Makna “Menahan” Saat Ramadan

SEMARANG (Awal.id) – Puasa Ramadan mewajibkan umat muslim yang melakukannya untuk menahan amarah, emosi, dan tidak mengedepankan ego. Semua tindakan harus didasari niat karena Allah.

Termasuk dalam menyikapi aturan larangan mudik Lebaran. Sikap pemerintah sebagai pihak yang mengeluarkan aturan larangan itu harus diikuti dalam kapasitasnya sebagai amirul mukminin atau pemimpin rakyat atau orang-orang yang beriman.

Demikian inti ceramah Ustadz Yono Ngadiono F SAg dari Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Semarang, pada acara talkshow JABURAN (Jelang Berbuka Puasa Ramadan) yang ditayangkan secara live streaming dari Studio Awal.id lewat chanel Youtube Awal Media Nusantara, Jumat (7/5) sore.

Talkshow yang mengangkat tema “Tanpa Mudik Tetap Peduli Sesama” dengan host Dyanara Paramita tersebut juga menghadirkan jamaah (audiens) dari pengurus dan anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indoneaua (GMNI) Kota Semarang dan Karang Taruna Kelurahan Sarirejo Semarang Timur.

Ustadz Yono Ngadiono menjabarkan, sikap manusia secara umum sering dibalut rasa emosi, iri, dengki, mengedepankan ego dan terkadang gampang memfitnah orang lain.

“Dengan puasa, sikap-sikap negatif itu bisa dikendalikan. Bahkan ketika orang lain mengajak bertindak jahat, kasar atau haram, orang yang berpuasa bisa mencegah, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain dengan mengatakan ‘maaf, saya sedang berpuasa’. Penjabaran dan makna kata ‘menahan’ katika seseorang sedang berpuasa sangat luas,” kata Ustadz Yono Ngadiono.

Ustadz Yono Ngadiono F SAg dipandu Dyanara Paramita saat mengisi acara talkshow JABURAN (Jelang Berbuka Puasa Ramadan).

Ustadz Yono Ngadiono F SAg dipandu Dyanara Paramita saat mengisi acara talkshow JABURAN (Jelang Berbuka Puasa Ramadan).

Ustadz Yono juga mengingatkan, tindakan dan perilaku yang dilakukan seseorang, akan berbalik atau kembali pada orang yang melakukan. Konsekuensi lainnya adalah pertanggungjawaban di akhirat kelak.

“Misalnya soal kewajiban menjaga lisan. Jika kita gagal menjaganya, maka yang keluar dari lisan kita adalah hal-hal yang jelek. Dan kita masih harus mempertanggungjawabkan di akhirat kelak,” tuturnya.

Ustadz Yono menambahkan, kewajiban puasa Ramadan juga menganjurkan umat muslim untuk peduli sesama, salah satunya membantu yang kekurangan.

“Yang penting niatnya harus karena Allah, bukan karena manusia atau biar dianggap paling baik, paling kaya, paling peduli dan lain-lain. Biar Allah yang memperhitungkan pahalanya,” pungkasnya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *