Tekan Lonjakan Harga Cabai, Ferry Setuju Peran ’Middle Man’ Dipangkas
SEMARANG (Awal.id) – Harga cabai belakangan ini terus melonjak tajam. Harga cabai yang menebus Rp 100.000/kg ini membuat kalangan ibu-ibu rumah tangga dan pengusaha yang bergerak di bidang kuliner menjadi kewalahan, sehingga harus memutar otak agar roda perekonomian keluarga dan usaha tetap berjalan.
Untuk menyelesaikan persoalan tingginya harga cabai, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pun menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah. Disinyalir mahalnya harga cabai ini akibat terlalu banyak middle man (perantara), sehingga harga komoditas ini menjadi tinggi di pasaran.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Jateng Ferry Wawan Cahyono menyambut baik kebijakan Pemerintah Provinsi Jateng yang menggandeng Kadin Jateng untuk mengendalikan harga cabai di wilayah ini.
Ferry menilai pelibatan Kadin untuk membantu dalam memecahkan persoalan mahalnya harga cabai di pasaran Jateng sangatlah tepat. Hal ini sesuai dengan kegiatan utama Kadin sebagiamana diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945, bahwa Kadin dibentuk untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan perekonomian bangsa agar rakyat sejahtera serta memperkuat persatuan Indonesia.
“Fokus Kadin kan membantu hal-hal yang berkaitan dengan perdagangan dan industri. Jadi, sudah klop kalau Pemprov merangkul Kadin sebagai mitra kerja untuk membantu menguraikan persoalan mahalnya harga cabai,” kata Ferry.
Ferry mengaku kaget atas keterlibatan middle man yang informasinya telah mencapai lima lapis. Akibat panjangnya mata rantai distribusi inilah yang membuat harga cabai menjadi tinggi dan tidak stabil.
“Peran pedagang perantara ini harus kita pangkas bersama. Kita harus membuat sistem distribusi cabai lebih ringkas, tidak berbelit-belit, karena melonjoknya harga cabai akibat banyaknya peran perantara tersebut. Manfaatkan era digitalisasi untuk menciptakan pasar bagi komoditas cabai, sehingga petani bisa langsung melakukan ekomunikasi jual beli dengan cepat, aman dan lebih menguntungkan, pastinya,” kata Ferry.

Wakil Ketua DPRD Jateng Ferry Wawan Cahyono
Ketua DPD MKGR Jateng ini berharap Pemprov Jateng dan Kadin Jateng bisa berkolaborasi membantu petani cabai dan masyarakat atau konsumen untuk memangkas panjangnya pedagang perantara komoditas cabai.
“Pemerintah dan Kadin harus berjalan seiring, tidak bisa sendiri. Ingat tantangan ke depan jauh lebih berat. Kalau kita bekerja sama, seberat apapun tantanganya, tentu akan lebih ringan jika dipikul bersama,” ujarnya.
Selain banyaknya ’pemain’ dalam distributor cabai, menurut Ferry, penyebab meroketnya harga cabai sangat dipengaruhi dari kuantitas cabai yang diproduksi para petani. Saat ini, lanjut dia, sejumlah petani di Jateng mengalami penurun produksi akibat banyak tanaman cabai yang terkena hama patek dan fusarium, sehingga produktivitas cabai menurun tajam.
Catatan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus menyebutkan sejumlah petani mengalami gagal panen akibat serangan virus dan jamur. Kegagalan panen cabai itu terjadi akibat dampak dari cuaca kemarau basah yang terjadi saat ini.
“Pada musim kemarau basah dengan intensitas hujan yang masih tinggi, tanaman cabai rentan terserang jamur dan virus,” paparnya.
Poltikus asal Partai Golkar Jateng ini menyebutkan dampak parah akibat cuaca kemarau basah ini, produktivitas tanaman cabai akan berkurang drastis. Protivitas tanaman cabai bisa anjlok hingga 30 persen saja.
Di samping pengaruh musim kemarau basah, kata Ferry, tanaman cabai juga rentan terserang hama pathek. Hama ini akibat serangan jamur Colletotrichum, sehingga membuat seluruh tanaman cabai dari ranting, daun, cabang hingga buah akan timbul bercak kecoklatan.
“Tanaman cabai yang terkena hama pathek memang masih bisa dipanen, tapi kuantitas maupun kualitas buah rendah,” ujarnya. (adv/anf)



















