‘Iki Buntu: Fest I’ Kolektif Hysteria Hadirkan Wayang Potehi

SEMARANG (Awall.id) – Kampung Petemesan, merupakan salah satu wilayah kampung-kota yang telah lama bekerja sama dengan Kolektif Hysteria, Semarang, setidaknya sejak tahun 2012.

Berlokasi di tengah Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Purwodinatan, RT 003/RW 004, Kecamatan Semarang Tengah, Jawa Tengah, Kampung Petemesan memiliki karakteristik geografis yang unik.

Menurut peta Kolonial, wilayah Kampung Petemesan hanya berupa satu garis lurus dengan ujung jalan buntu dan dikelilingi oleh banyak gudang industri di Gang Bubakan dan Petolongan yang masih dalam satu wilayah administrasi.

Hal tersebut dijelaskan oleh Program Manager PekaKota, Nella Ardiantanti Siregar yang merupakan sebuah platform yang memayungi Program Purwarupa dari Kolektif Hysteria Semarang.

“Sebenarnya secara administratif, Kampung Petemesan tidak hanya satu garis lurus itu. Dia meliputi beberapa wilayah yang ada di sekitarnya. Namun, menurut peta Kolonial, daerah Petemesan dulunya hanya satu garis lurus yang berujung pada gang buntu,” jelas Nella Ardiantanti Siregar.

Letak geografis tersebut, menurut Nella, menjadi salah satu alasan diangkatnya tema tersebut. Banyak orang sering keliru mengira jalan tersebut akan tembus ke akses jalan lain, padahal buntu.

Baca Juga:  Debat Pilpres 2024 Tak Ada Jadwal Khusus untuk Cawapres

“Itulah kenapa kami mengambil tema ‘Iki Buntu: Fest I’, karena seringnya orang yang lewat jadi ‘kecelik’ tadi,” kata Nella.

Dalam festival yang berlangsung selama dua hari, pada hari Sabtu (14/7/2024) dan Minggu (15/7/2024), Kolektif Hysteria menghadirkan kembali pertunjukan yang sudah tidak ada lagi di Petemesan, yaitu Wayang Potehi.

Nella menjelaskan bahwa Wayang Potehi dulunya merupakan salah satu kesenian rakyat dari Kampung Petemesan. Namun, seiring berjalannya waktu, pertunjukan wayang yang dibawa oleh warga Tionghoa dari daratan China itu sudah tidak ada lagi.

“Wayang Potehi dulu berasal dari sini. Tapi sekarang sudah punah,” kata Nella lagi.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Alyanisa Lintang, salah satu Kepala Proyek ‘Iki Buntu: Fest I’. Alya menjelaskan bahwa Wayang Potehi Tek Gie Hien berasal dari Gang Pesantren No.326.

“Mereka (kelompok Wayang Potehi Tek Gie Hien) sebenarnya tidak memiliki tempat khusus untuk sanggar. Awalnya menggunakan rumah keluarga di Gang Pesantren No.326 untuk menyimpan barang-barang pertunjukan,” kata Alyanisa Lintang.

“Latihannya sering dilakukan di Klenteng Tay Kak Sie, Semarang,” tambahnya.

Baca Juga:  Mapolda Jateng Resmi Memiliki Monumen Patung Hoegeng Iman Santoso, Jadi Ikon Kebanggaan Polisi Jateng

Alya menjelaskan bahwa Wayang Potehi Tek Gie Hien sudah ada sejak tahun 1960-an di Kota Semarang, pertama kali didirikan oleh WS. Thio Tiong Gie, atau Teguh Chandra Irawan.

“Thio Tiong Gie meninggal pada 20 Agustus 2014, lalu diteruskan oleh anak kelimanya, Thio Hauw Lie atau Herdian Chandra Irawan yang sekarang menjadi dalangnya,” ungkap Alya.

Kedatangan pertunjukan Wayang Potehi sangat dinantikan oleh warga sekitar. Banyak warga yang menonton dengan antusias cerita yang dibawakan oleh dalang selama pertunjukan berlangsung. Baik tua maupun muda, bahkan anak-anak kecil.

“Kemarin ramai sekali. Bahkan anak-anak kecil berkerumun dan menonton di depan panggung sampai selesai,” jelasnya.

Wayang Potehi Tek Gie Hien menampilkan lakon berjudul “Pui Se Giok”, sebuah cerita tentang seorang ahli beladiri kungfu dari Dinasti Qing yang memperjuangkan keadilan dan melawan ketidakadilan.

Cerita tersebut menjadi salah satu kisah legendaris yang menonjolkan bakti, persahabatan, kesetiaan, serta semangat juang.

Meski ini pertama kali mengadakan festival dengan mendatangkan pertunjukan Wayang Potehi, Alya berharap upaya ini bisa membawa nostalgia bagi warga setempat, agar tidak melupakan salah satu kesenian lokal yang dulunya berkembang subur di daerah tersebut.

Baca Juga:  Peringati HUT Kemerdekaan RI ke 78, Hotel Ciputra Semarang Laksanakan Upacara Bendera

Sementara itu, berbicara tentang Petemesan, Nella menegaskan bahwa festival kali ini memiliki sub judul ‘Ngulik’. Setelah berjejaring dengan Kolektif Hysteria selama hampir 12 tahun, ini kali pertama diadakan festival kampung di daerah tersebut.

“Jadi kita juga masih ‘mengulik’ terkait potensi apa saja yang bisa kita olah bersama di Petemesan. Khususnya perihal tradisi, budaya, maupun kesenian dalam hubungannya dengan wacana kampung-kota, seperti jejaring kampung lainnya,” kata Nella.

Kampung Petemesan menjadi titik keempat dari 10 titik yang masuk dalam Program Purwarupa dari Platform PekaKota, Kolektif Hysteria. Para penanggung jawabnya adalah mantan peserta PekaKota Institute 2024 yang telah mendapatkan materi dari para narasumber dan pengisi kelas, untuk kemudian diimplementasikan dalam bentuk praktik melalui Program Purwarupa tersebut.

Agenda ini menjadi salah satu rangkaian ulang tahun Kolektif Hysteria ke-20, sekaligus termasuk dalam Event Strategis Dana Indonesia Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *