Ramadan, Ajang Latihan dan Evaluasi Keimanan

SEMARANG (Awal.id) – Bagi umat muslim yang ingin memperbaiki kuantitas dan kualitas imannya, bulan Ramadan bisa menjadi sarana latihannya. Ramadan bisa diibaratkan sebagai madrasah, kawah candradimuka, bahkan bengkel atau tempat latihan.

Usai Ramadan, kita bisa mengevaluasi hasilnya, apakah dengan latihan selama sebulan tersebut tingkat keimanan kita meningkat, masih tetap, atau justru menurun.

Demikian intisari dari talkshow acara JABURAN (Jelang Berbuka Puasa Ramadan) yang dipandu Fernanda Zahra Fatima dengan nara sumber Ketua LDNU Kota Semarang, Ustadz Rofiul Khafidz Muthohar, yang disiarkan secara langsung dari studio Awal.id lewat channel Youtube Awal Media Nusantara, Senin (26/4).

Jaburan episode keempat ini mengambil tema “Membangun Kepedulian Sosial di Tengah Pandemi”.

“Begitu pentingnya bulan Ramadan sebagai ajang latihan untuk menakar keimanan seseorang. Didikan di satu bulan Ramadan harus bisa diimplementasikan di 11 bulan di luar Ramadan. Kalau tidak bisa, berarti kita gagal dan harus menunggu Ramadan tahun berikutnya,” kata Ustadz Rofiul.

Jika seseorang berhasil melampaui bulan Ramadan dengan baik, kata Ustadz Rofiul, pasti akan mengalami perubahan yang lebih baik pula pada kehidupannya. Misalnya yang belum rajin ibadah bisa menjadi lebih rajin, kemudian punya rasa empati dengan orang lain yang masih berkekurangan, mudah memaafkan dan lain-lain.

“Intinya setelah Ramadan pergi bisa mengubah diri menjadi sosok yang lebih baik, bersosialisasi de ngan orang lainl, ebih dekat pada Allah dan lebih berkualitas perilakunya. Hablun Minallah wa Hablun Minannas-nya menjadi jelas,” tuturnya.

Ketua LDNU Kota Semarang, Ustadz Rofiul Khafidz Muthohar dipandu host Fernanda Zahra Fatima saat mengisi program acara JABURAN.

Ketua LDNU Kota Semarang, Ustadz Rofiul Khafidz Muthohar dipandu host Fernanda Zahra Fatima saat mengisi program acara JABURAN.

Saat ini, kita sudah memasuki sepuluh hari kedua di bulan Ramadan, di mana Allah menebarkan ampunan setelah sepuluh hari pertama di bulan Ramadan Allah menurunkan rahmat-Nya.

Menurut Ustadz Rofiul, bulan Ramadan benar-benar menjadi gelaran ampunan dari Allah. Semua dosa manusia terampuni, kecuali dosa besar yang pelakunya tidak mau bertobat. Misalnya dosa syirik atau sikap menyekutukan Allah.

“Sebenarnya gelaran ampunan Allah sudah diberikan sejak sebelum bulan Ramadan, yakni bulan Sya’ban yang lalu. Namun dosa seperti syirik tidak akan terampuni selama pelakunya tidak bertaubat. Sesungguhnya Allah maha pengampun, apalagi di bulan Ramadan. Bahkan bisa diibaratkan, tobat seseorang ketika nyawanya sudah sampai di kerongkongan pun tetap diterima,” tandanya.

Maka, lanjut Ustadz Rofiul, alangkah ruginya manusia ketika Allah menggelar ampunan di bulan Ramadan tetapi tidak bisa mendapatkan sampai Ramadan pergi. Terutama kesalahan kepada sesama, lebih-lebih kesalahan dengan Allah.

“Kesalahan dengan manusia harus minta maaf, dan itu kadang lebih sulit. Kalau kesalahan dengan Allah, setiap hari bisa dilakukan dengan istighfar, misalnya setelah menjalankan kewajiban sholat. Caranya dengan mengakui sebagai hamba yang lemah dan mengakui Allah sebagai dzat yang maha pengampun,” pungkasnya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *