Anton Medan, Mubalig yang Pernah Malang Melintang sebagai Preman

JAKARTA (Awal.id) – Nama Anton Medan begitu melegenda. Bukan karena ia keturunan Tionghoa yang menjadi mualaf (memeluk Islam), bukan pula karena mendirikan tempat ibadah dan pondok pesantren. Sosok Anton Medan sangat dikenal justru karena awalnya pernah menjadi seorang preman yang disegani dan kerap keluar masuk penjara.
Kini, tokoh yang pernah malang melintang di panggung kriminal itu sudah meninggal dalam usia 64 tahun pada Senin (15/3/2021), setelah sebelumnya berjuang melawan penyakit diabetes dan stroke.
Anton Medan yang bernama asli Tan Hok Liang, lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, 10 Oktober 1957. Ia memulai catatan kriminalnya saat masih belia di Medan. Sosoknya disegani sebagai perampok dan bandar judi.
Sepanjang hidupnya berkutat di dunia kejahatan, Anton mengaku sudah 14 kali keluar masuk penjara. Bagi Anton, merasakan pahitnya hidup di balik penjara adalah hal biasa.
Salah satunya, saat kerusuhan 1998, Anton ikut dituduh membakar rumah salah seorang pengusaha.
Mualaf dan Taubat
Setelah puas menjelajah manis dan pahit getirnya dunia kejahatan, Anton memutuskan taubat dan memeluk agama Islam sejak tahun 1992. Ia pun menyandang nama Anton Muhammad Ramdhan Effendi atau lebih dikenal Anton Medan.
Anton pun berkecimpung dalam komunitas Islam bersama organisasi Persatuan Islam Tionghoa (PITI), bahkan sempat menjadi ketua umumnya.
Sebelum memeluk Islam, Anton dikabarkan pernah memercayai Buddha dan menganut agama Kristen.
Dan setelah masuk Islam, Anton mendirikan rumah ibadah yang diberi nama Masjid Jami’ Tan Hok Liang. Masjid itu terletak di areal Pondok Pesantren At-Ta’ibin, Pondok Rajeg, Cibinong.
Tak hanya itu, Anton Medan juga berkali-kali diundang sebagai penceramah atau mubalig. Ia berkeliling nusantara untuk berbagi ilmu sekaligus mengurai pengalamannya sebagai mantan preman.
Bangunan Khas Tionghoa
Bangunan masjid yang didirikan Anton Medan memiliki gaya khas yang terinspirasi gaya bangunan Tionghoa.
“Yang dibangun pertama Bapak (Anton Medan) kuburannya dulu, terus dilanjutin ngebangun pondok pesantren,” kata Deni Chunk, pengurus Pondok Pesantren At-Taibin.
Ia membangun masjid dan pondok pesantren itu untuk memenuhi cita-citanya membuatkan tempat belajar agama bagi para mantan narapidana.
“Cita-cita bapak ingin bangun pesantren untuk mualaf Tionghoa, makanya didirikan pondok pesantren ini. Pembangunan sekitar dua tahun, baru mulai beroperasi pada 2004,” ungkap Deni.
Yang menarik sebelum meninggal Anton memang telah menyiapkan liang lahat untuk dirinya di area Pondok Pesantren At-Taibin. (is)




















