Ganjar ‘Dibakar’ Perempuan-Perempuan Makassar

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengikuti prosesi dan adat masyarakat Sulawesi Selatan, Pepe-pepeka ri Makka, dengan “dibakar” beberapa bagian badannya
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengikuti prosesi dan adat masyarakat Sulawesi Selatan, Pepe-pepeka ri Makka, dengan “dibakar” beberapa bagian badannya

Pepe-pepeka ri Makka

Lanterayya ri Madina

Ayya Allah parombasai natakabbere’ dunia

GOWA (Awal.id) – Alunan syair mengiringi empat perempuan naik ke panggung. Sambil memutar, mereka ikut merapal syair Pepe-pepeka ri Makka. Di tangga, api menyala dari seikat ijuk. Sesekali dia mengarahkan api ke lengan lalu ke badan.

Sejurus kemudian, dengan sebuah isyarat mempersilakan, mereka mengundang sosok pria berambut putih untuk naiK ke panggung. Syair berbahasa Makassar itu masih berdendang ketika dua perempuan mengarahkan api ke lengan sampai ke sekujur badan pria berambut putih.

Tak ada luka. Pun tak ada sisa menyala meski beberapa saat api dijalarkan. Pria berambut putih itu justru tersenyum begitu melihat raut bahagia yang terpancar dari empat perempuan itu. Seolah lega, orang yang mereka “bakar” tak mempan dilalap api. Tak lama kemudian pria itu kembali ke tempat awal dia duduk.

Baca Juga:  Beberapa Kalangan Dukung Gerakan "Jateng di Rumah Saja"

Sekembalinya ke tempat duduk, pria berambut putih mengaku telah dua kali “dibakar” seperti itu. Tak ada yang terbakar, tak ada luka bahkan tidak merasakan panas. “Yang pertama saat penobatan saya sebagai Daeng Manaba, juga dibakar,” kata dia. Daeng Manaba merupakan gelar bangsawan Bugis untuk Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah.

Berbagai prosesi dan adat masyarakat Sulawesi Selatan memang tak asing bagi Ganjar, termasuk Pepe-pepeka ri Makka. Terlebih prosesi itu memiliki nilai filosofis tinggi dan sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat di Sulsel.

Baca Juga:  Wapres Resmikan PLUT KUMKM ke-11 di Jawa Tengah

Secara bahasa, Pepe-peperi ri Makka berarti kobaran api di Makkah. Dari pengertian secara bahasa itu akhirnya didapat sebuah nilai bahwa masyarakat Bugis, Makassar khususnya, ikut memegang semangat dakwah sebagaimana yang dilakukan di Makkah.

Momen dibakar yang kedua ini dirasakan Ganjar saat dirinya dijadikan salah satu tauladan bersama 9 gubernur lain dalam pembentukan desa antikorupsi. Acara itu diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi di Gowa Sulsel pada Selasa 7 Juni 2022.

KPK telah menetapkan 10 desa di Indonesia sebagai percontohan desa antikorupsi. Desa Banyubiru Kabupaten Semarang di Jawa Tengah salah satunya. Karena dianggap bisa mengelola sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan seluruh anggaran yang diterima.

Baca Juga:  Jateng Per Hari Butuh 424.940 Meter Kubik Oksigen

“Iya (Desa Banyubiru) salah satu dari 10 desa di 10 provinsi yang dipilih KPK untuk jadi percontohan desa antikorupsi. Ini akan jadi pionir. Tapi kia akan genjot yang ada di Jawa Tengah. Pulang dari sini, saya perintahkan semua desa di Jateng melakukan itu,” kata Ganjar.

Layaknya prosesi Pepe-peperi ri Makka, Ganjar mendapat kepercayaan dari KPK untuk terus berdakwah laku antikorupsi sampai ke desa-desa. Begitu pula 9 gubernur lain yang diundang ke sana. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *