Binaraga Semarang Gagal Raih Medali Emas, Regenerasi Atlet Jadi Tantangan

SALATIGA (Awall.id) – Tim Binaraga Kota Semarang gagal mengulang pencapaian Porprov XVI Jateng 2023 saat meraih dua medali emas.

Pada Porprov Jateng 2026, tim Binaraga Kota Semarang harus puas meraih dua medali perak dan dua medali perunggu dalam ajang yang berlangsung di Aula Dinas Perkebunan Salatiga, pada Sabtu (24/10/2026).

Medali perak diraih pada kelas Binaraga 75 kg dan kelas binaraga 90+. Sedangkan medali perunggu diraih pada kelas binaraga 70 kg dan kelas 85 kg.

Pengurus Cabang Persatuan Binaraga Fitness Indonesia (Pengcab PBFI) Kota Semarang, Puryanto Suwito mengakui belum mampu mempersembahkan medali emas pada ajang Porprov XVII Jawa Tengah 2026. Hasil tersebut tak lepas dari proses regenerasi atlet yang tengah dijalankan.

Pihaknya mengatakan, pembatasan usia menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi kontingennya. Sejumlah atlet senior yang sebelumnya menjadi andalan tidak bisa lagi diturunkan karena faktor usia.

Kondisi tersebut membuat PBFI Kota Semarang memilih memberikan kesempatan kepada atlet-atlet muda untuk tampil di ajang olahraga empat tahunan tersebut.

Baca Juga:  Pacu Penuntasan RTLH, Tahun Depan Pemprov Tingkatkan Dana Bankeupemdes

“Memang tahun ini kita proses regenerasi. Atlet-atlet senior sudah tidak bisa ikut karena batasan usia. Jadi, kita mengambil bibit-bibit junior,” ujar pria yang akrab disapa Pak Mbing tersebut.

Menurut dia, penampilan para atlet muda Kota Semarang sebenarnya cukup baik. Namun, persaingan dengan kontingen daerah lain berlangsung ketat, terlebih sejumlah kota yang sebelumnya tidak terlalu diperhitungkan kini mulai memiliki bibit atlet potensial.

“Anak-anak cukup bagus penampilannya. Memang lawannya juga bagus, persaingannya cukup ketat,” terangnya.

Puryanto mengakui, proses regenerasi membuat Kota Semarang kehilangan sejumlah peluang untuk meraih medali emas. Salah satunya pada kelas 55 kilogram yang sebelumnya menjadi andalan.

Selain itu, jumlah nomor yang diikuti kontingen Kota Semarang juga mengalami pengurangan. Jika sebelumnya mampu berpartisipasi di 11 kelas, kali ini hanya tujuh kelas yang diikuti, yakni 55, 70, 75, 80, 85, 90, dan 95 kilogram.

Baca Juga:  Di Jateng Ada Jogo Tonggo, di Papua Ada Sa Jaga Ko

Berkurangnya jumlah kelas tersebut turut memengaruhi peluang Kota Semarang dalam perburuan medali.

“Di kelas 55 kilogram, dulu kita yang memegang. Namun, karena regenerasi, hasilnya belum sesuai harapan. Dulu kita ikut 11 kelas, sekarang hanya tujuh kelas,” jelasnya.

Meski belum berhasil meraih emas, Puryanto menilai hasil yang diperoleh akan menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk membangun kekuatan baru. Ia menegaskan, regenerasi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar Kota Semarang kembali mampu bersaing di seluruh kelas.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mencari atlet potensial dari berbagai pusat kebugaran atau fitness. Menurut dia, pembinaan tidak bisa hanya menunggu atlet datang, tetapi harus dilakukan melalui pendekatan langsung.

“Kita harus mencari bibit-bibit yang bagus. Kalau perlu, kita keliling ke tempat-tempat fitness. Kalau tidak jemput bola, kita tidak bisa maju. Atlet yang potensial kita tawari dan kita jelaskan prosedurnya,” ungkapnya.

Baca Juga:  Tim Intelijen Kejaksaan Agung Tangkap Buronan Limantoro Santoso

Selain regenerasi, Puryanto menekankan pentingnya kedisiplinan dan pemenuhan kebutuhan nutrisi dalam pembinaan atlet binaraga. Menurut dia, prestasi tidak cukup dibangun melalui latihan keras, tetapi juga membutuhkan pola makan yang baik dan dukungan suplemen sesuai kebutuhan atlet.

Ia menilai binaraga saat ini telah berkembang menjadi olahraga yang membutuhkan dukungan biaya dan persiapan serius, termasuk untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

Ke depan, PBFI Kota Semarang menargetkan dapat kembali menurunkan atlet secara penuh di 11 kelas yang dipertandingkan. Dengan regenerasi dan pembinaan yang lebih terarah, pihaknya berharap muncul atlet-atlet muda yang mampu mengembalikan dominasi Kota Semarang di cabang olahraga binaraga.

“Kita harus regenerasi lagi dan mencari bibit-bibit baru. Harapannya, ke depan bisa kembali full team, sehingga 11 kelas bisa kita ikuti,” tandasnya.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *