Berhasil Tangani Stunting, Wali Kota Semarang Dapat Apresiasi Menteri PPPA

SEMARANG (Awal.id) – Keberhasilan Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu dalam menurunkan angka stunting di wilayahnya mendapat apresiasi dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Apresiasi Menteri PPPA ini disampaikan kepada wali kota perempuan pertama di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah (Jateng) seusai meresmikan Rumah Penanganan Stunting Lintas Sektor bagi Baduta (Rumah Pelita) di Kota Semarang, Selasa (21/2/2023).

“Saya apresiasi gercep (gerak cepat-red) Bu Wali dalam menangani kasus stunting di Kota Semarang. Kepedulian yang tinggi terhadap masalah kesehatan masyarakat perlu diacungi jempol,” kata Bintang Darmawati.

Menteri PPPA juga memuji langkah Mbak Ita, panggilan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu, dalam menyikapi isu stunting yang terjadi di Kota Semarang. Sebagai orang nomor satu di pemerintahan Kota Semarang, Mbak Ita dengan sigap melakukan blusukan ke kampung-kampung untuk mendata sekaligus memberi perhatian khusus terhadap anak penyandang stunting dan keluarganya.

Baca Juga:  Libur Nyepi dan Awal Puasa, KAI Daop 4 Semarang Siapkan 81 Ribu Tempat Duduk Kereta Api

Dengan pendekatan secara kekeluargaan ini, Menteri PPPA optimitis penurun angka stunting di Kota Semarang segera dapat diantisipasi dan ditekan semaksimal mungkin hingga 0 persen.

“Saya sangat yakin Mbak Ita bisa cepat mengatasi persoalan stunting di Kota Semarang. Dengan pengalamannya selama menjabat Wakil Wali Kota selama dua periode, masalah stunting yang menjadi penyebab ganjal tumbuh kembang anak bisa diberantas di Kota Semarang,” paparnya.

Menurut Bintang, upaya penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga pihak-pihak lainnya, di antaranya dunia usaha dan masyarakat.

Dia menyebutkan ada lima pilar yang menjadi dasar penanganan stunting, yaitu komitmen pimpinan, sosialisasi dan komunikasi, konvergensi dan koordinasi program pusat dan daerah, ketahanan pangan dan gizi, serta pemantauan evaluasi.

Baca Juga:  Usai Rapimnas, Relawan Samawi Merapat ke Rumah Prabowo

“Lima pilar itu kan jadi dasar mempercepat stunting. Sudah diatur dalam stranas. Lima pilar itu semuanya kolaborasi pusat dan daerah. Gerakan bersama dari pusat sampai daerah yang punya komitmen bersama. Semua itu mampu dilakukan Mbak Ita,” paparnya.

Sementara Mbak Ita menjelaskan dalam menangani stunting anak, pihaknya juga menghadirkan Rumah Pelita yang menjadi terobosan penanganan stunting dari hulu ke hilir. Penanganan stunting dimulai dari pemberian pola asuh, penanganan gizi, sanitasi, dan lain-lain.

“Selain diperuntukkan bagi anak stunting, Rumah Pelita juga mewadahi pelayanan bagi ibu hamil yang mengalami anemia dan kekurangan energi kronis (KEK). Ada 10 anak stunting dan 8 ibu hamil yang ditangani di Rumah Pelita,” ujar wali kota yang gemar berorganisasi ini.

Baca Juga:  Hati-hati! Varian Covid-19 India Ditemukan di Kudus

Politisi PDI Perjuangan ini menjelaskan Rumah Pelita Semarang memiliki pengasuh, dokter anak, psikolog, serta juru masak. Dengan melibatkan elemen-elemen yang berkompeten ini diharapkan penderita stunting bisa dimonitor IQ, motorik, dan gizinya.

Demikian pula, lanjut dia, terhadap kondisi ibu hamil. Asupan gizi yang dikonsumsi ibu hamil bisa dipantau dan dijaga, sehingga perkembangan janin/calon bayi yang dikandungnya selalu dapat dimonitor oleh petugas kesehatan.

Mbak Ita yang juga menjadi penggagas urban farming menegaskan konsep ini bakal diterapkan di kecamatan-kecamatan lain agar kasus stunting di Ibu Kota Jawa Tengah bisa segera dituntaskan. Pasalnya, saat ini masih ada 1.364 baduta stunting di Semarang.

“Melalui inovasi ini, saya berharap Kota Semarang zero stunting pada 2023,” tandas Mbak Ita.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *