Festival Kaladesa, Memaknai Masa Merayakan Bentang Alam
SEMARANG (Awal.id) – Komunitas Salunding menggelar Festival Kaladesa yang difasilitasi melalui Program Hibah Pentas Seni. Festival tersebut berisi prosesi kebudayaan, diskusi budaya dan pertunjukan seni, yang digelar di Situs Watu Tugu, Kecamatan Tugurejo dan Omah Alas Kandri, Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang, Jumat (30/12).
Situs Watu Tugu yang terletak di sebuah bukit di Kecamatan Tugu, Kota Semarang yang berasal dari abad ke-8 hingga 10 Masehi merupakan bukti kekuatan yang menjadi penanda peradapan Semarang di masa lampau. Benda ini tergolong stupa di halaman Gedung Agung Yogyakarta.
Penggagas Festival Kaladesa, Tri Subekso menyampaikan, konsep Kaladesa merupakan satu kesatuan antara segara (laut) dan gunung.
“Dengan ini kita bisa memaknai masa, di mana kita berada dan makin tumbuhnya kesadaran untuk kita memperlakukan alam ini dengan lebih bijaksana. Lebih membangun keharmonisan antara manusia dengan lingkungannya,” papar Tri.
Tri mengatakan pembangunan yang sangat masif saat ini tak jarang menyebabkan perubahan landscape, berkurangnya sumber air dan sebagainya.
“Harapannya dengan kita mengadakan Festival Kaladesa ini bisa menyadarkan kembali bahwa sebenarnya kita ini bagian dari alam. Agar kita sadar untuk tidak semena mena memperlakukan alam dengan tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Tri Subekso
Gelaran Festival Kaladesa diawali di Situs Candi Tugu yang berisikan prosesi, pembacaan tiga manuskrip kuno yang menyebut kondisi lansekap tersebut meliputi Lelampahan Purwalelana, Bujangga Manik, dan Babad Tasring Alam dan penanaman bibit pohon lontar.
Dilanjutkan dengan pagelaran seni di Omah Alas, Desa Kandri, diramaikan dengan performer Sanggar Kebudayaan Omah Alas, Diskusi Budaya, Kali Jaro Turuno Mudo, Sanggar Songgo Budoyo Salatiga, Sangkar Seni Jodipati, Smara Kinanthi, UKM Kesenian Jawa Undip, Tridhatu, Sanggar Nyi Pandansari, dan Asunborneo.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Wing Wiyarso yang hadir pada acara tersebut menyampaikan Pemerintah Kota Semarang sangat mengapresiasi kegiatan Festival Kaladesa.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini saja. Bisa semakin ditingkatkan karena ini adalah potensi budaya yang sangat adi luhur,” imbuhnya. (is)



















