Cuaca Panas di Kota Semarang, Sekretaris Komisi D DPRD Minta Masyarakat Waspada Ancaman Penyakit

SEMARANG (Awall.id) – Akhir-akhir ini, suhu di Kota Semarang mencapai 38 derajat celsius. Panas ekstrem itu, dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat.

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo menyoroti panas ekstrem tersebut. Menurutnya, banyak upaya yang harus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dalam menangani imbas dari kondisi tersebut, salah satunya persoalan kesehatan.

Meski begitu, dia melihat langkah yang dilakukan Pemkot Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Hevearita Gunaryanti Rahayu cukup sigap dalam mengantisipasi cuaca ekstrem.

Kesigapan tersebut terlihat, ketika dia melakukan inspeksi mendadak (sidak) beberapa pos pelayanan terpadu (posyandu), dan sekolah-sekolah di Kota Semarang.

“Saya melakukan pantauan di posyandu, pemberian vitamin-vitamin sudah dilakukan, termasuk ke sekolah-sekolah setiap Jumat,” katanya, ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (4/9).

Menurutnya, pemenuhan gizi seimbang sangat penting. Jika tidak diantisipasi dengan asupan gizi yang baik, maka kekebalan tubuh orang akan menjadi sangat rentan.

“Lihat isi piringmu, artinya harus ada keseimbangan karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah. Asupan ini bisa membuat kebal dan ketahanan tubuh lebih baik,” ujarnya.

Politikus Golkar itu mengatakan, selain pemerintah turun ke bawah, masyarakat sendiri juga harus melakukan upaya-upaya preventif supaya terhindar dari berbagai penyakit yang disebabkan panas ekstrem tersebut. Terlebih, bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

“Bisa dehidrasi jadi mudah lelah, gangguan saluran pernapasan, lalu perubahan siang menuju malam harus disikapi dengan baik,” katanya.

Anang mengatakan, kecepatan Pemkot Semarang itu menunjukkan negara hadir di tengah-tengah masyarakat. Terlebih, upaya yang dilakukan mempunyai tujuan yang jelas yaitu, memastikan pemenuhan hak atas kesehatan masyarakat.

“Kami harap jadi sistem yang tidak seperti model pemadam kebakaran, ada api baru dipadamkan,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, selain menyerang imunitas tubuh, kondisi panas seperti saat ini juga berpotensi menimbulkan penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare.

Selain itu, potensi penyakit diabetes juga bisa terjadi manakala orang yang memiliki kegawatan diabtes sering mengkonsumsi minuman dingin atau es yang mengandung kadar gula tinggi saat cuaca panas.

Oleh karena itu, Hakam mengimbau kepada masyarakat untuk tidak sering meminum produk instan dengan kadar gula tinggi yang banyak dijual di pasaran. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menunda diet agar sistem kekebalan tubuh bisa terjaga.

“Seandainya kita mengetahui suhu udara luar di atas 40 derajat, misal atau sekarang 36 panasnya, sudah luar biasa dan risiko dehidrasi tinggi. Kemudian orang dehidrasi dan dia memiliki penyakit diabetes atau kencing manis, akan bahaya jika minum dingin dan kadar gula tinggi. Hal itu akan berisiko ke keadaan yang kegawatan untuk orang diabetes,” ujarnya saat ditemui awak media di kantornya, baru-baru ini.

“Selain untuk merehidrasi, orang normal biasanya minum 2 liter perhari, tapi kalau kondisi panas harus ditambah setengah sampai satu liter. Seperti ini juga tidak boleh diet dulu, kalau sehari tiga kali makan ya tiga kali, kalau perlu pakai vitamin yang mungkin bisa vitamin C, B dan vitamin B Complex bisa membantu tubuh kita agar sistem kekebalan tubuh naik. Karena cuaca seperti ini yang dibutuhkan meningkatkan kekebalan tubuh. Makanya tidak boleh terlambat makan, cukupi hidrasi di tubuh kita dan hindari stress,” lanjutnya.

Sementara masyarakat juga diharapkan bisa mengurangi aktivitas di luar ruangan. Manakala memang tidak bisa dihindari, disarankan untuk memakai produk body lotion dan alat pencegah paparan sinar matahari secara langsung.

“Kalau cuaca panas aktivitas sebaiknya lebih di dalam ruangan dulu saja. Dan jika harus keluar ruangan, diusahakan menggunakan pakaian tertutup dan kacamata hitam untuk mengurangi paparan matahari langsung. Lalu kalau ada keluhan tenggorokan gatal jangan sampai menunggu demam, silakan datang ke puskesmas silakan ke klinik,” paparnya.

Lebih lanjut, Hakam menjelaskan jika kondisi kualitas udara yang diteliti setiap bulan yakni seperti CO2, Nitrogen Dioksida, kemudian debu-debu Particulary Matter (PM) 10 dan PM 2,5 ini bisa berakibat radang tenggorokan.

“Nah PM 10 dan 2,5 ini yang di 16 kecamatan kondisinya itu di level sedang dan merah. Nah debu-debu PM 10 dan 2,5 itu kalau memapar manusia bisa menyebabkan radang di tenggorokan. Kalau masuk di saluran mata jadi keruh. Kemudian risiko diabetesnya akan tinggi,” imbuhnya.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *