Atasi Kasus Stunting di Kota Semarang, Bunyamin: Butuh Sinergitas Multisektor dan Stakeholder

SEMARANG (Awal.id) – Jumlah penderita stunting di Kota Semarang mencapai sekitar 3.000 anak. Kondisi ini mendorong Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang untuk mengadakan Forum Diskusi Konvergensi Aksi Pencegahan dan Penurunan Stunting, di Hotel Novotel Kota Semarang, Selasa (16/11).

Kepala Bappeda Kota Semarang, Bunyamin mengatakan Pemerintah Kota Semarang berkomitmen dengan memberikan anggaran ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) penanggung jawab, Dinas Kesehatan Kota (DKK), Disdalduk KB, Dinas Ketahanan Pangan, dan OPD pendukung lainnya.

Baca Juga:  USM Engineering Fair Bersama FT USM 2025, Hadirkan Lomba Desain Grafis dan Inspire Talk

“Kami, khususnya Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, sudah memberikan dana PMT sebesar 350 ribu rupiah per bulan. Dana tersebut diberikan kepada 1600 Posyandu di Kota Semarang, dan pengadaan alat antropometri yang berfungsi untuk menilai status gizi pada tubuh,” ujar Bunyamin.

Menurut Bunyamin, untuk menurunkan target penurunan stunting sebesar 4 persen pada tahun 2026, diperlukan sinergitas multisektor dan stakeholder, pemerintah pusat, daerah, organisasi profesi, mitra pembangunan, media massa, lembaga sosial kemasyarakatan, sekolah hingga perguruan tinggi.

Baca Juga:  Uri-uri Budaya, Pemkot Semarang Gelar Festival Wayang Orang Nasional 2023 

Selain itu, lanjut Bunyamin, faktor penyebab stunting di antaranya akibat pola asuh yang kurang baik, terbatasnya layanan kesehatan pra dan pascamelahirkan serta pembelajaran dini berkualitas, kurangnya akses terhadap makanan bergizi, dan kurangnya akses air bersih dan sanitasi. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *