Dorong Perencanaan Lingkungan Berbasis Data, Tim KKN-T 36 UNDIP Petakan Kerapatan Vegetasi Desa Tangkisan dengan Metode NDVI
PURWOREJO (Awall.id) – Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 36 Universitas Diponegoro (UNDIP) melakukan pemetaan kerapatan vegetasi di Desa Tangkisan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, sebagai upaya mendorong perencanaan lingkungan desa berbasis data.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (2/2/2026) oleh mahasiswa UNDIP, Mahayya Gita Siregar dan Muh. Raffi Rayendra Ichsan.
Pemetaan dilakukan menggunakan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), yakni teknik analisis citra penginderaan jauh untuk mengetahui tingkat kerapatan vegetasi suatu wilayah secara kuantitatif.
Kegiatan ini diarahkan untuk mendukung perencanaan pembangunan desa yang berwawasan lingkungan, khususnya terkait pengelolaan limbah ternak dan rencana pengembangan biodigester.
“Analisis NDVI kami lakukan untuk memperoleh gambaran objektif mengenai kondisi tutupan vegetasi di Desa Tangkisan. Data ini penting sebagai dasar perencanaan lingkungan agar pembangunan desa tidak mengabaikan aspek keberlanjutan,” ujar Mahayya Gita Siregar, mahasiswa KKN-T 36 UNDIP, belum lama ini.
Dalam prosesnya, data citra satelit diklasifikasikan ke dalam lima kelas kerapatan vegetasi, yakni non-vegetasi, vegetasi sangat rendah, vegetasi rendah, vegetasi sedang, dan vegetasi tinggi.
Hasil analisis tersebut kemudian disajikan dalam bentuk peta tematik yang dioverlay dengan batas administrasi desa, jaringan jalan, sungai, sebaran peternakan sapi, serta lokasi biodigester eksisting dan rencana pengembangannya.
Berdasarkan hasil pemetaan, wilayah Desa Tangkisan didominasi oleh kelas vegetasi sedang hingga tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa tutupan lahan berupa pertanian, perkebunan, dan vegetasi pekarangan masih relatif terjaga.
Vegetasi dengan kerapatan tinggi terkonsentrasi di bagian selatan hingga barat daya desa yang mayoritas merupakan lahan pertanian produktif.
Sementara itu, kelas vegetasi rendah hingga sangat rendah ditemukan pada area terbangun, lahan terbuka, serta sawah pada fase pascapanen. Adapun kelas non-vegetasi umumnya berada di kawasan permukiman dan jaringan infrastruktur.
Muh. Raffi Rayendra Ichsan menjelaskan bahwa metode NDVI dipilih karena mampu menyajikan data spasial yang terukur dan mudah dipahami oleh pemangku kepentingan di tingkat desa.
“Dengan peta NDVI ini, pemerintah desa dapat melihat secara langsung kondisi vegetasi di setiap wilayah. Harapannya, data ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pembangunan,” kata Raffi.
Hasil analisis juga menunjukkan bahwa sebagian besar lokasi peternakan sapi, termasuk UD Bina Lestari dan peternakan milik warga, berada pada zona dengan kerapatan vegetasi sedang hingga tinggi.
Hal tersebut mengindikasikan lingkungan peternakan yang masih mendukung, baik untuk ketersediaan hijauan pakan maupun kenyamanan mikroklimat.
Namun demikian, Tim KKN-T 36 UNDIP menemukan beberapa titik peternakan yang berada di zona NDVI rendah, yang diduga mengalami konversi lahan vegetasi menjadi area terbangun atau lahan terbuka.
“Pada beberapa lokasi, terlihat adanya penurunan kerapatan vegetasi. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kualitas lingkungan di sekitar kawasan peternakan,” jelas Mahayya.
Selain itu, data NDVI turut dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam penentuan lokasi rencana pengembangan biodigester di Desa Tangkisan.
Lokasi pengembangan diprioritaskan pada zona vegetasi sedang karena dinilai tidak mengganggu area dengan vegetasi tinggi yang berfungsi sebagai penyangga ekologis, dekat dengan sumber limbah ternak, serta memiliki aksesibilitas yang baik.
“Meski berada di zona yang relatif ideal, pembangunan biodigester tetap harus disertai upaya mitigasi lingkungan, seperti penanaman vegetasi penyangga di sekeliling fasilitas,” tambah Raffi.
Melalui kegiatan pemetaan kerapatan vegetasi berbasis NDVI ini, mahasiswa KKN-T UNDIP berharap dapat berkontribusi dalam penyediaan data spasial lingkungan yang akurat dan aplikatif bagi pemerintah desa.
Integrasi data tutupan vegetasi dengan rencana pengembangan infrastruktur desa diharapkan mampu mendorong pembangunan yang lebih terarah, adaptif terhadap kondisi lingkungan, serta selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan di Desa Tangkisan.***



















