Desa Bantarbolang Pemalang Kembangkan UMKM Berbahan Buah Rambutan

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, hadir dan melihat beragam produk olahan dari buah rambutan di Balai Desa Bantarbolang, Pemalang, Rabu (3/11)
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, hadir dan melihat beragam produk olahan dari buah rambutan di Balai Desa Bantarbolang, Pemalang, Rabu (3/11)

PEMALANG (Awal.id) – Sejumlah ibu-ibu di Desa Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, unjuk kebolehan membuat minuman sirup dan selai di hadapan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, Balai Desa setempat, Rabu (3/11). Mereka memperlihatkan usaha yang baru dikembangkan, yaitu memproduksi UMKM berbahan baku buah rambutan.

Kehadiran Wagub Taj Yasin beserta istri, Nawal Nur Arafah, adalah dalam rangka launching pelaksanaan Program Desa Sejahtera (Destara). Program dari Pemprov Jawa Tengah itu, salah satunya adalah memberikan pelatihan pengembangan UMKM.

Kepala Desa Bantarbolang, Dyah Anggraeni menuturkan bahwa hampir tiap rumah di desanya memiliki pohon rambutan. Sehingga buah tersebut sangat mudah untuk ditemui.

Baca Juga:  Jabar dan Kaltim Tiru Gerakan Dua Hari di Rumah Saja

“Iya, hampir tiap halaman rumah warga ada satu pohon rambutan,” paparnya.

Dengan demikian, buah rambutan oleh warga diolah menjadi minumam sirup dan selai. Upaya warga tersebut disambut baik oleh Pemprov Jateng dengan memberikan pelatihan dan pendampingan dalam pengembangan produk tersebut.

“Iya, ini dibantu Pemprov, dikasih alat produksi dan pelatihan,” lanjutnya.

Untuk selama ini, buah rambutan diolah menjadi minuman sirup dan selai. Namun, ke depan akan dikembangkan lagi seperti stup semacam carica.

“Sementara sirup dan selai, tapi rencananya akan dibuat stup seperti carica. Sebenarnya sudah lama membuat seperti ini, tapi belum kelihatan. Nah, ini ada bantuan dari Pemprov semoga tambah berkembang,” lanjutnya.

Baca Juga:  Transaksi Setahun Tembus Rp 770 Juta, Bupati Rembang Apresiasi Rumah BUMN Semen Gresik

Menariknya, pembuatan UMKM berbahan buah rambutan itu dilakukan oleh ibu-ibu Desa Bantarbolang dari latarbelakang ekonomi kurang mampu.

“Iya, ibu-ibu dari warga kurang mampu. Ada tiga kelompok, dengan tiap kelompok ada 10 orang. Jadi, total ada 30 orang,” terangnya.

Sa’diyah, warga Desa Bantarbolang mengatakan bahwa sebelumnya buah rambutan hanya dikonsumsi dalam bentuk buah. Namun, kini mulai dikembangkan menjadi bentuk lain seperti sirup dan selai. Dengan adanya inovasi produksi tersebut, menurutnya akan mengangkat kesejahteraan masyarakat.

“Kalau buah rambutan satu kilogram harganya Rp 5000, tapi kalau bentuk sirup ya sekitar Rp 15.000 per 250 mililiter. Harapannya bisa memgangkat kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Baca Juga:  Propam Polda Jateng Sidak Jajaran Ekswil Pekalongan

Sementara, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menuturkan bahwa Pemprov berkomitmen memberikan pelatihan dan pendampingan terhadap produksi UMKM tersebut.

“Iya ini kita latih, dan kita dampingi untuk perizinan agar bisa dipasarkan,” tuturnya.

Menurutnya, pengembangan UMKM berbahan baku lokal tersebut akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dua kali panen (rambutan) dalam satu tahun. Dan ini bisa diolah dan dikemas sesuai kebutuhan seperti sirup dan juga bisa dibikin seperti nanas yang sudah dibuat oleh-oleh. Ini baru pemantik, nanti dikembangkan lagi,” tandasnya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *