Detail Menentukan Kenyamanan, Vivace E Schneider Electric Jadi Andalan Pemilik Kos di Semarang

SEMARANG (Awall.id) – Di sebuah kawasan pendidikan di Kota Semarang, deretan rumah kos tumbuh bak jamur di musim hujan.
Dekat dengan kampus-kampus ternama, bisnis indekos menjadi denyut ekonomi masyarakat sekitar. Beragam konsep ditawarkan, mulai dari kos eksklusif berfasilitas premium hingga hunian sederhana dengan tarif ramah kantong mahasiswa.
Namun, di tengah persaingan itu, ada satu hal yang mulai berubah yaitu mahasiswa tak lagi sekadar mencari tempat tidur dan kamar mandi melainkan mereka juga mencari rasa nyaman, keamanan, sekaligus estetika.
Hal itulah yang dibaca oleh Suparti (53), pemilik kos putri dengan 21 kamar itu memahami betul perubahan karakter generasi muda, khususnya mahasiswi yang datang dari berbagai daerah di luar Pulau Jawa untuk menempuh pendidikan di Semarang.
Baginya, kos bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang hidup yang harus memberi rasa nyaman layaknya rumah kedua.
Maka, sejak awal membangun dan mengembangkan indekosnya, Suparti memilih jalan berbeda. Ia tak hanya menyediakan fasilitas dasar seperti kasur, lemari pakaian, serta kamar mandi modern, tetapi juga memberi perhatian serius pada detail interior yang kerap dianggap sepele.
Dinding kamar ditata dengan nuansa hangat, pencahayaan dibuat lembut namun cukup terang, dan setiap sudut ruang dirancang agar terlihat bersih, modern, sekaligus nyaman dipandang.
“Mahasiswi sekarang itu mencari kenyamanan, tapi juga keindahan. Kalau tempatnya nyaman dan estetik, mereka betah,” tutur Suparti saat ditemui di kos miliknya, Rabu (20/5).
Pilihan Suparti ternyata sejalan dengan perubahan tren hunian mahasiswa saat ini.
Berdasarkan survei platform pencarian kos berbasis aplikasi Android dan iOS, sebanyak 98 persen mahasiswa memilih tempat tinggal yang dekat dengan kampus.
Selain itu, 88 persen mempertimbangkan akses ke tempat makan, 52 persen memilih lokasi dekat tempat ibadah, 49 persen mempertimbangkan akses internet, 11 persen dekat area nongkrong seperti kafe, dan 5 persen dekat pusat perbelanjaan.
Namun di luar faktor lokasi, kenyamanan visual perlahan menjadi pertimbangan baru.
Suparti menyadari bahwa detail kecil justru sering meninggalkan kesan besar.
Karena itu, ia memperhatikan pemilihan pencahayaan lampu hingga elemen kelistrikan seperti saklar dan stopkontak yang kerap luput dari perhatian pemilik kos.
“Kalau desainnya sudah bagus tapi detail kecilnya tidak mendukung, rasanya kurang pas,” ujarnya.
Untuk kebutuhan tersebut, Suparti memilih lini saklar dan stopkontak Vivace E dari Schneider Electric.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, desain Vivace E yang ramping dan modern mampu menyatu dengan konsep interior elegan yang ia bangun.
Alih-alih tampil mencolok, saklar dan stopkontak justru menjadi elemen pemanis ruang yang tampak sederhana, tetapi memberi kesan rapi dan berkelas.
Suparti mengaku salah satu fitur yang paling membantu penghuni adalah keberadaan USB charger socket. Fitur ini mempermudah mahasiswi mengisi daya perangkat elektronik tanpa perlu membawa banyak adaptor tambahan.

Detail interior modern semakin lengkap dengan penggunaan saklar dan stopkontak Vivace E Schneider Electric yang menghadirkan tampilan estetis, rapi, serta mendukung kenyamanan hunian masa kini.
Bagi mahasiswa yang aktivitas kuliahnya sangat bergantung pada gawai, mulai dari mengakses materi pembelajaran, mengikuti kelas daring, hingga menyelesaikan tugas kampus, kemudahan kecil semacam ini justru terasa penting.
“Rasanya jadi lebih lengkap. Penghuni juga lebih nyaman,” katanya.
Di balik tampilannya yang modern, Vivace E juga menawarkan kemudahan dari sisi teknis. Desain instalasinya dirancang lebih praktis bagi teknisi listrik sehingga proses pemasangan menjadi lebih cepat dan hasilnya lebih presisi.
Bagi Suparti, kenyamanan penghuni bukan hanya soal fasilitas mewah, melainkan bagaimana setiap elemen di dalam kamar dapat berfungsi baik sekaligus menghadirkan rasa aman.
Prinsip itu pula yang membuat kos putrinya banyak diminati. Selain konsep interior modern, kebersihan menjadi nilai utama yang ia tanamkan kepada para penghuni.
Sosok Suparti yang dikenal telaten dan menjaga kebersihan menjadi contoh langsung bagi mahasiswi yang tinggal di sana untuk ikut merawat fasilitas bersama.
Di tengah berkembangnya tren hunian modern, kebutuhan masyarakat terhadap perangkat kelistrikan kini memang tak lagi sekadar fungsi teknis.
President Director Schneider Electric Indonesia & Timor-Leste, Martin Setiawan, menilai konsumen kini menginginkan keseimbangan antara keamanan dan desain dalam satu solusi.
“Kami melihat kebutuhan hunian modern di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan kualitas, keamanan, dan estetika ruang. Konsumen tidak lagi memilih antara desain atau keamanan, mereka menginginkan keduanya dalam satu solusi yang seimbang,” ujarnya saat peluncuran Vivace E di Jakarta, baru-baru ini.
Vivace E sendiri hadir dengan desain slim dan frameless yang dirancang menyatu dengan berbagai konsep interior modern.
Produk ini tersedia dalam empat pilihan warna, yakni White, Black, Wine Gold, dan Light Grey.
Pendekatan desain tersebut mengikuti tren interior global 2026 bertajuk less but better atau warm minimalism, ketika setiap elemen ruang dituntut tak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika.
Di tengah padatnya persaingan bisnis kos di Semarang, pendekatan seperti yang dilakukan Suparti tampaknya menjadi jawaban atas kebutuhan generasi baru penghuni indekos yaitu tempat tinggal yang tak harus mahal, tetapi terasa nyaman, aman, dan tetap sedap dipandang.
Sebab bagi banyak mahasiswa perantau, kamar kos bukan lagi sekadar ruang untuk pulang setelah kuliah.
Ia telah berubah menjadi ruang belajar, tempat beristirahat, sekaligus sudut kecil yang merepresentasikan gaya hidup mereka. (Lia)




















