mendaapt informasi tentang karyawan yang ada dan tidak bisa mengontrol. Kalau tidak terkontrol seperti ini, maka akan membahayakan karena kita tidak tahu karyawan sebanyak itu membawa virus atau tidak,” tegasnya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *