Simulasi dan PTM Terbatas di Jateng Berjalan Baik

Sekdin Dikbud Jateng, Suyanta
Sekdin Dikbud Jateng, Suyanta

SEMARANG (Awal.id) – Simulasi pembelajaran tatap muka dan pembelajaran tatap muka terbatas di Jawa Tengah berlangsung baik. Namun, pelaksanaan simulasi PTM tersebut akan terus dilakukan evaluasi.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Suyanta, mengatakan pelaksanaan simulasi PTM jenjang SMA, SMK dan SLB dilakukan di 144 satuan pendidikan, dengan total 19.362 siswa peserta.

“Total ada 144 satuan pendidikan yang melaksanakan simulasi PTM. Yakni 113 SMA, 24 SMK dan 7 SLB,” ujarnya, Senin (6/9).

Baca Juga:  Selama Gelaran HUT RI di IKN, 18 SPKLU PLN Layani 340 Transaksi Pengisian Mobil Listrik

Sedangkan pelaksana PTM Terbatas jenjang SMA, SMK, dan SLB total satuan pendidikan sebanyak 159 sekolah. Dan, 36.405 siswa peserta.

“Simulasi PTM dan PTM terbatas sudah memasuki minggu kedua. Semua berjalan bagus dan baik,” lanjutnya.

Ditambahkannya, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan adanya hambatan dalam pelaksanaan simulasi PTM maupun PTM Terbatas. 

“Yang masih menjadi evaluasi memang soal monitoring proses pulang dan perginya naik transportasi apa,” ungkap dia.

Ke depan, pihaknya akan memberikan penguatan pengawasan dalam disiplin penerapan prokes dengan melibatkan Cabang Dinas, Pengawas, Komite Sekolah, dan Satgas Tingkat Sekolah. Kedua, memperkuat pembelajaran model campuran melalui pemberdayaan fungsi musyawarah guru matapelajaran.

Baca Juga:  Razia Gabungan di Lapas Batu Nusakambangan, Petugas Tak Temukan Barang Ilegal

“Penting juga peningkatan sosialisasi penerapan prokes kepada warga seluruh warga sekolah dan masyarakat sekitar melalui berbagai media yang sesuai karakter wilayah,” terangnya.

Disinggung soal kebebasan dalam berseragam, pihaknya mendukung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang tidak mewajibkan siswa mengenakan seragam saat simulasi dan PTM terbatas.

“Kami mendukung karena memang kondisi seperti ini dan masih simulasi dan PTM terbatas. Bahkan kami melarang sekolah menjual seragam kepada siswa. Kalau mau beli ya di toko atau pasar,” imbuhnya.

Baca Juga:  Ganjar Ingin Naikkan Gaji Guru, Ini Alasannya

Sementara Ganjar menegaskan bahwa dirinya mendorong Pemerintah Kabupaten/Kota untuk tidak memaksakan siswa untuk berseragam. 

“Tidak perlu berseragam. Orang tua ada yang sambat. Kalau yang mampu boleh  tapi yang tidak mampu jangan dipaksa,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Penangan Covid-19. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *