Srawung Semarangan #2, Pamerkan Foto-foto Sejarah Kabupaten Semarang

UNGARAN (Awal.id) – Srawung Semarangan #2 Gambang Semarang Art Company (GSAC) memamerkan foto-foto bertajuk Pameran Naratif Sejarah Kabupaten Semarang.
Selain pameran foto, dalam gelaran yang dilaksanakan selama dua hari di Benteng Wiliam Ungaran, Jumat-Sabtu (14-15/10), juga ditampilkan beberapa kegiatan seperti diskusi budaya, video maping, perbatik shadow, penampilan grup musik eksperimental Tridathu, dan ditutup oleh Gambang Semarang Art Company.
Ketua Penyelenggara, Tri Subekso menjelaskan pameran fotografi konservasi tersebut mengangkat tentang “menyigi masa”. Ia menyebut foto- foto tersebut merupakan sebagian dari episode sejarah yang sempat terekam kamera, saat para perempuan dan anak- anak Belanda dan bangsa Eropa lainnya harus menghuni kamp tawanan (interniran), khusus para perempuan dan anak, yang tersebar di Ambarawa, periode tahun 1942- 1945.
Saat itu, lanjutnya, periode pendudukan Jepang di Indonesia, seluruh perempuan dan anak- anak warga Belanda dan Eropa ditempatkan di kamp konsentrasi. Sementara para pria ditawan untuk dikerjapaksakan di berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.
Situasi sosial mereka benar-benar berubah 180 derajat selama hampir tiga tahun menghuni kamp interniran di Ambarawa, yang tak lain merupakan kamp interniran terbesar selama pendudukan bangsa Jepang di Indonesia.

Penggagas Srawung Semarangan #2, Tri Subekso
Kelaparan, wabah penyakit, hingga kematian akibat buruknya situasi di dalam kamp interniran, menjadi peristiwa kemanusiaan yang hingga saat ini masih sangat membekas, bagi para pelaku sejarah yang masih tersisa.
“Yang jelas pemeran tersebut, menampilkan foto-foto lawas yang bertemakan Kabupaten Semarang di jaman lampau. Tentang peradaban Ungaran dalam sejarah, di mana saat itu Ungaran sebagai jalur rempah nusantara, ada juga sebagai kota pendidikan, dan jejak sejarah benteng willem 1,” ungkap Bekso yang juga sebagai Direktur GSAC.
Pertunjukan yang menonjol lainya, sambungnya, ditampilkan video maping berjudul “ontmoeting” dengan media di bangunan depan Benteng William.
“Ontmoeting merupakan karya dari F Satriya Wicaksana. Menampilkan video mapping dengan background Benteng Willem 1 tentang Kabupaten Semarang dan Pangeran Diponegoro dengan durasi 15 menit,” jelas bekso yang juga Tim Ahli Cagar Budaya (TCAB) Disdikbudora Kabupaten Semarang.
Di hari kedua sekaligus menjadi penutup gelaran Srawung Semarangan #2, terdapat penampilan dari GSAC, Komunitas Karangjati Nyawiji, dan sanggar Smara Khinanthi Ungaran. Mereka tampil dengan mengusung konsep “Goedang Pala”. (is)



















