Manfaatkan Lahan Bekas Penambangan, Kebonbatur akan Buat Desa Wisata di Brown Canyon

DEMAK (Awal.id) – Kepala Desa Kebonbatur, Mranggen, Demak, yang baru saja terpilih, MA Fatoni menyatakan akan membuat desa wisata di Brown Canyon. Tempat wisata berupa ngarai bekas penambangan batu padas itu memang banyak dikunjungi warga di sore hari untuk selfie.
“Nanti akan kami bentuk Bumdes untuk mengelola desa wisata tersebut,” ungkap MA Fatoni, di Demak, Senin (21/2).
Fatoni menjadi kades PAW (Pergantian Antar Waktu), setelah lurah sebelumnya meninggal. Dia berniat untuk menyejahterakan warga desanya. Pria yang pernah bekerja di Jepang ini memantapkan diri untuk kembali maju dalam pilkades belum lama ini, dan terpiih sebagai kepala desa. Pada pilkades sebelumnya, Toni panggilan akrab MA Fatoni, gagal terpilih.
Toni mengakui untuk membuat desa wisata di Brown Canyon bukan perkara yang mudah. Ini mengingat, jalan menuju lokasi wisata itu belum diaspal, masih jalan padas. Jika diguyur hujan, jalan menjadi licin sehingga tidak akan nyaman dilewati.
Meski demikian, lanjut Toni, potensi untuk mengelola kawasan wisata ini sangat besar. Lahan seluas 8 hektar milik banda desa atau milik Desa Kebonbatur memiliki panorama alam yang indah dengan padas-padas yang menjulang tinggi.

Kades Kebonbatur MA Fatoni
Sebagai kepala desa yang baru, Toni berupaya melakukan pembenahan internal pada para perangkat desanya. “Jam kerja ditetapkan jam 08.00 hingGA 14.00. Selain itu perlu kedisiplinan dalam memberikan pelayanan. Dan para perangkat harus tahu tugas dan fungsinya masing-masing,” jelasnya.
Untuk itu, sebagai lurah dirinya harus bisa menjadi teladan untuk anak buahnya. “Saya harus berada di kantor kelurahan dari pukul 08.00 hingga 14.00. Kehadiran saya tepat waktu ini untuk mematik pegawai keluarahan agar bisa bekerja tepat waktu untuk memberikan pelayanan terbaik untuk warganya,” kata Toni.
Selain keindahan alam Brown Canyon, menurut Toni, potensi lain di Desa Kebonbatur adalah usaha pembuatan sangkar burung di RW 7, 8 dan 9 di Kadilangon. Warga setempat membuat sangkar burung dari limbah kayu jati dan dipasarkan hingga keluar pulau Jawa.
“Di Desa Kebonbatur juga banyak petani yangh menanam kunir. Kami sedang berupaya untuk membentuk koperasi, sehingga bisa menampung hasil panen kunir,” paparnya. Dengan adanya koperasi nanti, diharapkan petani tak lagi menjual hasil panenannya ke tengkulak. (*).



















