Museum Kereta Api Ambarawa, Mengenal Sejarah Sambil Naik Lokomotif Uap Klasik

AMBARAWA (Awal.id) – Anda penyuka wisata sejarah? Di Ambarawa, Kabupaten Semarang, ada sebuah tempat berupa museum, yaitu Museum Kereta Api Ambarawa yang bisa menjadi rujukan destinasi wisata sejarah.

Selain menjadi tempat belajar, di museum ini juga dapat menjadi objek wisata yang menawarkan ilmu serta spot foto yang sangat menarik, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan.

Bukan itu saja, selain menjadi tempat wisata sejarah, museum ini dapat disewa untuk kegiatan lain seperti pameran, pemotretan, shooting, pesta pernikahan, festival, bazar, pentas seni, dan workshop. Karena di tempat ini memang disediakan ruang pertemuan.

Para pengunjung juga dapat menikmati perjalanan wisata dengan menaiki Kereta Api Wisata relasi Ambarawa – Tuntang (PP) dengan lokomotif penarik jenis lokomotif uap maupun kereta diesel vintage.

Selain itu terdapat rute kereta Api Wisata Ambarawa – Jambu-Bedono (PP) yang menggunakan lokomotif uap bergigi yang melewati rel bergerigi. Rel bergerigi tersebut satu-satunya yang masih aktif di Indonesia.

SPOT FOTO: Di sekitar area Museum Kereta Api Ambarawa banyak spot foto yang bisa dimanfaatkan untuk mendokumentasikan kunjungan

SPOT FOTO: Di sekitar area Museum Kereta Api Ambarawa banyak spot foto yang bisa dimanfaatkan untuk mendokumentasikan kunjungan

Sejarah Museum

Baca Juga:  Terima Penghargaan Desa Wisata, Pemdes Jungsemi Geratiskan Sekolah dan Sejahterakan Guru

Museum Kereta Api Indonesia (Indonesian Railway Museum) awalnya adalah sebuah stasiun yang bernama Stasiun Willem I. Stasiun ini dibangun oleh Nedherlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang diresmikan pada tanggal 21 Mei 1873 bersamaan pembukaan lintas Kedungjati – Ambarawa tahun 1907.

Ambarawa dapat dikatakan kota militer. Keberadaan kota ini menyokong kota garnizum Magelang guna mengontrol daerah pedalaman. Pada tahun 1835 dibangun sebuah komplek benteng besar yang berhasil dirampungkan tahun 1848. Benteng terbesar di Jawa tersebut diberi nama Willem I, mengingat pembangunan banteng dilaksanakan pada masa pemerintahan Raja Willem I.

Pada tahun 1873 dibangun jaringan kereta api di Ambarawa oleh perusahaan kereta api swasta Nedherlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Pembangunan tersebut merupakan syarat yang harus dipenuhi NISM guna mendapatkan izin konsensi pembangunan jalur kereta api pertama Semarang – Vorstenlanden (Solo – Yogyakarta). NISM diwajibkan membangun jalur kereta api cabang lintas Kedungjati – Ambrawa sepanjang 37 km guna keperluan militer.

Baca Juga:  Wisata Persawahan Svarga Bumi, Melancong Sambil Melihat Aktivitas Petani

Sebagai tempat pemberhentian akhir dibangun Stasiun Willem I (Stasiun Ambarawa). Kuat dugaan, penamaan Willem I mengacu kepada Benteng Willem I yang berada tidak jauh dari stasiun.

Pada 1 Februari 1905 dilanjutkan pembangunan jalur kereta api ke Secang – Magelang yang terdapat jalur kereta khusus, rel bergerigi. Dua tahun berselang, bangunan Stasiun Ambarawa direnovasi dengan mengganti material yang semula berupa kayu dan bambu menjadi batu bata.

Pada awal pengoperasiannya, Stasiun Willem I digunakan sebagai sarana pengangkutan komoditas ekspor dan transportasi militer di sekitar Jawa Tengah. Setelah dinonaktifkan tahun 1976, Stasiun Ambarawa dicanangkan sebagai Museum Kereta Api oleh Gubernur Jawa Tengah pada saat itu, Supardjo Rustam.

EDUKASI. Museum Kereta Api Ambawara sering dikunjungi rombongan siswa, sekaligus menjadi tempat edukasi perihal sejarah kereta api di tanah air

EDUKASI. Museum Kereta Api Ambawara sering dikunjungi rombongan siswa, sekaligus menjadi tempat edukasi perihal sejarah kereta api di tanah air

Rencana ini bertujuan menyelamatkan tinggalan lokomotif uap serta sebagai salah satu daya tarik wisata di Jawa Tengah. Stasiun Ambarawa dipilih karena Ambarawa memiliki latar belakang historis yang kuat dalam perjuangan kemerdekaan, yakni Pertempuran Ambarawa. Selain itu Stasiun Ambarawa pada saat itu masih menyimpan teknologi kuno yang masih bisa dioperasikan

Baca Juga:  Di Tengah Kesibukan Tour ke Sejumlah Kota, Souljah Siapkan Lagu Baru

Koleksi Perkeretaapian

Kini, Museum Ambarawa atau Indonesian Railway Museum (IRM) menampilkan koleksi perekeretaapian dari masa Hindia Belanda hingga pra Kemerdekaan RI yang meliputi sarana, prasarana dan perlengkapan administrasi.

Beberapa koleksi sarana perkeretaapian heritage seperti 26 Lokomotif Uap, 4 Lokomotif Diesel, 5 Kereta dan 6 Gerbong dari berbagai daerah.

Jika Anda ingin mengunjungi lokasi wisata ini harus mengetahui jam atau waktu operasioalnya, yaitu Senin sampai Minggu mulai pukul 08.00 – 17.00 WIB. Di tempat itu juga ada Ruang Audio Visual yang dibuka pada Senin – Jumat mulai jam 14.00 – 15.00 WIB, serta Sabtu dan Minggu mulai pukul 09.00-10.00 dan 13.00-14.00 WIB.

Untuk harga tiket, Dewasa & Mahasiswa Rp 10.000 per orang dan anak-anak (3-12 tahun) & Pelajar Rp 5.000 per orang.

Informasi Pemesanan Kereta Wisata Sewa & Persewaan Lahan Indonesian Railway Museum bisa melalui PT. KA Pariwisata lewat email: ambarawa@kawisata.id. (adv)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *