Angka Stunting di Jawa Tengah Paling Rendah

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo (tengah), bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, menghadiri acara Peluncuran Pendampingan, Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Dalam 3 Bulan Pranikah sebagai Upaya Pencegahan Stunting dari Hulu kepada Calon Pengantin, di Pendopo Gede Boyolali, Rabu (29/12)
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo (tengah), bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, menghadiri acara Peluncuran Pendampingan, Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Dalam 3 Bulan Pranikah sebagai Upaya Pencegahan Stunting dari Hulu kepada Calon Pengantin, di Pendopo Gede Boyolali, Rabu (29/12)

BOYOLALI (Awal.id) – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, Jawa Tengah menjadi provinsi dengan angka stunting paling rendah di antara provinsi-provinsi besar di Indonesia.

Hal itu disampaikan Hasto Wardoyo dalam sambutannya pada acara Peluncuran Pendampingan, Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Dalam 3 Bulan Pranikah sebagai Upaya Pencegahan Stunting dari Hulu kepada Calon Pengantin, di Pendopo Gede Boyolali, Rabu (29/12).

“Ini berkat program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng yang mestinya dilakukan oleh kami. Maka Jateng sudah menginspirasi BKKBN dan Jateng adalah provinsi besar dengan angka terendah stuntingnya,” tutur Hasto.

Baca Juga:  Dinas Pendidikan Kota Semarang Hentikan Sementara PTM, Ini Alasannya...!!!

Acara tersebut juga dihadiri Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Menurut Ganjar, pihaknya mendukung aplikasi elektronik siap nikah dan hamil (Elmisil) yang digagas oleh BKKBN RI.

Sejalan dengan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng, lanjut Ganjar, salah satu tujuan dari aplikasi ini adalah pencegahan stunting.

Ganjar menegaskan, dengan program dan aplikasi ini diharapkan pemerintah bisa melakukan lebih banyak intervensi pengendalian stunting. Termasuk, edukasi untuk tidak menikah di usia muda. Ganjar mengatakan, kesiapan mental juga jadi salah satu faktor terjadinya stunting.

Baca Juga:  Ita Resmi Dilantik Jadi Wali Kota Semarang, Hendi: Jaga Kekompakan Warga

“Program dari BKKBN ini menurut saya bagus, kalau itu bisa kita deteksi sejak awal maka insyaallah pengendalian stunting kita akan bagus,” tandasnya.

Sejumlah pasangan tampak ikut dalam program tersebut. Bahkan beberapa di antara mereka, akan melangsungkan pernikahan pada tahun 2022.

Salah satu pasangan, Sigit dan Ninda, yang mengikuti acara tersebut mengaku senang dengan adanya program itu. Pasangan asal Boyolali itu, mengaku merasa lebih tenang diperhatikan.

Baca Juga:  Polda Jateng Gelar Upacara HUT Bhayangkara Secara Virtual, Kapolda: Bantu Penanganan Covid Panggilan Tugas Polri

“Senang ya, jadi kita nggak asal menikah. Ya merasa diperhatikan, jadi lebih tenang. Persiapan kita untuk menikah lebih siap dari segi mental dan kesiapan diri juga lebih enak,” tutur pasangan yang akan menikah pada Januari 2022 itu. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *