Ferry Imbau Pemerintah Daerah Rutin Gelar Simulasi Bencana

SEMARANG (Awal.id) – Gempa bermagnitudo (M) 5,2 mengguncang Laut Jawa, Jawa Tengah, Senin malam (15/8). Geteran gempa ini dirasakan masyarakat di wilayah Karimun Jawa hingga Jepara.
Untuk mencegah jatuhnya korban nyawa dan kerusakan bangunan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara mengimbau pengelola gedung perkantoran untuk rutin menggelar simulasi gempa ataupun kebakaran sebagai mitigasi bencana.
Simulasi bencana yang merupakan sarana edukasi dan sosialisasi ini perlu dilakukan agar masyarakat dapat menambah pengetahuannya di bidang bencana, sehingga selalu siap saat menghadapi bencana. Selain itu, masyarakat bisa mengetahui tindakan yang mereka dilakukan saat proses evakuasi terjadi serta dapat menyebarluaskan informasi terkait kebencanaan.
Berdasarkan indentifikasi dan sosialisasi rawan bencana di Jateng pada tahun 2021 menyebutkan 32 kabupaten/kota di Jawa Tengah (91,42%) rawan terjadi bencana banjir, 29 kabupaten/kota (82,85%) rawan bencana longsor.
Bahkan ada pula beberapa kabupaten/kota yang tidak hanya rawan dengan bencana banjir dan longsor, tetapi juga bencana tsunami, gunung berapi, gas beracun, puting beliung, dan gempa bumi.
Wakil Ketua DPRD Jateng menyambut baik langkah BPBD datang untuk menggelar simulasi kebencanaan secara rutin kepada masyarakat. Melalui edukasi dan sosialisasi ini, masyarakat bisa mengetahui mitigasi bencana, sehingga mereka bisa melakukan upaya untuk mencegah jatuhnya korban dan meminimaliser kerugian.
Politikus asal Partai Golongan Karya (Golkar) Jateng ini mengakui sejumlah perusahaan dan pemerintah daerah sudah beberapa kali menggelar simulasi kebencanaan. Namun, kuantitas kegiatan ini masih perlu ditingkatkan lagi agar seluruh warga Jateng bisa memiliki kemampuan mitigasi bencana, baik gempa bumi maupun bencana tsunami.
“Edukasi dan sosialisasi soal kebencanaan kepada masyarakat sangat penting. Dengan semakin banyaknya pengetahuian soal kebencanakan masyarakat kita tidak gagap saat terjadi bencana. Selain bisa menolong dirinya dan keluarga, mereka bisa membantu orang lain saat musibah itu terjadi,” kata Ferry Wawan Cahyono di Semarang, Selasa (16/8).
Dia berharap dengan rutinitas simulasi gempa tersebut masyarakat akan teringat ketika terjadi bencana itu, sehingga mereka memiliki naluri untuk menyelamatkan diri sesuai simulasi yang diikutinya.

Ketua DPD MKGR Jateng ini meminta simulasi bencana jangan hanya dilakukan setahun sekali, yakni setiap pelaksanaan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB). Namun, kegiatan ini perlu ditingkatkan jumlahnya, sehingga masyarakat selalu ingat terhadap Langkah-langkah mitigasi bencana, yakni sebelum, pada saat dan sesudah bencana.
Selain mitigasi, menurut politikus asal daerah pemilihan Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Kebumen ini, anggota masyarakat perlu memiliki pengetahuan tentang karakteristik bencana.
“Dengan mengetahui karakteristik suatu bencana, kita akan lebih mudah dalam melakukan upaya tanggap darurat dan penanggulangan suatu bencana,” jelasnya.
Untuk itulah, Ferry meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) dan dinas-dinas terkait agar proaktif untuk memberikan pengetahuan soal kebencanaan terhadap masyarakat. Dengan pengetahuan yang dimilikinya, pemprov bisa melibatkan peran serta masyarakat dalam penanggulangan bencana alam.
“Partisipasi masyarakat dalam mitigasi ini sangat dibutuhkan, khususnya untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. Jika mayarakat banyak yang memahami soal kebencaan, nantinya saat terjadi bencana, resiko yang ditimbulkan dapat kita tekan sekecil mungkin,” paparnya.
Menurut Ferry, peran masyarakat pada terjadi bencana antara lain memberikan informasi kejadian bencana ke BPBD atau iInstansi terkait, melakukan evakuasi mandiri, melakukan kaji cepat dampak bencana, dan berpartisipasi dalam respon tanggap darurat sesuai bidang keahliannya.
Untuk membentuk masyarakat yang tangguh dalam mengantisipasi bencana, kata Ferry, dibutuhkan keseriusan, perhatian dan peran pemerintah untuk memberikan pendidikan dalam penanggulangan bencana terhadap warganya.
Dengan pendidikan yang baik, sambung dia, tentu dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di dalamnya.
“Perhatian terhadap situasi kebencanaan juga perlu diperhatikan dalam pendidikan. Hal ini untuk menanamkan kesadaran sejak dini akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana,” tandasnya. (adv/anf)



















