Ferry Nilai Lomba Foto Batik Lasem Bisa Dukung Pelestarian Batik Nasional

SEMARANG (Awal.id) – Batik merupakan warisan lelehur yang berasal dari kebudayaan Indonesia. Kesenian batik ini ditemukan pada abad ke-17 dan 18 Masehi pada masa Kerajaan Majapahit. Saat itu, hanya orang-orang keraton dan pengikutinya yang boleh mengenakan. Seiring dengan perkembangan zaman, batik kini telah disebarkan ke luar keraton dan menjadi pakaian masyarakat umum.
Untuk menghormati karya agung para leluhur, Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Menyongsong hari batik tersebut, Paguyuban Pengrajin Batik Tulis Lasem menggelar lomba foto, dengan tema ”Lasem Memanggil”, di Desa Karangturi Lasem, Rabu (31/8).
Batik Lasem berasal dari Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan Tiongkok. Batik yang pertama kali diproduksi di Oemah Batik Lasem inilah yang membumbungkan nama Lasem sebagai salah satu daerah produksi batik nasional.
Menanggapi pameran foto batik yang diprakarsai oleh Paguyuban Pengrajin Batik Tulis Lasem, Wakil Ketua DPRD Jateng Ferry Wawan Cahyono menyambut baik gagasan para pecinta batik untuk melestarikan karya agung yang menjadi warisan nenek moyong. Dia menilai kegiatan ini bisa menumbuhkembangkan kecintaan generasi muda terhadap karya leluhur yang hingga kini mampu menjadi penompang kehidupan masyarakat sekitar, khususnya para pekerja yang bergelut dengan seni batik Lasem.
“Saya apreasiasi Paguyuban Pengrajin Batik Tulis Lasem yang telah menggelar lomba foto batik Lasem. Kegiataan ini bisa menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak lupa dengan sejarah, dan karya-karya agung dari para leluhur Kota Lasem yang mampu menciptakan batik yang membuat daerahnya menjadi terkenal,” kata Ferry di Semarang, Jumat (2/9).
Secara umum Batik Lasem hanya mempunyai dua motif utama, yaitu motif Tionghoa dan non-Tionghoa, namun dalam pandangan Ferry karya batik Lasem memiliki keindahan dan keselarasan.
“Motif Tionghoa identik dengan motif Burung Hong (Lok Can), Naga, Kilin, Ayam Hutan dan sebagainya,” ujar Ferry.
Politikus asal Partai Golongan Karya (Golkar) ini menilai lomba foto dapat mendukung pelestarian batik sebagai warisan bangsa Indonesia. Batik, lanjutnya, sudah melekap dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia sebelum negeri ini memperoleh kemerdekaan dari Belanda. Bahkan,UNESCO pada 2009 telah mengakui batik menjadi bagian dari ’Warisan Budaya Tak Benda’ milik Indonesia.
Anggota legislatif Jateng asal daerah pemilihan Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Kebumen ini membeberkan alasan menjadi latarbelakang keputusan UNESCO itu, karena batik Indonesia memiliki kaitan erat dengan banyak symbol, seperti yang bertautan dengan status sosial, kebudayaan lokal, alam, dan sejarah itu sendiri.

Berdasarkan pengakuan UNESCO tersebut, Ferry mengajak para pecinta batik tidak sekadar bangga atas status kepemilikan karya batik saja, namun generasi muda perlu melakukan usaha pelestarian batik. Upaya pelestarian itu bisa dilakukan dengan mempercantik batik, memodifikasi bentuk atau model pakaian supaya terlihat lebih modern.
Sisi lain yang kalah pentingnya, sambung Ferry, adalah membuat konsep yang unik tentang pemanfaatan kain batik. Dengan konsep yang berbeda, masyarakat tidak merasa ketinggalan bila mengenakan batik, karena sudah disesuaikan dengan mode pakaian era modern.
“Upaya terakhir yang harus dilakukan adalah bagaimana memasarkan batik agar dikenal masyarakat secara luas. Untuk pemasaran, saya minta perajin batik agar rajin untuk mengadakan bazar,” paparnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro’ menyampaikan apresiasi atas digelarnya lomba foto tersebut. Menurutnya, melalui lomba itu, dapat mendukung sekaligus mempromosikan lasem sebagai kota pusaka.
Dia berharap lomba foto tidak hanya diikuti oleh warga lokal, tetapi juga warga dari luar Rembang, maupun dari mancanegara. “Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya untuk lokal kabupaten saja, tetapi nasional, bahkan dunia. Karena, batik tulis Lasem sudah terkenal di dunia,” ungkap wabup pada pada pembukaan lomba foto Lasem Memanggil di Desa Karangturi Lasem, Rabu (31/8).
Perwakilan Paguyuban Pengrajin Batik Tulis Lasem Santoso mengatakan pihak ingin mempromosikan Lasem, dengan cara lomba foto. Pada flyer dan banner dijelaskan beberapa detail lomba, seperti berkebaya, dengan bawahan asli batik tulis Lasem.
Menurut dia, para peserta lomba harus perempuan, dengan rentang usia antara 17 sampai 50 tahun. Selain itu, peserta harus berdomisili di Kabupaten Rembang. Namun, bagi wisatawan luar Rembang tetap bisa ikut, namun dengan menyertakan bukti fotokopi kuitansi penginapan.
“Nah, siapa tau ada wisatawan jauh-jauh dari luar kota ke Lasem. Terus mengetahui ada lomba, akhirnya mereka beli batik tulis Lasem dibuat ikut lomba,” ujarnya.
Santoso menambahkan, pihaknya sudah menyiapkan hadiah berupa uang tunai dan batik tulis Lasem. Bagi juara I, mendapat hadiah sebesar Rp 2 juta, juara II Rp 1,5 juta, dan juara III Rp 1 juta. Sedangkan juara IV sampai X, berhak mendapatkan hadiah kain batik tulis Lasem asli. (adv/anf)



















