Masyarakat Sambut Positif Penanganan Krisis Pangan dengan Program Pendamping Beras

SEMARANG (Awall.id) – pendamping beras akhir-akhir ini mulai banyak dibicarakan masyarakat Kota Semarang. Hal itu setelah ancaman krisis pangan kembali menyeruak dan menjadi ‘momok’ mengerikan bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Termasuk masalah dampak kemarau panjang yang membuat beberapa wilayah kekeringan, sehingga produksi pertanian pun menurun.

Masyarakat pun didorong lebih memanfaatkan hasil pangan non-beras tersebut untuk menyikapi kemarau panjang ini.

Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Festival Pendamping Beras yang digelar Minggu (8/10/2023). Dalam festival pangan alternatif itu dikenalkan ulang 10 bahan pendamping beras. Di antaranya, jagung, sukun, pisang, singkong, talas, ubi, porang, sagu, hanjeli, dan sorgum.

Gagasan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu atau yang akrab disapa Mbak Ita tersebut disambut positif oleh banyak kalangan. Mufidatun (54), warga Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, misalnya. Ibu tiga anak ini menyambut baik kampanye yang dilakukan oleh Pemkot Semarang yang dipimpin Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Menurutnya, makanan pendamping beras adalah alternatif yang mudah didapatkan. Tidak perlu membeli ke pasar, dirinya bisa mengambil di halaman rumahnya. Seperti sukun, pisang, dan singkong. Mufidatun mengaku, sedari dulu telah menanam jenis-jenis tanaman tersebut.

“Misal pun beli, kita bisa mendapatkannya tidak mahal. Toh cara memasaknya juga tidak susah,” kata Mufidatun ditemui di rumahnya.

Harga beras yang tinggi ditambah musim kemarau dampak El Nino, kian menambah panjang persoalan ketahanan pangan. Dia mengakui bahwa dengan keadaan ini jika tidak segera diantisipasi akan membuat darurat pangan berkepanjangan.

“Belum lagi, katanya Rusia perang sama Ukraina dan ada juga perang Palestina sama Israel. Itu negara-negara kata Pak Jokowi juga sudah tidak kirim beras,” tuturnya.

Berangkat dari itu, Mufidatun melakukan berbagai upaya, minimal dalam lingkup keluarganya berkecukupan soal pangan. Dia menyatakan telah sejak dulu tidak bergantung dengan beras. Hal itu pula telah ditanamkan kepada anak-anaknya.

“Dulu, ibu saya selalu mengajari cara membuat gaplek, tiwul, dan nasi jagung. Jadi, saya dengan kondisi seperti ini Alhamdulillah tidak kaget,” ujarnya.

Mufidatun pun tak menutup pintu terhadap para tetangganya. Acap kali dia membagikan hasil olahan pangan non-beras tersebut beserta resep dan cara pembuatannya. “Maka itu, saya kok berpikir Mbak Ita ini punya semangat seperti saya. Perlu didukung menurut saya programnya,” tuturnya.

Apa yang diungkapkan Mufidatun diamini oleh Ahli Gizi Pangan Universitas Diponegoro, Fitriyono Ayustaningwarno. Lulusan program Doktor, Wageningen University, Belanda tersebut mengatakan, gagasan Mbak Ita perlu didorong maksimal.

Yusta, sapaan akrabnya mengatakan, makanan pendamping beras kini menjadi salah satu target pemerintah untuk menyikapi dampak kemarau kering. El Nino merupakan hal yang paling dikhawatirkan membuat pasokan beras menurun.

“Pendekatan untuk mengatasi El Nino ini perlu yang komprehensif, dengan festival pendamping beras adalah salah satu cara yang cukup efektif di awal-awal ini,” ujarnya, Senin (9/10/2023).

Yusta menyebut, nilai karbohidrat dan protein tak kalah dengan kandungan yang terdapat dalam beras. Mudahnya, kata dia, melihat isi piring yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan dapat menjadi rujukan.

“Agar bisa mengkonsumsi makanan seimbang untuk menghasilkan daya tahan tubuh yang aktif sepanjang hari. Tentunya harus dilengkapi dengan sumber protein, seperti tahu, tempe, ikan, dan telur,” tuturnya.

Hanya saja, Yusta mengatakan, festival gagasan Mbak Ita itu harus berkelanjutan. Dia menekankan pentingnya sosialisasi dan pendampingan terhadap kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar bisa memproduksi produk olahan non-beras.

“Yang perlu diperhatikan yaitu, kontinunitas bagaimana selalu ada di lingkungan sehingga konsumen bisa akses terus-menerus jadi tidak seremoni,” katanya.

Sebelumnya dalam Festival Pendamping Beras, Mbak Ita berharap masyarakat bisa lebih hemat karena mengurangi konsumsi beras. Ia mengatakan, melalui festival itu dapat mengantisipasi krisis pangan dan menghindari keluhan masyarakat jika harga beras naik.

“Mengajak bagaimana tanpa beras atau mengurangi konsumsi beras masih banyak variasi makanan yang bisa dihadirkan di rumah masing-masing. Dengan kandungan karbohidrat sama, beberapa bahan makanan asli Indonesia ini banyak yang lebih sehat daripada gandum dan beras,” kata Mbak Ita.

Mbak Ita menyatakan, stok beras di Kota Semarang masih aman hingga akhir tahun 2023. Stok perbulan yang dimiliki Kota Semarang yakni 8 ribu ton dan tidak akan dikurangi. Hanya saja, beras memang saat ini masih menjadi problem karena harganya yang naik.

Meski begitu, Mbak Ita memastikan program-program agar tidak ketergantungan dengan beras akan terus dilakukan. Dirinya juga akan menyediakan produk-produk pendamping beras untuk kebutuhan masyarakat.

“Masyarkat bisa berjuang dan tidak ada kata mengeluh harga beras dan gula naik. Ini bisa dimanfaatkan untuk berhemat,” tuturnya.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *