Musala Ar Rohmah akan Diubah Jadi Masjid

SEMARANG (Awal.id) – Ketua Takmir Musala Ar Rohmah, Semarang, Muhammad Ikrom mengajak seluruh jamaah agar meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Salah satu suri tauladan yang diajarkan Rosulullah salat berjamaah.

Ajakan itu disampaikan Muhammad Ikrom pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di Musala Ar Rahmah, Jl Indragiri Raya, Citarum, Semarang, Senin malam (10/10). Acara ini dihadiri ratusan warga dan jamaah Musala Ar Rahman.

Untuk menindaklanjuti anjuran Nabi Muhammad, kata Muhammad Ikrom, pengurus Musala Ar Rohmah telah melakukan rapat. Dari hasil rapat tersebut diputuskan Musala Ar Rahman dalam waktu dekat ini akan diubah menjadi masjid, sehingga bisa dimanfaatkan untuk sejumlah kegiatan kerokhanian maupun menampung lebih banyak warga muslim yang melakukan salat berjamaah, khususnya Salat Jumat.

Baca Juga:  Halal Bihalal dengan Ulama se Jatim, Ganjar Dicurhati Soal Pupuk

“Kalau Musala Ar Rahman diubahkan sebagai masjid, tempat ini bisa digunakan untuk menggelar Salat Jumat, di mana warga sekitar yang dulunya melakukan Salat Jumat di luar, nantinya bisa memenuhi Masjid Ar Rahman ini,” katanya.

Sementara itu, KH Buya Mutamakin AH yang akrab disapa Abah Buya pada tausyiahnya mengatakan intisari dari agamanya adalah yakin kepada Allah dan yakin kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurut Buya, keislaman seorang hamba akan sah apabila sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan (Rasul) Allah).

Baca Juga:  Demi Selamatkan Bumi dan Kemanusiaan, Gubernur Ganjar Siap Gaspol Tanam Mangrove

Buya mengatakan sebelum Nabi Muhammad dilahirkan ke bumi, terjadi kekosongan pemimpin umat selepas Nabi Isa AS wafat. Di Makkah, banyak terjadi kejahilan, hingga tindak penyimpangan berupa penguburan hidup-hidup anak perempuan, karena melahirkan bayi perempuan dianggap sebagai aib.

Penyimpang lain, lanjut Buya, adalah penyembahan berhala/patung yang dilakukan masyarakat Makkah pada waktu itu. Kesesatan lain, berupa penyimpangan seksual dan minum khomer (minuman keras).

Zaman Jahilan terus berlangsung hingga Nabi Muhammad dilahirkan tahun 571 Masehi atau tahun Gajah. Disebut tahun Gajah, karena saat itu Makkah akan dihancurkan pasukan Abrahah yang menunggangi gajah.

“Nabi dilahirkan dari nasab yang mulia, yaitu Ibunda Aminah dan Syaid Abdullah yang saat itu dijaga Allah tidak melakukan kejahilan di tengah masyarakat yang jahil,” paparnya.

Baca Juga:  Ketua TP PKK Kabupaten Kendal Resmikan Pamsimas di Desa Pekuncen

Buya memaparkan sejak dilahirkan Muhammad kecil sudah menunjukkan tanda kenabian, hingga umur 40 tahun dianggkat nabi dan rasul oleh Allah dan dibekali mukjizat Alquran sebagai petunjuk sebagai jalan sebagai hukum dan sebagai rahmat dan obat.

Buya mengajak jamaah mengenal Nabi Muhammad agar menjadi orang yang Bejo, terima Bejo di dunia dan Bejo di akhirat.

“Perbanyak lah sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sholawat adalah perintah Allah SWT, sebagaiman Allah juga memerintahkan para malaikat untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad. Innallaha wamalaa ikatahu yusholluna alannabii, ya ayyuhalladzina aamanuu sholu’alaihiwasalamu taslima,” tandasnya. (Yulianto Santri Angon)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *