206 Atlet Wushu Ikuti Babak Kualifikasi Porprov Jateng
SEMARANG (Awal.id) – Sebanyak 206 atlet yang berasal dari 26 kabupaten/kota bersaing di ajang kualifikasi Pekan Olahraga Provinsi (Pra Porprov) Jateng cabang wushu, di Gedung Futsal Manunggaljati, Semarang, yang berlangsung 4 hari (1-4/11).
Dalam babak kualifikasi tersebut mempertandingkan tiga disiplin, yaitu sanda, taolu dan wushu tradisional (kungfu).
Selain Kabupaten Rembang yang lolos karena menjadi tuan rumah Porprov, sebanyak 19 atlet mendapatkan wild card untuk langsung lolos lantaran prestasi dan statusnya sebagai atlet pelatnas.
Turut hadir dalam acara pembukaan Pra Porprov wushu, Ketua Umum KONI Jateng Bambang Rahardjo Munadjat, Kadispora Kota Semarang Fravarta Sadman, Ketua Umum KONI Kota Semarang Arnaz Agung Andrarasmara, jajaran pengurus WI Jateng, serta mantan juara dunia tinju kelas bulu WBA sekaligus mantan atlet nasional sanda, Chris John.
Porprov Anomali
Plt Ketua Umum KONI Jateng Bambang Rahardjo Munadjat sangat mengapresiasi proses pembinaan yang dilakukan Pengprov Wushu Indonesia (WI) Jateng. Pasalnya, wushu sangat konsisten dalam regenerasi atlet, baik itu sanda (pertarungan) dan taolu (peragaan jurus).
“Konsistensi tersebut, dibuktikan dengan masuknya 15 atlet wushu Jateng ke Pelatnas untuk persiapan Kejuaraan Dunia Junior di Banten, Desember mendatang. Mereka juga menyusul empat atlet senior di Pelatnas, yang diproyeksikan menghadapi SEA Games Kamboja dan Asian Games Hangzhou (Cina) tahun 2023,” ungkapnya.
Ia berharap wushu bisa tetap mempertahankan predikat cabang olahraga unggulan. Ia juga berpesan agar para atlet wushu disiplin berlatih, karena prestasi tidak jatuh dari langit, namun kristalisasi keringat dan hasil perjuangan keras.
“Kami berharap wushu bisa tetap mempertahankan predikat sebagai cabang olahraga unggulan papan atas. Dan kalian yang ada di sini, merupakan atlet-atlet andalan Jateng dan kelak bisa menjadi atlet masa depan Indonesia,” tandas Bambang.
Sementara, Ketua Harian Pengprov WI Sudarsono menyampaikan pihaknya belum merumuskan kuota yang lolos ke Porprov 2023. Pasalnya, pada Porprov yang mempertandingklan 29 nomor sanda, 18 taolu dan tradisional itu, kemungkinan tidak bisa mempertandingkan semua nomor karena alasan tidak terpenuhinya batas minimal peserta.
Pihaknya juga menilai, Porprov Jateng 2023 dan PON Aceh-Sumut 2024 sebagai ajang multievent yang anomali. Ia juga menggambarkan, durasi PON ke PON normalnya empat tahun, namun kali ini maju menjadi tiga tahun. Kondisi itu membuat jarak antara Porprov dengan PON cuma setahun.
“Hal itu karena buntut dari pandemi Covid-19, yang menjadikan Porprov mundur menjadi tahun 2023 , padahal tahun 2023 ada babak Pra-PON yang butuh konsentrasi tersendiri. Ini yang saya sebut sebagai anomali dan Pengprov WI dituntut berpikir out of the box,” ungkap Bambang.
Di sisi lain, dia menyebut Pengprov WI membuat strategi memecah konsentrasi menjadi dua bagian, yaitu sukses penyelenggaraan Porprov dan persiapan menuju Pra PON. Hasil Porprov sendiri tak lagi menjadi patokan untuk menjaring atlet Pra PON, karena waktu penyelenggaraan Pra PON justru mendahului Porprov.
Jateng sendiri, menurut Sudarsono, sudah punya stok atlet yang cukup untuk nomor-nomor babak Pra PON.
“Porprov digelar September 2023, sedangkan babak Pra PON kita diperkirakan digelar pada bulan Juni. Itu artinya, Porprov kemungkinan bukan lagi sebagai titik kulminasi pembinaan daerah, namun hanya dijadikan sebagai ajang try in para atlet yang sudah disiapkan ke PON Aceh-Sumut 2024,” pungkas Kabid Binpres PB WI itu. (is)




















