Uang Mengalir Tak Sekadar Habis, AstraPay Menjaga Agar Tak Menangis

DOK. ILUSTRASI : Iko terlihat memanfaatkan kemudahan pembayaran digital dengan membayar cicilan motor melalui AstraPay, sebagai langkah praktis yang menghemat waktu di tengah aktivitas sehari-hari.

SEMARANG (Awall.id) – Hari gajian biasanya membawa suasana yang berbeda di kantor. Ada yang mengajak makan bersama, ada yang mulai membuka aplikasi belanja untuk melihat promo, ada pula yang sibuk menghitung rencana akhir pekan.

Iko (27) tidak termasuk di antaranya, begitu penghasilannya masuk, ia justru membuka daftar tagihan.

Ada satu kewajiban yang selalu ingin ia tuntaskan sebelum uang itu dipakai untuk kebutuhan lain yaitu cicilan motor.

Baginya urusan membayar angsuran tak perlu menunggu malam atau akhir pekan, di sela waktu istirahat pun ia cukup membuka AstraPay, nominal angsuran sudah muncul di layar, dan beberapa detik kemudian pembayaran pun selesai.

“Kalau cicilan langsung dibayar, saya lebih tenang. Setelah itu baru mengatur kebutuhan lainnya,” kata karyawan swasta di Kota Semarang itu, Kamis (25/6).

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di balik kebiasaan tersebut tersimpan perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar berganti cara membayar.

Dulu, membayar cicilan selalu membutuhkan waktu khusus karena harus menyesuaikan jadwal kerja dengan jam operasional loket. Saat pekerjaan sedang padat, pembayaran kerap bergeser mendekati tanggal jatuh tempo. Yang tertunda bukan kemampuan untuk membayar, melainkan kesempatan untuk melakukannya.

Situasi itu perlahan berubah ketika pembayaran dapat dilakukan melalui telepon genggam. Hambatan waktu menghilang, yang sebelumnya menjadi pekerjaan yang harus dijadwalkan kini berubah menjadi rutinitas yang bisa diselesaikan dalam hitungan menit.

Baca Juga:  Komdigi dan Indosat-Cisco-NVIDIA Bangun Pilar AI Nasional Bertaraf Dunia

Perubahan kecil itu ternyata memengaruhi cara Iko menyusun keuangannya.

Setiap awal bulan, cicilan menjadi pengeluaran pertama. Sesudah itu, ia baru menghitung kebutuhan lain: uang makan, transportasi, tabungan, hingga kebutuhan yang sifatnya tidak mendesak. Dengan cara itu, ia mengetahui sejak awal berapa uang yang benar-benar masih tersedia.

Yang membuatnya bertahan dengan kebiasaan tersebut bukan semata karena proses pembayaran lebih praktis. Ia merasa lebih mudah membaca kondisi keuangannya sendiri.

Setiap transaksi tersimpan otomatisz riwayat pembayaran yang dulu tercecer dalam bentuk struk kini terkumpul di satu tempat. Sesekali ia membukanya kembali, bukan untuk memastikan pembayaran berhasil, melainkan untuk melihat pola pengeluaran yang selama ini mungkin luput dari perhatian.

“Saya jadi tahu uang paling banyak habis di mana. Dari situ bisa dipikirkan lagi apa yang harus dikurangi,” ungkapnya.

Tanpa disadari, telepon genggam yang sebelumnya hanya menjadi alat pembayaran berubah menjadi alat evaluasi.

Perubahan seperti yang dialami Iko semakin mudah ditemukan.

Pembayaran digital telah mengubah cara masyarakat Indonesia menyelesaikan berbagai kewajiban finansial. Membayar tagihan listrik, membeli pulsa, membayar cicilan, hingga berbelanja kebutuhan harian kini dapat dilakukan tanpa berpindah tempat.

Skala perubahannya pun tidak kecil. Nilai transaksi dompet digital di Indonesia telah mencapai sekitar Rp712 triliun dengan volume lebih dari 15,8 miliar transaksi. QRIS digunakan oleh lebih dari 58,3 juta pengguna aktif dengan pertumbuhan transaksi tahunan mencapai 162 persen. Sementara layanan paylater juga semakin akrab dan digunakan sekitar 23 persen masyarakat.

Baca Juga:  Jangan Sampai Anak Muda Jadi Korban, Ganjar Sepakat Persoalan Mental Health Mendapat Perhatian Serius

Deretan angka tersebut memperlihatkan bahwa pembayaran digital bukan lagi kebiasaan kelompok tertentu. Ia telah menjadi bagian dari denyut aktivitas ekonomi sehari-hari.

Namun, semakin mudah transaksi dilakukan, semakin besar pula tantangan yang muncul.

Dalam beberapa detik seseorang dapat menyelesaikan pembayaran. Dalam hitungan detik yang sama, seseorang juga dapat membeli sesuatu yang sebenarnya tidak pernah direncanakan.

Kemudahan teknologi menghapus banyak hambatan, tetapi ia tidak otomatis membuat seseorang lebih bijak menggunakan uangnya.

Karena itu, perhatian terhadap literasi keuangan menjadi semakin penting.

Otoritas Jasa Keuangan menyebut literasi keuangan sebagai essential life skill. Kemampuan tersebut mencakup kecakapan memahami prioritas pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, menghindari pinjaman ilegal, serta mengambil keputusan finansial yang lebih rasional.

Bagi sebagian orang, literasi keuangan identik dengan investasi atau perencanaan aset. Padahal, praktiknya sering kali dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang diambil berulang setiap bulan.

Keputusan seperti membayar kewajiban terlebih dahulu sebelum memenuhi keinginan.

Kebiasaan itu pula yang dibaca AstraPay.

Sejak diluncurkan, aplikasi ini berkembang sebagai layanan pembayaran digital di ekosistem Astra. Salah satu fitur yang banyak dimanfaatkan pengguna adalah pembayaran angsuran kendaraan, baik melalui FIFGROUP untuk sepeda motor maupun ACC untuk pembiayaan mobil.

Baca Juga:  55 Wasit, Juri, dan Pelatih Muaythai Ikuti Refreshing di Semarang

Bagi pengguna, kemudahan tersebut bukan sekadar memangkas waktu. Pembayaran dapat dilakukan kapan saja tanpa harus menyesuaikan jam operasional loket.

Seluruh riwayat transaksi juga tersimpan sehingga memudahkan pengguna memantau pengeluaran.

CEO AstraPay, Rina Apriana, mengatakan pertumbuhan transaksi digital menunjukkan semakin kuatnya adopsi masyarakat terhadap pembayaran nontunai.

“Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat semakin mengadopsi transaksi digital untuk kebutuhan sehari-hari. Kami percaya pertumbuhan ini tidak hanya mencerminkan angka, tetapi juga menunjukkan perubahan perilaku konsumen menuju cashless society,” ujarnya.

Bagi Iko, perubahan perilaku itu terasa dalam bentuk yang paling sederhana.

Hari gajian tidak lagi identik dengan keinginan untuk segera membelanjakan uang. Hari itu justru menjadi saat untuk menyelesaikan kewajiban lebih dulu.

Sesudah cicilan lunas, ia baru menyusun pengeluaran hingga akhir bulan. Berapa yang dapat disimpan, berapa yang boleh digunakan, dan berapa yang sebaiknya tetap dibiarkan berada di rekening.

Tidak ada rumus keuangan yang rumit, tidak ada target investasi yang muluk, hanya satu kebiasaan yang terus diulang setiap bulan, yaitu menyelesaikan kewajiban lebih dahulu.

Mungkin, di tengah laju transaksi digital yang terus bertambah, kebiasaan sederhana itulah yang menjadi bentuk paling nyata dari kecerdasan finansial.

Karya : Lia Wahyu A

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *