Tak Sekedar Lewat, Astrapay Bangun Pola Harian Tak Sia-sia Pergi

FOTO ISTIMEWA : Ahmad (25) menunjukkan penggunaan aplikasi AstraPay di ponselnya sebagai sarana mengelola kebutuhan finansial sehari-hari secara lebih bijak, cepat, dan efisien di era digital.

SEMARANG (Awall.id) – Ahmad (25) tahu betul rasanya hidup di antara dua tuntutan sekaligus, menjadi mahasiswa dan tetap harus bekerja untuk bertahan.

Di Semarang, kota yang bergerak cepat tanpa menunggu siapa pun, ia belajar satu hal lebih awal dari materi kuliah apa pun, uang tidak pernah cukup jika tidak diatur sejak awal.

Setiap hari ritme hidupnya nyaris seragam, pagi kuliah, siang atau sore bekerja, malam mengerjakan tugas.

Di sela-sela itu, ada satu kebiasaan yang tidak pernah ia lewatkan, yaitu mengecek kondisi keuangan, memastikan sisa uangnya masih masuk akal hingga akhir bulan.

Menurutnya, hidup hemat bukan pilihan gaya hidup, melainkan kebutuhan. Ia tumbuh dari keluarga sederhana yang sejak awal tidak memberi ruang untuk kelonggaran dalam urusan uang, tidak ada istilah “nanti saja”, apalagi “kalau ada lebih”.

Karena itu, sejak mulai bekerja sambil kuliah, ia terus mencari cara agar uangnya tidak sekadar habis, tetapi punya arah yang jelas.

Perubahan itu datang perlahan, dari sekian banyak aplikasi keuangan digital, Ahmad akhirnya memilih AstraPay sebagai salah satu alat bantu mengatur pengeluaran sehari-hari.

Awalnya sederhana, ia hanya menggunakan AstraPay untuk membayar cicilan sepeda motor. Namun dari satu kebutuhan itu, kebiasaan baru mulai terbentuk.

Pelan-pelan, ia memindahkan berbagai transaksi ke satu platform seperti isi ulang token listrik, pembelian bahan bakar, hingga kebutuhan harian lain yang sebelumnya tersebar di banyak tempat.

Baca Juga:  Kembangkan Pascasarjana, USM Collaborative Synergy Rangkul Stakeholder dan Pers

“Dulu saya sering lupa ke mana uang habis. Sekarang lebih kelihatan polanya,” ujarnya.

Bagi sebagian orang ini sekadar soal kepraktisan, namun bagi Ahmad, ini soal kendali.

“Kalau semua tercatat di satu tempat, saya lebih mudah melihat ke mana uang saya pergi,” ujarnya, Selasa (30/6).

Namun yang membuatnya bertahan bukan hanya pencatatan transaksi, namun ada hal lain yang ia rasakan lebih nyata poin, voucher, dan potongan harga yang muncul dari setiap transaksi.

Di tengah biaya hidup yang ketat, keuntungan kecil seperti cashback atau voucher bukan sekadar bonus.

“Tidak besar memang, tapi cukup membantu kalau lagi mepet,” kata Ahmad.

Itu menjadi ruang napas tambahan yang terasa di akhir bulan, Ahmad tidak menganggapnya sebagai pemasukan. Tapi ia tahu, selisih kecil itu bisa menentukan kondisi keuangan saat mendekati tanggal tua.

Dalam kesehariannya, hampir tidak ada pengeluaran yang benar-benar spontan. Bahkan untuk kebutuhan rutin seperti BBM atau listrik, ia tetap mempertimbangkan cara paling efisien untuk membayarnya.

Di titik ini, AstraPay bukan lagi soal aplikasi pembayaran saja, melainkan sudah menjadi bagian dari sistem kecil yang Ahmad bangun untuk dirinya sendiri, sebuah cara bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi.

Baca Juga:  Satlantas Polrestabes Semarang Gelar Operasi Patuh Candi 2021 dan Razia Vaksin

Fenomena seperti yang dialami Ahmad sejalan dengan perubahan perilaku keuangan generasi muda di Indonesia.

Katadata Insight Center (KIC) mencatat layanan financial technology berbasis dompet digital menjadi yang paling dikenal masyarakat, dengan tingkat keterkenalan mencapai 94,6 persen.

Penggunanya didominasi kelompok usia produktif: 63,3 persen milenial, 32,7 persen Gen Z, dan 4 persen Generasi X.

Angka tersebut menunjukkan bahwa dompet digital telah menjadi bagian dari keseharian finansial masyarakat, terutama generasi muda.

Hal ini juga diperkuat oleh riset Ipsos Indonesia bertajuk Digital Wallet Research 2026: User Behavior & Competitive Landscape. Dalam riset tersebut, dompet digital digunakan untuk berbagai kebutuhan harian: 86 persen untuk belanja online, 77 persen untuk makanan dan minuman, 69 persen untuk pembayaran tagihan seperti listrik dan internet, serta 68 persen untuk transfer antar rekening bank.

Data ini menunjukkan bahwa dompet digital kini tidak lagi berada di pinggiran sistem keuangan, tetapi sudah menjadi bagian inti dari aktivitas finansial sehari-hari.

Di tengah perubahan itu, AstraPay mencatat pertumbuhan signifikan. CEO AstraPay, Rina Apriana, menyebut perusahaan telah memiliki lebih dari 17,5 juta pengguna dengan lebih dari 150 juta transaksi, serta gross transaction value (GTV) mencapai Rp155 triliun.

Baca Juga:  KA di Daop 4 Semarang Dipadati 39 Ribu Penumpang Saat Awal Ramadhan

“Kalau secara persentase, kontribusi Jawa Timur sekitar 20 sampai 30 persen dari nasional. Beberapa kota seperti Malang tidak memiliki kendala dalam penggunaan digitalisasi. Edukasi konsumennya juga cukup baik,” ujar Rina, baru-baru ini.

Untuk memperluas jangkauan, AstraPay terus mengembangkan ekosistem melalui kemitraan strategis, penguatan penggunaan QRIS, serta dukungan terhadap pelaku UMKM agar lebih mudah mengakses transaksi digital.

Di balik angka-angka besar itu, ada realitas yang lebih sederhana seperti yang dijalani Ahmad.
Bagi dirinya teknologi bukan soal tren atau gaya hidup digital, Ini soal bertahan sampai akhir bulan tanpa harus panik menghitung sisa uang.

Ia tidak sedang membangun sistem keuangan yang rumit. Ia hanya memastikan satu hal agar uangnya tidak habis tanpa jejak.

“Yang penting cukup sampai akhir bulan,” katanya singkat.

Di balik layar ponsel yang terus ia gunakan setiap hari, Ahmad sedang membangun disiplin kecil yang perlahan membentuk cara ia memandang uang.

Bukan disiplin yang terdengar besar atau teoritis, tetapi kebiasaan sederhana yang muncul dari keputusan-keputusan kecil.

Dan di kota yang terus bergerak cepat, justru kebiasaan kecil seperti itulah yang membuatnya tetap bisa bertahan.

Karya : Lia Wahyu A

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *