Kasus Covid Jateng Disebut Tertinggi, Ternyata Menurut Gubernur Ganjar Itu Data Delay

Gubernur Ganjar Pranowo berbincang dengan Wagub Taj Yasin Maimoen di sela Rapat Penanganan Covid-19 dengan Kabupaten/Kota se Jawa Tengah melalui zoom, Senin (2/8)
Gubernur Ganjar Pranowo berbincang dengan Wagub Taj Yasin Maimoen di sela Rapat Penanganan Covid-19 dengan Kabupaten/Kota se Jawa Tengah melalui zoom, Senin (2/8)

SEMARANG (Awal.id) – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menegaskan tren kasus Covid-19 di Jateng menunjukkan penurunan. Bahkan, Ganjar mengatakan kondisi Jateng sudah mulai membaik, namun belum baik.

“Saya senang dapat laporan tenda-tenda di rumah sakit sudah dibongkar. Hari ini tenda di Rumah Sakit Tugurejo sudah dibongkar. BOR (Bed Occupancy Rate) juga sudah aman. Tapi saya katakan jangan lengah dan tetap disiplin tinggi,” kata Ganjar usai memimpin rapat evaluasi penanganan Covid-19 di kantornya, Senin (2/8).

Baca Juga:  Tutup PPPJ Angkatan 79, Jaksa Agung Ingatkan Jaksa Jangan Tergoda Lakukan Penyimpangan

Meski menunjukkan angka penurunan, Ganjar mengatakan semua pihak harus tetap siaga. Sebab menurutnya, kalau tambahan kasus masih ribuan, maka itu belum baik.

“Kalau sehari tambah 87 kasus, di bawah 100. Itu baru baik. Kalau masih ribuan ya belum baik. Maka saya minta jangan lengah, kita butuh disiplin tinggi agar menurunnya tajam,” imbuhnya.

Ia juga mengomentari terkait berita beberapa waktu lalu yang menyebut kasus Jateng tertinggi nasional. Menurutnya, tingginya kasus Jateng itu dikarenakan adanya data delay yang diinjeksi.

Baca Juga:  KONI Kota Semarang Gelar Rapat Pleno, Pandemi Covid-19 Tak Halangi Pembinaan Atlet

“Data menjadi perbincangan. Jateng tertinggi, wah ramai sekali. Saya bilang, nggak papa, wong itu ada data delay. Ada data yang diinjek ke sana,” terangnya.

Menurut Ganjar, masih ada data kasus dari Jateng yang belum terlaporkan. Dan itu di Pusat banyak.

“Maka data Jateng lebih tinggi dari data pusat. Yang terjadi, setelah data itu diklarifikasi, biasanya dari pusat dimasukkan. Itulah yang kita sebut data injek. Jadi disuntikkan karena dulu belum. Itu yang terjadi, sehingga kadang-kadang datanya seperti itu,” tegasnya.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Resmi Lantik Jenderal Andika Jadi Panglima TNI

Selain data kasus Covid-19, Ganjar juga menyoroti data-data lainnya. Termasuk data kematian, penambahan kasus, kesembuhan, termasuk data vaksin. Menurutnya, data vaksin di beberapa Kabupaten/Kota masih belum diinput dengan disiplin.

“Tadi di rapat ada kasus, ternyata vaksin di beberapa Kabupaten/Kota masih banyak. Di aplikasi Smile itu masih banyak, kok mereka bilang sudah habis. Jangan-jangan sudah disuntikkan tapi belum diinput, atau jangan-jangan belum disuntikkan sama sekali,” tegasnya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *