Aktif Bersosialisasi dan Ramah dengan Tetangga, Kunci Nyaman Tinggal di Rusunawa

SEMARANG (Awal.id) – Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Kudu di Kecamatan Genuk, Kota Semarang, memiliki sembilan blok, terdiri dari Blok A hingga Blok I.

Salah seorang penghuni adalah Supatmi. Wanita berusia 57 tahun itu tinggal di Blok G sejak lima tahun lalu. Dia memutuskan tinggal di rusunawa, lantaran tempat tinggalnya di Semarang Utara selalu dilanda banjir rob.

Supatmi mengatakan, lebih baik tinggal di rusunawa lantaran tak terdampak banjir rob.

“Bosan selalu terendam air, jadi saya bersama suami memutuskan pindah ke rusunawa ini,” jelasnya saat ditemui di lorong Blok H, Rabu (9/11).

Baca Juga:  Provokasi Kasus Pemerkosaan, 7 Anggota LSM di Brebes Ditahan Polisi

Sembari berbincang dengan Febriani (34), tetangganya, Supatmi mengaku sangat betah menghuni Rusunawa Kudu. Bahkan ia mengajak anaknya untuk menetap di rusunawa yang ada di Kecamatan Genuk itu.

Di Blok G, Supatmi menempati ruangan di lantai dasar dengan biaya sewa Rp 250 per bulan. Uang sewa itu di luar biaya listrik dan air.

Di tengah asyik berbincang, ia menceritakan pengalamannya tinggal di rusunawa selama beberapa tahun. Menurut Supatmi, memang perlu penyesuaian saat awal pindah rusunawa, karena menempati lingkungan dan tetangga baru. Namun hal itu tak menjadi halangan baginya, karena saat tinggal di Semarang Utara Supatmi juga senang bersosialisasi.

Baca Juga:  Andi Herman Emban Tugas Baru Jadi Sesjampidsus Kejagung, Torehkan Segudang Prestasi saat Jabat Kajati Jateng

“Intinya sama tetangga harus ramah, ringan tangan dan baik. Semua itu akan membuat tetangga juga baik dengan saya,” ujarnya.

Selama tinggal di Rusunawa Kudu, Supatmi tak pernah mengalami masalah dengan tetangga. Ia juga dipercaya untuk mengurus kebersihan di lantai dasar Blok G Rusunawa Kudu.

“Saya yang ngerawat ini, dipercaya untuk kebersihan di lantai blok ini,” pungkasnya.

Adapun Febriani yang baru menempati Rusunawa Kudu mengaku tak pernah kesulitan saat tinggal di rusunawa.

Baca Juga:  Dialog USM Unggul, Prof Thomas: Tiga Kunci menuju Unggul yakni Dialogis, Demokratis dan Kolaborasi

Fasilitas seperti air bersih hingga listrik dan kebersihan juga bisa diakses wanita setengah baya itu secara mudah. Bahkan perempuan 34 tahun yang sebelumnya tinggal di kawasan Kota Lama Semarang itu tak pernah merasa kesepian, karena warga yang tinggal di rusunawa selalu bercengkrama.

“Air bersih juga tak pernah macet, yang membedakan tinggal di pemukiman dan rusunawa adalah selalu bertemu dengan warga lainnya. Karena hanya disekat dinding, jadi setiap hari selalu bertemu saat beraktivitas,” imbuhnya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *