Peringati Hari Pahlawan, Santri Ndalan Nusantara Gelar Tabur Bunga dan Tauziah di Makam Pahlawan Giri Tunggal

Pengasuh dan Pembina Santri Ndalan Nusantara, Gus Huda didampingi Pengurus Santri Ndalan, Henri Pelupessy dan pejabat di lingkungan  Kecamatan Semarang Selatan melakukan tambur bunga di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang, Kamis (11/11).
Pengasuh dan Pembina Santri Ndalan Nusantara, Gus Huda didampingi Pengurus Santri Ndalan, Henri Pelupessy dan pejabat di lingkungan  Kecamatan Semarang Selatan melakukan tambur bunga di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang, Kamis (11/11).

SEMARANG (Awal.id) – Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Santri Ndalan Nusantara (Sandal) menggelar tauziah dan tabur bunga di Makam Pahlawan Giri Tunggal, Jl Sriwijaya, Semarang, Kamis (11/11) sore.

Kegiatan ini sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa para pahlawan yang telah gugur untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Turut hadir dalam acara tersebut, Pengasuh Santri Ndalan Nusantara, Muhammad Nurul Huda atau yang akrab disapa Gus Huda, Pembina Santri Ndalan, Henri Pelupessy (pembina), Kepala Kecamatan Semarang Selatan, Ronny Thahjo Nugroho, Kepala Kelurahan Pleburan, Fatori Adi, jajaran dari perwakilan Kapolsek Semarang Selatan, dan perwakilan dari Koramil Semarang Selatan.

Rangkaian kegiatan peringatan Hari Pahlawan diawali dengan konvoi bersama menggunakan kendaraan yang diikuti puluhan santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Santri Ndalan Nusantara, Jalan Pleburan Raya No 42, Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, menuju Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal.

Sesampainya di halaman tengah Makam Pahlawan, tepatnya di depan monumen Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, kegiatan dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta. Setelah itu, dilakukan pembacaan puisi tentang kebangsaan yang dilakukan oleh Ketua DPD GMNI Jateng, Hendi Adi Saputra.

Baca Juga:  Luar Biasa, Pemprov Jateng Berhasil Pertahankan Opini WTP 12 Kali Berturut-turut

Acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Dewan Pengawas Santri Ndalan Nusantara, Kyai Amrulloh. Saat mengirim doa untuk para pahlawan yang telah gugur, santriawan, santriwati dan seluruh peserta terlihat khusyuk untuk mengamini doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT agar memberikan tempat yang terbaik untuk para pahlawan bangsa Indonesia.

Pengurus Ponpes Santri Ndalan Henri Pelupessy saat memberikan keterangan kepada wartawan.

Pembina Santri Ndalan Henri Pelupessy saat memberikan keterangan kepada wartawan.

Pembina Santri Ndalan Nusantara, Henri Pelupessy mengatakan kegiatan ziarah ini sebagai bentuk penghargaan dan mengenang jasa para pahlawan yang telah berkorban jiwa dan raga demi untuk memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia.

Menurut Henri, secara tidak langsung apa yang telah diraih rakyat Indonesia saat ini sejatinya tidak terlepas dari perjuangan para ulama dan kyai.

Baca Juga:  Peluncuran Aksi Pencegahan Korupsi Stranas PK 2021-2022, Ganjar Diminta Beri Masukan

Selain itu, lanjut Henri, menghargai jasa pahlawan tidak hanya mengenang dalam hati dan berterima kasih, melainkan juga dengan meneladani sikap dan perbuatan mereka seperti sikap rela berkorban, berani dalam kebenaran, berjiwa besar dan cinta kepada tanah air.

“Sikap untuk menghargai jasa pahlawan, meneladani, rela berkorban dan cinta pada tanah air tersebut yang selalu diajarkan oleh guru kami sekaligus Pengasuh Ponpes Santri Ndalan Nusantara Gus Huda. Oleh sebab itu, kita mempunyai Slogan Santri Ndalan Nusantara untuk Indonesia,” papar Henri dalam memberikan keterangan usai kegiatan tersebut.

Sementara itu dalam tauziahnya, Pengasuh Santri Ndalan Nusantara, Gus Huda, menjelaskan selain pahlawan-pahlawan nasional, patriotisme bangsa Indonesia juga terbentuk oleh kyai-kyai yang berada di Indonesia.

“Para kyai-kyai dan bahkan santri-santri pada masa itu juga ikut berperang dalam melawan menjajah. Untuk itu kita juga harus mengakui bahwa patriotisme juga milik mereka,” jelas Gus Huda.

Gus Huda menambahkan Pahlawan Indonesia, Pangeran Dipenogoro saat memperjuangkan Bangsa Indonesia, beliau meninggalkan tiga barang yang di mana untuk memberikan pesan terhadap penerusnya. Ketiga barang tersebut, yaitu Al-quran, Tasbih, Kitab Taqrib.

Baca Juga:  Susul Prestasi Angkat Besi, Angkat Berat Kota Semarang Juga Juara Umum Pra Porprov 2022

“Pangeran Dipenogoro meninggalkan ketiga barang tersebut untuk memberikan makna kepada para penerus bangsa ini, bahwasannya para penerus bangsa ini harus bisa membaca Kitab Suci, Berdzikir, dan ahli membaca kitab Taqrib, dan tentunya juga dapat menerapkan isi dari kitab suci tersebut. Harapannya untuk menerapkan pada kehidupan sehari-hari untuk negeri ini dan keluarga, dan juga tentunya untuk meneruskan dan menghargai jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita,” jelas Gus Huda.

Diketahui, Pondok Pesantren Santri Ndalan Nusantara sudah mengajak anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang ‘punya masalah’ untuk bisa menimba ilmu. Santri di pesantren ini terdiri dari preman, mantan napi, peminum, pemabuk, hingga pengguna narkoba. Santri Ndalan terdiri dari berbagai latar belakang mulai dari anak jalanan, preman, debt collector, dan alumni jeruji besi dengan beragam kasus. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *