Gayengnya Rembug Desa Kades Klaten dengan Ganjar, “Mumet Ndan, Sing Entuk Bansos Malah Wong Sugih”

Kades Tijayan Klaten, Joko Lasono, mengadukan data Bansos kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam acara Rembug Desa secara virtual, Senin (2/8).
Kades Tijayan Klaten, Joko Lasono, mengadukan data Bansos kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam acara Rembug Desa secara virtual, Senin (2/8).

SEMARANG (Awal.id) – Sejumlah lurah/kades se-Kabupaten Klaten mengeluhkan data bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah pusat. Bahkan ada kades yang emosional karena penerima Bansos malah orang kaya  dan ada yang dapat lebih dari dua bantuan.

Keluhan itu mereka sampaikan secara langsung kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat acara Rembug Desa yang digelar daring, Senin (2/8). Ganjar memang aktif menggelar rapat langsung dengan kades untuk mengetahui data akurat langsung dari lapangan.

Salah satu kades yang melaporkan Bansos bernama Joko Laksono. Kades Tijayan itu begitu emosional saat menyampaikan semrawut-nya data Bansos di desanya.

Bansos ki malah marai mumet pak (Bansos itu bikin pusing). Kulo ajeng curhat pak (saya mau curhat pak), saya mau jujur. Ndak peduli mangke didukani Bu Mensos Risma (tidak peduli kalau nanti dimarahi Bu Mensos, Risma),” kata Joko.

Baca Juga:  Jabar dan Kaltim Tiru Gerakan Dua Hari di Rumah Saja

Joko menerangkan, Bantuan Sosial Tunai (BST) yang didapat di desanya tidak tepat sasaran. Ada beberapa data penerima yang sudah diverifikasi dan dihapus dari penerima karena dianggap sudah mampu, justru kembali mendapatkan bantuan.

“Ada yang punya mobil lima, muncul namanya. Entuk niku malahan (dia justru malah dapat). Padahal sudah kita coret, sudah diverifikasi datanya. Tetep metu maleh (dapat bantuan lagi). Ngoten ndan, mumet aku,” ucapnya.

Kecemburuan Sosial

Hal itu membuat kecemburuan sosial bagi warga. Pihaknya juga kebingungan, karena bantuan tidak bisa dialihkan kepada yang berhak.

Baca Juga:  HLN Ke-78, Presiden Jokowi Beri Selamat ke PLN, Berpesan untuk Wujudkan Ketahanan Energi hingga Menerangi Pelosok Negeri

“Ada lagi cerita teman kami di Cawas. Itu Kadesnya dapat bantuan, Sekdes dapat. Kan aneh. Tapi mereka juga tidak bisa apa-apa, diambil tidak bisa, dialaihkan juga tidak bisa. Tulung njenengan aturaken Bu Risma (tolong sampaikan ke bu Risma),” imbuhnya.

Joko juga menceritakan kisah salah satu koleganya di Desa Nanggulan. Di desa itu,  seharusnya ada 261 warga yang dapat PKH, tapi 40 orang dicancel. “Padahal itu banyak jandanya pak, tolong diaktifkan. Sudah diverifikasi dan diusulkan, tapi nyatanya yang keluar itu lagi itu lagi, tidak ada perbaikan,” pungkasnya.

Kesemerawutan data Bansos juga disampaikaikan pengelola desa lainnya. Kepala Dusun di Desa Barongan, Suyuti misalnya. Dia mengatakan jika terjadi dobel data saat penerimaan bansos.

Baca Juga:  Tanggul Pantai Marina Jebol, Vila Marina Dilanda Banjir

“Kami tidak dilibatkan dalam verifikasi data. Akhirnya, penyaluran bantuan tidak sesuai. Banyak yang dobel-dobel pak, ada yang sudah dapat PKH, tapi dapat juga BST. Bahkan ada satu rumah itu dapat lima bantuan pak,” ucap Suyuti.

Pihaknya mengatakan sudah melaporkan hal itu pada petugas pengelola data. Namun sampai sekarang, belum ada perbaikan.

“Di desa kami juga sama pak, tidak merata dan tidak tepat sasaran. Ada yang dapat dobel-dobel. Ada yang mengeluh tidak dapat bantuan. Sementara yang tidak dapat, kami kasih dari Dana Desa. Buat menenangkan,” kata Kades Plawikan, Lilik Ratnawati. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *