Pengembangan Kawasan Pariwisata Pada 4 Kabupaten

YOGYAKARTA (AWAL.ID) – Ada sesuatu yang menggelitik dalam acara webinar nasional

Jateng Selatan – DIY “Beyond Pandemic” Sesi 2: Perspektif Pariwisata dan Budaya yang diselenggarakan oleh THINK PR dan didukung MAW Talk, 10 November 2020, secara daring.

Gunungkidul, kabupaten yang berslogan, “belum ke Jogja kalo belum ke Gunungkidul” melalui bupatinya mengatakan, “Gunungkidul selama ini memiliki narasi dan stigma negatif, sehingga membuat masyarakat malu menyebut daerah asalnya. Yang kami lakukan adalah membalikkan semua stigma yang melekat itu dengan mengangkat potensi wisata dan Berhasil!”,jelas Badingah, wanita yang sudah 15 tahun duduk di tampuk jabatan teratas pemerintahan kabupaten Gunungkidul.

Saat ini, pariwisata menjadi pintu gerbang perekonomian di Gunungkidul.

Investasi Infrastruktur

Pariwisata memberikan kontribusi untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatan pendapatan. Kita juga setuju bahwa pariwisata memainkan peranan penting dalam mendorong investasi pada infrastruktur baru seperti hadirnya Yogyakarta International Airport (YIA) yang ada di kabupaten Kulon Progo, merupakan gerbang utama wisatawan menuju Candi Borobudur yang berada di kabupaten Magelang dan semua tempat wisata di area Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian Selatan.

Baca Juga:  Jaksa Agung ST Burhanuddin Serahkan Hewan Kurban pada Acara Idul Adha 1445 H/2024 M

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Magelang, Iwan Sutiarso mengatakan, rancangan tol dari Semarang-Yogyakarta serta rencana (masih dalam masa studi) kereta api yg akan melintasi Kabupaten Magelang diharapkan bisa menambah jumlah kunjungan wisatawan.

Iwan berujar, “Pariwisata seharusnya tidak hanya mendatangkan banyak orang namun juga dibutuhkan quality tourism. Harapannya akan ada length of stay dan spending of moneynya tinggi sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”

Pariwisata Dimasa Pandemi

Sektor yang terdampak cukup parah pada saat pandemi adalah sektor pariwisata dan ekosistimnya. Ditutupnya obyek wisata, anjuran “di rumah saja” merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang membuat dunia pariwisata cukup terpuruk.

Moderator pada sesi 2 ini, Dr. Luh Micke Anggraini, dosen Pariwisata Universitas Bali Dwipa, Denpasar, mengatakan sebaiknya memang harus tetap berhati-hati membuka daya tarik wisata, agar justru tidak menjadikannya cluster baru.

Doktor Pariwisata asli Bali yang sudah 30 tahun berkecimpung di dunia pariwisata memberi masukan kepada para kepala daerah tersebut, “Dalam industri pariwisata, kita harus bisa dengan cepat mengatakan kepada wisatawan tourist destination yang beken di daerah masing-masing. Misalnya, dengan cepat saya, sebagai pemimpin daerah bisa mengatakan dimana kalau mau mencari kuliner khas kabupaten daerah kepada wisatawan.”

Baca Juga:  Raja KGPAA Mangkunegaran IX Solo Wafat di Jakarta karena Penyakit Jantung

Jalinan Rajutan Kerjasama Antar Kabupaten

Sinergi antar kabupaten bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Mari kita simak yang sudah dilakukan oleh kabupaten Kulon Progo, kabupaten Purworejo dan kabupaten Magelang. Hal ini tertuang dalam kolaborasi Gelang Projo.

Bupati Kulonprogo, Drs. H Sutedjo, menceritakan programnya kepada audiens webinar, “Candinya (Candi Borobudur) ada di kabupaten Magelang, tapi pengembangan strategis tidak hanya pada titik candi berdiri. Ada Glamping Deloano ditempuh dengan aksesibilitas melalui Kulonprogo biarpun posisinya masuk ke wilayah Kabupaten Purworejo”, jelasnya.

“Badan Ototrita Borobudur menindak lanjuti KSPN Borobudur yang dikembangkan dalam cakupan kawasan yang salah satunya ada Kulonprogo. Ada Ratas (Rapat Terbatas) yang dipimpin oleh bapak Jokowi sendiri yang mengundang semua bupati dikawasan tersebut. Pengembangan akses wisata penyangga Borobudur ini terus dilakukan sejak 2 tahun ini”, tutup Bupati Kulon Progo.

Baca Juga:  Di CEO Forum 2024, Dirut PLN Ajak Selaraskan Langkah Wujudkan Mimpi Indonesia

Sementara Wakil Bupati Banyumas, Sadewo, memberi penjelasan mengenai sinergitas wisata alam yang dilakukan antar desa di Banyumas. Sadewo memberi penjelasan sedikit mengenai perjalanan sinergi yang terbentuk, dimana antar desa tersebut sadar bahwa jika mereka tetap mengedepankan egoisisme masing-masing, maka pariwisata alam ini tidak akan maju malah akan semakin hancur.

“Hasil dari sinergi antar desa wisata alam di Banyumas ini sangat terasa sekarang, dimana telah terbentuk 15 desa wisata alam yang telah dibuka dengan system pembayaran cashless. Kerjasama dengan Bank Jateng”, tutur Sadewo dalam perbincangan dengan moderator Dr. Luh Micke Anggraini.

Rangkaian program Jateng Selatan-DIY tidak berhenti di acara webinar nasional ini. Think PR bersama dengan MAW Talk akan mengahadirkan kembali Dialog Bisnis 1, pada tanggal 18 November 2020, “Mencari Terobosan dan Peluang Baru Bagi Pengembangan Pariwisata ke Depan” melalui sisitim daring zoom.

Dilanjutkan keesokan harinya dengan Dialog Bisnis 2, pada tanggal 19 November 2020, “Mencari Terobosan dan Peluang Baru Bagi Pengembangan Bisnis dan UMKM”, yang dimulai pada pukul 12.45 – 15.00.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *