Sr Veronica MC Tekankan Dua Hal Penting Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia
by Redaksi ·
SEMARANG (Awall.id) – Paus Fransiskus, Kepala Negara Tahta Suci (Vatikan) dan juga Kepala Gereja Katolik Se-dunia, akan mengunjungi Indonesia pada 3-6 September 2024. Vatikan, meskipun kecil dengan luas hanya 44 ha atau 0,44 km² dan populasi sekitar 800 orang, memiliki pengaruh geopolitik besar dengan hubungan diplomatik terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Senin, (22/7).
Vatikan adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 6 Juli 1947. Sejarah hubungan Vatikan dengan Nusantara dimulai sejak 1321, saat Odorico da Pordenone OFM, seorang imam dari Ordo Fransiskan, mengunjungi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Rencana kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia memiliki makna penting bagi umat Katolik, umat beragama lainnya, dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Makna kunjungan ini akan dibedah dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tahta Suci (Vatikan) dan Ikatan Rohaniwan/Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi Roma (IRRIKA). Diskusi ini dimoderatori oleh Rm. Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya orang Indonesia yang menjadi pejabat di Vatikan. Dubes RI untuk Takhta Suci (Vatikan), Michael Trias Kuncahyono, akan membuka diskusi ini secara resmi.
Menurut Padre Marco Solo SVD, kunjungan Paus Fransiskus memiliki dua makna penting: hubungan diplomatik Indonesia-Vatikan dan kehadiran Gereja Katolik di Indonesia sejak abad ke-16 sebagai agama resmi. “Kedatangan Paus Fransiskus syarat makna, baik untuk bangsa dan negara, maupun untuk Gereja Katolik dan komunitas agama lainnya. Mengenal beliau dari sikap, tutur kata dan ajaran-ajarannya selama 11 tahun menjadi Paus adalah sangat penting untuk kita pahami setiap kata, ungkapan, dan sikapnya selama berada di negara kita. Mari kita sambut beliau dengan sukacita, rasa syukur, ramah berdasarkan adat istiadat ke-Nusantaraan kita,” ujar Rm. Markus Solo Kewuta, SVD melalui pesan WhatsApp.
Sr Veronica MC, Doktor Hukum Gereja dari Universitas Antonianum, menekankan dua hal penting dari kunjungan Paus Fransiskus: Fraternity (Persaudaraan) dan Compassion (Belarasa).
“Saya merasa diskusi ini akan seru karena para narasumbernya sangat menguasai permasalahan yang pengetahuan dan pengalamannya tidak perlu diragukan lagi. Saya harus belajar dari para pembicara lain karena itu penting untuk Indonesia di masa depan,” ujar Sr. Veronica MC.
Paus Fransiskus, Kepala Negara Tahta Suci (Vatikan) dan juga Kepala Gereja Katolik Se-dunia, akan mengunjungi Indonesia pada 3-6 September 2024. Vatikan, meskipun kecil dengan luas hanya 44 ha atau 0,44 km² dan populasi sekitar 800 orang, memiliki pengaruh geopolitik besar dengan hubungan diplomatik terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Vatikan adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 6 Juli 1947.
Sejarah hubungan Vatikan dengan Nusantara dimulai sejak 1321, saat Odorico da Pordenone OFM, seorang imam dari Ordo Fransiskan, mengunjungi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Rencana kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia memiliki makna penting bagi umat Katolik, umat beragama lainnya, dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Makna kunjungan ini akan dibedah dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tahta Suci (Vatikan) dan Ikatan Rohaniwan/Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi Roma (IRRIKA). Diskusi ini dimoderatori oleh Rm. Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya orang Indonesia yang menjadi pejabat di Vatikan. Dubes RI untuk Takhta Suci (Vatikan), Michael Trias Kuncahyono, akan membuka diskusi ini secara resmi.
Tema Diskusi: Memaknai Kunjungan Paus Fransiskus bagi Umat Beragama dan Bangsa Indonesia Hari: Selasa, 23 Juli 2024 Waktu: 19.00 WIB / 20.00 WITA / 21.00 WIT / 14.00 Waktu Italia (ECT)
Join Zoom Meeting: Link Zoom Meeting ID: 841 3188 5275
Passcode: 578616
Narasumber Diskusi:
- Ulil Abshar Abdalla (Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama/PBNU)
- Mgr Christophorus Tri Harsono (Uskup Keuskupan Agung Purwokerto/KWI)
- Prof Dr Komaruddin Hidayat MA (Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia)
- Dr Veronica Endah Wulandari MC (IRRIKA)
- Prof Syafiq A Mughni (Ketua PP Muhammadiyah bidang Hubungan Internasional dan Antaragama)
- Yenny Wahid (Direktur Wahid Institute)
- Prof Dr Sumanto Al Qurtuby (Dosen di King Fadh University of Petroleum and Minerals)



















