Begini Modus Penipuan Royalti Musik di Youtube!
Semarang (Awal.id) – Media musik Billboard pernah mengungkap penipuan klaim royalty musik terbesar melalui Youtube. Kerugian akibat penipuan ini diberitakan mencapai 23 Juta Dollar AS atau sekitar Rp. 338 Miliar.
Billboard menguak perusahaan fiktif bernama MediaMuv yang didakwa atas tuduhan melakukan penipuan, pencucian uang, konspirasi, pencurian identitas dan banyak lagi. Targetnya adalah para musisi independen yang tidak memiliki manajemen sendiri. Mereka mengunggah karya video musik ke Youtube tanpa menyadari royalti hak mereka diambil pihak lain.
Dalam proses persidangan di Amerika Serikat, terbongkarlah modus penipuan klaim royalty musik di Youtube.
Terdakwa Jose Chenel Medina Teran dan Webster Batista pertama membuat sebuah perusahaan media fiktif yang mereka namakan MediaMuv. MediaMuv mengaku sebagai perusahaan yang memiliki klaim hak cipta dari konten-konten musik (latin) di Youtube.
Untuk melancarkan aksi penipuannya, MediaMuv memerlukan akses CMS dan ID konten Youtube. Data-data ini didapatkan dari AdRev, setelah sebelumnya MediaMuv mengirimkan data-data palsu untuk membuktikan mereka adalah pemegang hak cipta yang sah kepada AdRev..
AdRev sendiri adalah perusahaan Digital Rights Management yang telah bekerja sama dan dipercayai pihak Youtube untuk mengelola pengumpulan data royalty konten di Youtube.
Tanpa pihak AdRev sadari, mereka telah membantu MediaMuv mengumpulkan data rahasia para kreator musik sehingga terdakwa Teran dan Batista dapat mengklaim royalti hak cipta itu sendiri.
Mereka sudah mengklaim sebanyak lebih dari 50.000 hak cipta.
Para kreator musik independen, apalagi yang tidak memiliki publisher/management sendiri, tidak akan menyadari juga bahwa hak mereka telah diambil pihak lain. Karena aksi penipuan semacam ini sulit terdeteksi.
Kasus ini mulai terbongkar semenjak istri terdakwa Batista yang bernama Omeida Yadira diperiksa pihak lembaga yang mengurusi Pajak di AS.
Yadira membeli rumah mewah seharga 590.000 Dollar AS secara cash. Hal ini menggiring pelacakan ke sumber uang yang ternyata dibayarkan oleh perusahaan bernama MediaMuv.
Sampai artikel ini dibuat, belum ada pernyataan lanjutan dari Youtube mengenai kasus ini. (dust)



















