Ferry Minta Kasus Kebakaran Pabrik Pupuk CV Saprotan Utama agar Jadi Kajian untuk Penyusunan Tata Ruang

Ferry Wawan Cahyono, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah.

SEMARANG (Awal.id) – Kebakaran hebat yang melanda Pabrik Pupuk CV Saprotan Utama, Jalan Raya Semarang – Purwodadi, Demak, Kamis pekan lalu (21/7), mendapat sorotan tajam dari Wakil Ketua DPRD Jateng Ferry Wawan Cahyono.

Menurut Ferry, kebakaran itu tidak hanya merusak bangun pabrik pupuk itu saja, tapi juga membuat bangunan lain, yakni RS Pelita Indah Mranggen yang berdekatan dengan pabrik pupuk CV Saprotan Utama ikut terkena getahnya.

Dari informasi yang diterimnya, sedikitnya tiga bangunan milik rumah sakit swasta itu rusak akibat terkena imbas ledakan dari drum yang berisi bahan kimia.

Yang memprihatinkan, lanjut dia, puluhan pasien RS Pelita terpaksa harus dievakuasi dari ruang perawatannya, lantaran asal dan bau gas yang terbakar itu telah memenuhi ruangan pasien. Evakuasi cepat ini memang harus segera dilakukan, karena asap yang ditimbulkan dari gas yang terbakar sangat membahayakan keselamatan pasien rumah sakit tersebut.

Baca Juga:  "Nostalgiveus" Konser Musik, Ajak Warga Kota Semarang Kembali ke Tahun 2000-an

Politikus asal Partai Golongan Karya ini memberikan apresiasi atas kesigapan aparat kepolisian dalam menjaga kondisi lokasi kebakaran dari kerumunan massa. Di lain pihak, Ferry juga memuji kecepatan petugas Pemadam Kebakaran (Damkar), sehingga kobaran api yang melalap pabrik pupuk dapat segera dipadamkan.

Kendati kobaran api dapat dipadamkan, menurut Ferry, masyarakat harus menjauhi lokasi kebakaran tersebut, Masalahnya, bau gas yang terbakar itu masih meninggalkan bau menyengat yang dapat mengganggu pernafasan orang-orang yang berada di dekat lokasi kebakaran.

“Bahkan, bau gas itu bisa tercium pada radius 1 kilometer. Untuk itulah, Pemerintah Kabupaten Demak menginstruksikan masyarakat agar menjadi dari kawasan tempat kebakaran.

Baca Juga:  Pengungsi Banjir Cilacap Pulang, Diminta Tetap Siaga

“Kalau melintasi ke jalur itu, para pengendara ya harus memakai masker. Bau gas kan masih menyengat, sehingga masyarakat perlu waspada untuk menghindari pengaruh negative dari kebakaran gas itu untuk menjaga kesehatannya,” papar Ferry.

Tata Ruang Kurang Terorganisasi

Di sisi lain, Ferry lain menilai tata ruang yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Demak kurang memperhatikan dampak lingkungan. Akibat tata kota yang buruk, pola penataan perencanaan yang terorganisasi untuk sebuah kota dalam membangun sarana dan prasarananya, menjadi campur aduk.

“Bagaimana bisa lokasi pabrik pupuk berdekatan dengan rumah sakit. Pabrik kan banyak menimbulkan polusi, seperti polusi suara (kebisingian suara mesin), polusi bau (pemakain zat-zat yang menimbulkan bau menyengat dan polusi udara,” katanya.

Baca Juga:  Jaksa Agung RI Setujui Empat Perkara Diselesaikan Melalui Restorative Justice

Sebaliknya, sambung dia, rumak sakit membutuhkan suasana yang hening dari hiruk pikuk suara, dan kebersihan lingkungan. Ketentram ini dibutuhkan pasien rumah sakit, untuk mempercepat kesembuhan dari penyakit yang dideritakan.

Untuk itulah, politisi asal daerah pemilihan Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Kebumen meminta agar masalah perizinan terkait pendirian pabrik pupuk agar ditinjau ulang.

“Saya kira tata ruang di Kabupaten Demak perlu dikaji ulang. Kasus kebakaran ini perlu dijadikan acuan untuk Menyusun tata ruang yang lebih baik, sehingga antarinstansi tidak bertabrakan kepentingan. Kalau perlu ada kawasan khusus lagi untuk menampung pabrik-pabrik atau industri dalam satu tempat,” tandasnya. (adv/anf)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *