Angkat Aktivisme Impusif, Yuswinardi: Identitas Perempuan Bukan Halangan
by Redaksi ·
SEMARANG (Awall.id) – Kegiatan Buah Tangan #34 mengundang Yuswinardi dari Kultur Jaringan sebagai pembicara utama dan Adiyat Jat dari Ok Karaoke sebagai narasumber di Grobak Art Kos, Bendan Ngisor, Gajah Mungkur pada Senin (22/04/2024).
Pengalaman dalam aktivisme di empat kota akan dieksplorasi lebih dalam oleh kolektif Hysteria dengan judul “Kembara Brebes, Tegal, Cepu, Blora (Aktivisme Impulsif Takkan Mati)”.
Diskusi ini melibatkan berbagai topik seputar upaya Yuswinardi dalam membangun ekosistem sastra di empat kota, termasuk juga perbincangan tentang gender, terutama peran dan identitas perempuan dalam aktivisme.
Perempuan terkadang menghadapi rintangan tertentu yang membuat mereka tidak sekuat laki-laki.
Meskipun setiap individu memiliki masalah yang unik, namun perempuan seringkali memiliki beban yang lebih berat secara budaya dibandingkan dengan laki-laki.
“Beban berat itu pasti ada di perempuan semisal ngurus anak sesuai kultural kita, tetapi hal itu bisa dialih wahanakan, semisal ekspresi dari gerak bisa dialihkan menjadi ekspresi tulis. Tentu pencapaiannya akan berbeda” ucap Yus sebagai pemantik
Fakta di Indonesia menunjukkan bahwa aktivisme masih didominasi oleh laki-laki. Penting untuk percaya bahwa laki-laki dan perempuan setara.
Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dapat diwujudkan dengan memahami cara memanfaatkan identitas gender masing-masing.
“Caranya misal yang aku ketahui dengan memperkuat jaringan perempuan atau mencari teman laki-laki yang sehat. Aku sepakat kalo itu memang berat tapi tetap dimungkinkan untuk tetap mengembangkan diri dan melakukan aktivisme”, imbuh Jati.
“Aku pikir cewek punya keterbatasan di titi-titik tertentu tapi di sisi lain punya kelebihan yang bisa di elaborasi dan para perempuan ini perlu mencari referensi”, sambung Adin sebagai peserta talkshow.
Gender tidak secara signifikan memengaruhi aktivisme impulsif, tetapi dapat menjadi faktor jika dikelola dengan baik.
Buah Tangan adalah platform inspirasi dan berbagi antara masyarakat umum dengan para seniman yang diinisiasi oleh Hysteria. Acara ini didukung oleh Grobak Art Kos, Hysteria Artlab, Sedulur Kampung, Ditampart, Bukit Buku, Laki Masak, Dahana Media, Dewan Kesenian Semarang, Semarang Creative Consortium, dan komite ekonomi kreatif Jawa Tengah.



















