Pilus Harap Kelangkaan Minyak Goreng Tidak Berlanjut Sampai Ramadan

SEMARANG (Awal.id) – Ketua DPRD Kota Semarang Kadarlusman SE, meminta kepada pemerintah untuk lebih serius memperhatikan perkembangan yang terjadi, terkait naiknya beberapa barang kebutuhan pokok atau sembako, termasuk kasus langkanya minyak goreng di pasaran. Bahkan kelangkaan minyak goreng juga menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Pilus, panggilan akrab Kadarlusman, berharap kasus kelangkaan dan naiknya harga minyak goreng tidak berlangsung lama, karena sebentar lagi masyarakat juga memasuki bulan puasa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.
Hal itu disampaikan Pilus saat menjadi nara sumber pada acara Dialog Interaktif Bersama DPRD Kota Semarang yang berlangsung di Smart Class Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Senin (14/3).
Selain Kadarlusman, juga tampil dua nara sumber lain, yaitu Kepala Dinas Perdagangan Nurkholis ST MT dan Dekan Fakultas Ekonomi Unimus Dr Haerudin MSi. Dialog yang mengusung tema “Menjaga Ketersediaan dan Harga Sembako” itu juga diikuti puluhan mahasiswa Unimus, khususnya dari fakultas ekonomi.
“Kalau terus menerus terjadi kepanikan kasihan masyarakat juga. Kita baru saja mengalami kepanikan akibat Covid-19, kini harus panik lagi gara-gara sembako langka, khususnya minyak goreng, cabe harganya juga naik. Sementara tempe masih ada dan masyarakat bisa beli tapi tidak bisa menggoreng,” kata Pilus.
Pilus sempat mengungkapkan keheranannya terkait kelangkaan minyak goring, sehingga harganya melambung. “Minyak goreng yang seakan sudah menjadi kebutuhan wajib masyarakat itu ada pabriknya dan terus menerus produksi. Kenapa bisa terjadi kelangkaan di pasaran? Ini yang mengherankan. Pasti ada faktor penyebabnya, mungkin ada yang menimbun, permainan spekulan, atau pendistribusiannya yang kacau. Maka kami mendorong pemerintah melakukan upaya antisipasi dan menindak oknum-oknum yang tidak bertanggug jawab,” katanya.
Pilus juga berharap kepanikan masyarakat segera hilang seiring upaya yang terus dilakukan pemerintah. “Masyarakat tidak usah panik, semoga kondisi ini segera berakhir. Karena kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah. Kita percaya bahwa pemerintah terus melakukan langkah-langkah dan upaya terbaik untuk mengatasi kelangkaan sembako, khususnya minyak goreng yang harganya sempat melambung,” tambahnya.
Nara sumber lain, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Nurkholis ST MT, mengatakan, pihak telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi gejolak di masyarakat akibat kelangkaan dan kenaikan harga sembako, khususnya minyak goreng. Salah satu upaya itu adalah Operasi Pasar.
“Kami bekerjasama dengan pihak Bulog, distributor atau pihak lain yang terkait untuk menormalkan kondisi di lapangan. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng, kami melakukan Operasi Pasar di beberapa pasar tradisional, atau langsung ke masyarakat dengan koordinasi lewat kecamatan dan kelurahan,” kata Nurkholis.
Dari Oparasi Pasar yang digelar, Nurkholis mendapat laporan soal harga minyak goreng, baik curah maupun kemasan, yang berangsur turun sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Di sisi lain, Disperindag bekerja sama dengan intansi lain juga melakukan pantauan untuk mengantisipasi munculnya kecurangan yang dilakukan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,
Sementara Dekan FE Unimus Dr Haerudin MSi, berharap pemerintah lebih tegas untuk mengetahui penyebab terjadinya kelangkaan dan naiknya harga minyak goreng. “Di mana mandegnya, siapa dan apa penyebabnya, karena minyak goreng ini barang pabrikan yang setiap hari diproduksi. Distribusi harus diperjelas, diperbaiki dan dipantau, sekaligus harus diketahui seberapa besar kebutuhan rumah tangga akan minyak goreng ini,” katanya.
Haerudin menambahkan, selain kelangkaan barang dan kacaunya distribusi, penyebab naiknya barang kebutuhan biasanya dipicu oleh pola perilaku masyarakat. Sebagai contoh, kebutuhan minyak goreng yang biasanya stabil akan naik harganya menjelang bulan puasa Ramadan atau Hari Raya Idul Fitri, karena pola perilaku masyarakat yang membutuhkan minyak goreng dengan jumlah lebih banyak. (is)



















