Berikan Kuliah Umum di Unimus, Mbak Ita Malah Jadi Buruan Foto Bersama Mahasiswa

SEMARANG (Awall.id) – Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mendapat sambutan antusias dari para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Kamis (12/10).

Mbak Ita, sapaan akrabnya mengisi kuliah umum dalam Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Batch III. Dia memaparkan tentang Modul Nusantara “Perempuan Pertama Wali Kota Semarang”.

Saat tiba di lokasi, kedatangan Mbak Ita disambut oleh Rektor Unimus, Prof Masrukhi beserta para jajaran dan civitas akademika.

Setelah sampai di Aula Gedung Kuliah Bersama Lantai 8 kampus setempat, Mbak Ita yang mengenakan baju batik dan hijab biru itu disambut dengan tarian Tor-tor asli Sumatera Utara sekaligus menerima kalungan olos dari mahasiswa.

Ratusan mahasiswa yang mengikuti kuliah umum kepemimpinan perempuan itu, juga tampak berdesakan untuk berebut foto hingga bersalaman bersama Mbak Ita.

“Bu Ita, Bu Ita, minta foto, saya mau salaman dengan Bu Wali Kota Semarang,” ucap beberapa mahasiswa di dalam aula. Mbak Ita pun meladeni permintaan satu per satu mahasiswa hingga para dosen yang mengikuti kuliah umum.

“Sangat senang, dapat kepercayaan dari Unimus, bagaimana kita bisa memberikan satu ilmu menjadi seorang pemimpin perempuan,” kata Mbak Ita.

Dalam pemaparan materi, Mbak Ita menekankan pentingnya peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, perempuan memiliki daya tahan tubuh yang kuat dibanding laki-laki. Meski begitu, perempuan juga tak dapat terpisahkan dengan kaum adam.

“Memang tidak mudah karena multifungsi dan multitalenta tadi. Perempuan ini kalau sudah menikah, akan menjadi istri, menjadi ibu yang tidak semua laki-laki mau memahami,” ujarnya ditemui seusai acara.

Perlu adanya satu pemahaman bersama, antara laki-laki dengan perempuan. Hal itu, kata Mbak Ita, adalah kunci keberhasilan kepemimpinan perempuan tanpa menimbulkan permasalahan dalam suatu rumah tangga.

“Pastinya kalau tidak memahami akan terjadi sesuatu masalah, hal kecil bisa menjadi besar, inilah yang harus dikampanyekan perihal kesetaraan gender. Perempuan mampu, perempuan pintar dan bisa menjadi pemimpin, tetapi kalau pasangannya tidak merestui tidak akan terjadi,” katanya.

Mbak Ita berkata, seorang perempuan menjadi pemimpin harus memiliki usaha yang lebih dibanding laki-laki. Meski begitu, dia menyebut, bukan menjadi suatu hambatan, maupun rintangan yang berat.

“Tetapi sebagai satu tantangan menjadi perempuan bisa memberikan kesejahteraan, utamanya untuk masyarakat,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Mbak Ita membeberkan perasaannya yang tak pernah menyangka menjadi orang nomor satu di Kota Semarang. Tepatnya, akhir Januari tahun ini, Mbak Ita dilantik sebagai Wali Kota Semarang menggantikan wali kota sebelumnya, Hendrar Prihadi (Hendi) yang ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (LKPP).

“Tetapi, namanya mendapat amanah seperti apa, harus dijalani, dan juga harus tetap belajar karena sebagai pemimpin bukan menjadi sekarang yang lebih. Pasti di luar sana ada yang lebih baik lagi,” katanya.

Seusai memberikan materi kuliah, Mbak Ita menemukan adanya semangat luar biasa dari para perempuan-perempuan yang ada di Unimus. Menurutnya, bibit-bibit kepemimpinan perempuan di kampus Muhammadiyah ini telah terlihat.

“Saya bilang, kita (perempuan-red) ini bisa menjadi seorang pemimpin, ini kan tergantung dari lingkungan, kalau lingkungan sudah mendorong, maka seperti di Unimus bisa mencetak generasi penerus bangsa tanpa meninggalkan pendidikan karakternya,” ujarnya.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *