Pakar Bahasa Unnes : Akun Anonim Berpengaruh pada Kesantunan Bahasa

SEMARANG (Awall.id) – Peneliti bahasa Universitas Negeri Semarang (Unnes) Rahmat Petuguran menjelaskan bahwa penggunaan akun anonim di platform media sosial sangat memengaruhi kesantunan berbahasa di dunia maya.

“Kesantunan ini fitur penting dalam komunikasi, berbahasa, tetapi kenapa sulit diterapkan dalam komunikasi di media sosial? Salah satunya karena anonimitas dan psedoanonim,” katanya di Semarang, Sabtu (16/9).

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara Diskusi Kesantunan Berbahasa di Media Sosial yang diselenggarakan Balai Bahasa Jawa Tengah untuk kalangan pelajar dan mahasiswa.

Anonimitas, yakni identitas yang muncul di medsos biasanya adalah rekayasa dan tidak sepenuhnya asli, sebab orang cenderung menggunakan identitas samaran, baik nama, foto, dan sebagainya.

“Inilah yang membuat pengguna medsos kurang bertanggung jawab terhadap tuturan atau bahasa yang digunakan. Mereka beranggapan, ‘Orang lain enggak mungkin tahu itu yang nulis aku’,” ujarnya.

Selain anonimitas, kata Rahmat yang juga Kepala Humas Unnes itu, dua aspek lain, yakni asinkronitas dan longevity juga sangat memengaruhi tuturan atau kesantunan berbahasa di medsos.

Dari aspek hukum, pakar hukum pidana Universitas Diponegoro Semarang Prof Pujiyono menyampaikan bahwa selama ini banyak yang tidak paham bahwa tuturan di medsos harus dipertanggung jawabkan.

Siapapun, kata dia, bisa menjadi pelaku kejahatan dengan gadget, misalnya mengunggah sesuatu yang bermuatan penghinaan, padahal sudah diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Hadir pula sebagai pembicara panel, yakni Maria Fauzi, alumnus Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir yang juga pendiri situs muslim Neswa.id dan jurnalis senior Gunawan Permadi.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Jateng Dr. Syarifuddin menjelaskan bahwa kegiatan itu bertujuan untuk membekali generasi muda, terutama milenial dan generasi Z dalam kesantunan berbahasa.

“Bagaimana generasi muda bisa menggunakan bahasa sesuai konteks, salah satu yang diperhatikan adalah kesantunan. Apalagi, saat ini sudah ada UU Nomor 19/2016 tentang ITE,” katanya.

Kesantunan, kata dia, termasuk dalam berbahasa diperlukan agar terjadi efektivitas, kesinambungan, dan kenyamanan sehingga keberlangsungan komunikasi terjalin dengan baik.

Kegiatan tersebut diikuti setidaknya 100 peserta, terdiri atas 75 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan 25 siswa dari sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) di Semarang.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *