UKM Pilus USM Gelar Malam Renungan AIDS Nusantara 2025

SEMARANG (Awall.id) – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pusat Informasi dan Layanan Konseling (Pilus) Universitas Semarang (USM) menyelenggarakan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2025 di Ruang BEM Universitas Semarang Menara Lantai 4, baru-baru ini.

Kegiatan yang mengambil tema ”Malam Diam, Hati Bicara: Melawan Stigma, Memulihkan Harapan” itu diikuti anggota internal UKM Pilus.

Kegiatan dibuka Ketua Panitia, Zahra Aulia Ramadhani.

Dalam sambutannya, Zahra memberikan apresiasi seluruh panitia dan peserta yang telah mengikuti kegiatan.

Baca Juga:  Peringatan Waisak 2023 Dimulai 21 Mei, Ini Rangkaian Lengkapnya

Dia berharap, melalui MRAN 2025, peserta dapat menjadi lebih peka dan empati terhadap pejuang HIV/AIDS.

”Kami menggandeng Duta GenRe Kota Semarang, yaitu Harlan A. Ganur dan Fadhilah Aulia untuk memberikan pemaparan tentang HIV/AIDS, penularan, pencegahan, serta pentingnya dukungan sosial terhadap ODHA,” katanya.

Respons peserta cukup tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan dalam sesi diskusi yang membahas pencegahan HIV/AIDS, pemahaman ilmiah, serta dampak stigma sosial.

Baca Juga:  Semarang Jadi Kota Pertama Lengkap Sertifikat PTSL di 2023

Harlan berharap, melalui sesi materi, diskusi, dan renungan malam, peserta belajar untuk memahami lebih dalam tentang HIV/AIDS bukan hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.

Selain itu juga menghapus stigma, menumbuhkan empati, serta membangun lingkungan kampus yang inklusif adalah langkah kecil yang berdampak besar.

Sesi Renungan Malam menjadi puncak kegiatan, di mana ruangan dibuat gelap, lilin dinyalakan sebagai simbol harapan, kesyahduan suasana menggambarkan dukungan moral terhadap mereka yang hidup dengan HIV/AIDS dan para korban yang telah meninggal.

Baca Juga:  Vaksinasi Jateng, Ini Tiga Daerah Pertama yang Siap Melaksanakan

Peserta menuliskan pesan empati untuk ODHA melalui _sticky notes_ yang ditempelkan pada papan yang sudah disediakan.

”Kami mengajak peserta untuk menghentikan stigma, memupuk empati, dan membangun kampus inklusif,” ungkapnya.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *