Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka Perlu Dievaluasi
SEMARANG (Awal.id) – Rektor Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Muhdi meminta Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang sudah berjalan satu tahun ini agar dievaluasi.
“Evaluasi ini untuk mengoreksi supaya program MBKM pada tahun mendatang bisa lebih baik lagi,” kata Dr Muhdi SH MH, di Semarang, Jumat (31/12).
Menurut dia, salah satu jenis program MBKM adalah pertukaran mahasiswa dalam negeri. Dalam program tersebut, perguruan tinggi semestinya perlu adanya anggaran untuk mengelola kegiatan mahasiswa peserta.
“Saya kira perlu dana untuk mengelola kegiatan mereka, contoh ada kegiatan yang namanya Modul Nusantara, yang mengharuskan peserta berkunjung ke sejumlah destinasi maupun kegiatan lain yang konteksnya pengenalan budaya, jadi harus kami datangkan ke objek wisata dalam rangka mengenal budaya, ini yang harus diperhitungkan secara cermat,” ungkapnya.
Muhdi menambahkan, UPGRIS termasuk satu di antara 110 perguruan tinggi di Indonesia yang menjalankan program MBKM dan mendapatkan dana hibah untuk 12 jenis program MBKM.
“Selain MBKM dengan dana hibah, kami juga melaksanakan MBKM di luar dana hibah, alias mandiri, seperti KKN tematik, proyek independen, magang kerja, dan sebagainya,” ujar Muhdi.
Pada program tersebut, kata Muhdi, UPGRIS menerima 62 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, yang berasal dari Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Pattimura Ambon, Universitas Nusa Cendana Kupang, Universitas Borneo Tarakan Kalimantan, Universitas Tadulako Palu dan sebagainya.
Selama mengikuti program tersebut, lanjut Muhdi, para peserta sudah menjalani pembelajaran luring sejak September, dan berakhir pada Januari 2022. Dia berharap progam ini dapat menjadi ruang bagi siapapun, utamanya mahasiswa untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dalam dirinya. (is)




















