UPGRIS Dukung Pemulihan Pendidikan Pascabanjir Lewat Program Internasional di Thailand Selatan

HAT YAI (Awall.id) – Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) membuktikan bahwa internasionalisasi tidak hanya berfokus pada mobilitas akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Program PPL Internasional dan KKN Internasional di Thailand Selatan yang mendukung pemulihan proses pembelajaran di sekolah-sekolah terdampak banjir bekerja sama dengan Al Hidayah Foundation.

Program yang merupakan implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar internasional bagi mahasiswa, tetapi juga menghadirkan kontribusi langsung bagi sekolah dan masyarakat di wilayah Hat Yai dan sekitarnya.

Pascabanjir yang melanda sejumlah kawasan pendidikan, beberapa sekolah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari terganggunya aktivitas belajar, terbatasnya media pembelajaran, hingga menurunnya motivasi peserta didik. Kondisi tersebut mendorong UPGRIS bersama mitra internasional menyusun berbagai program yang berorientasi pada pemulihan pendidikan.

Selama pelaksanaan program, mahasiswa UPGRIS melakukan praktik mengajar, membantu penataan kembali ruang belajar, menyelenggarakan kegiatan literasi, permainan edukatif, pembelajaran berbasis proyek, hingga memberikan pendampingan akademik dan psikososial kepada siswa.

Baca Juga:  Antisipasi Banjir, Upaya Serius Terus Dilakukan Pemkot Semarang

Kehadiran mahasiswa tidak hanya membantu guru dalam proses pembelajaran, tetapi juga menghadirkan semangat baru bagi para siswa yang mulai kembali menjalani aktivitas belajar setelah bencana.

Rektor UPGRIS, Dr. Sri Suciati, M.Hum., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk melalui program internasional.

“Internasionalisasi harus memberikan dampak yang dapat dirasakan masyarakat. Melalui PPL Internasional dan KKN Internasional, mahasiswa tidak hanya belajar di luar negeri, tetapi juga menjadi bagian dari solusi dalam mendukung pemulihan pendidikan pascabencana. Inilah makna sesungguhnya dari kerja sama internasional yang berdampak,” ujarnya.

Program tersebut juga menjadi implementasi model IPCSA 5E yang dikembangkan UPGRIS dalam penguatan kerja sama internasional berbasis Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pada aspek Education, mahasiswa memperoleh pengalaman mengajar secara langsung di sekolah mitra.

Exchange diwujudkan melalui pertukaran budaya, pengalaman, dan praktik pembelajaran antara Indonesia dan Thailand. Sementara Engagement tercermin dari kolaborasi mahasiswa, guru, masyarakat, dan Al Hidayah Foundation dalam menyusun kegiatan sesuai kebutuhan sekolah.

Baca Juga:  Kongres III Nasdem Digelar Agustus, Dibuka Jokowi dan Ditutup Prabowo

Aspek Empowerment diwujudkan melalui pemberdayaan sekolah agar mampu kembali menjalankan proses pembelajaran secara optimal.

Adapun Employability diperkuat melalui pengalaman mahasiswa bekerja di lingkungan multikultural, menyelesaikan persoalan nyata, serta mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan komunikasi lintas budaya.

Kepala UPT Kerja Sama dan Urusan Internasional (KUI) UPGRIS, Dr. Nur Hidayat, M.Hum., mengatakan kerja sama dengan Al Hidayah Foundation tidak hanya berorientasi pada mobilitas mahasiswa, tetapi juga pada pengembangan program yang memberikan dampak sosial.

“Kami bersama Al Hidayah Foundation memiliki visi yang sama bahwa kerja sama internasional harus menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, seluruh kegiatan dirancang berdasarkan kebutuhan sekolah dan diarahkan untuk mendukung proses pemulihan pendidikan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Salah seorang guru mitra di Hat Yai mengaku sangat terbantu dengan kehadiran mahasiswa UPGRIS.

“Anak-anak kembali bersemangat mengikuti pelajaran karena mahasiswa UPGRIS menghadirkan metode belajar yang menyenangkan. Selain membantu proses belajar mengajar, mereka juga memberikan motivasi kepada siswa untuk kembali percaya diri setelah menghadapi situasi sulit akibat banjir,” tuturnya.

Baca Juga:  Event Internasional ASEDAS ke-4 Digelar di Binus University Semarang, Arnaz Sambut Positif

Bagi para mahasiswa, program tersebut menjadi pengalaman berharga yang memperluas wawasan sekaligus memperkuat nilai-nilai pengabdian.

Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa pengalaman berinteraksi langsung dengan siswa dan guru di Thailand Selatan membuatnya memahami bahwa pendidikan memiliki kekuatan untuk memulihkan harapan masyarakat pascabencana.

“Kami belajar bahwa seorang pendidik tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memiliki peran sosial untuk membantu masyarakat bangkit dari berbagai tantangan. Pengalaman ini mengajarkan arti pengabdian, empati, dan kolaborasi internasional,” katanya.

Melalui kolaborasi bersama Al Hidayah Foundation, UPGRIS menunjukkan bahwa kerja sama internasional dapat menjadi instrumen yang menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat.

Program PPL Internasional dan KKN Internasional di Hat Yai tidak hanya memperkuat implementasi MBKM serta jejaring pendidikan global, tetapi juga menjadi bukti nyata penerapan nilai-nilai IPCSA 5E dalam menghadirkan dampak kemanusiaan, akademik, dan sosial secara berkelanjutan.***

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *