Trisno Yoewono, Veteran Perang Keturunan Tionghoa yang Tinggal di Semarang, Lukisannya Dipesan Ganjar

SEMARANG (Awal.id) – Veteran perang keturunan Tionghoa tak banyak dikenal masyarakat. Padahal banyak di antara mereka yang turut berperang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Satu di antaranya Trisno Yoewono. Lahir di Bojonegoro, pria yang kini berusia 77 tahun itu turut serta di sejumlah pertempuran pasca kemerdekaan.

Yoewono kedatangan tamu spesial, yakni Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Selasa (1/1). Gubernur berambut putih itu menyambangi rumah Yoewono di Bulusan, Kecamatan Tembalang.

Yoewono sudah beberapa kali bertemu gubernur di acara resmi yang melibatkan veteran. Misalnya di acara peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang  Namun ia tak menyangka, sang gubernur kini berdiri di depan pintu rumahnya.

Baca Juga:  Fiesta Fest 2025, Dukung Semangat Generasi Emas 2045 untuk Gizi

“Nama kecil saya Lie Xia Yu. Saya ganti ya karena zaman Soeharto dulu. Kira-kira tahun 68. Yu-nya dipakai untuk Yoewono, jadi Trisno Yoewono,” katanya.

Yoewono bercerita tentang pengalaman hidupnya. Bagaimana menjalani pendidikan militer dan dikirim ke perbatasan dan sejumlah daerah konflik di Indonesia. Yoewono mengaku bangga bisa membela negara.

“Piyantun kaya jenengan kan sedikit, kok dulu sebagai orang Indonesia keturunan Tionghoa kok mau perang kenapa?” tanya Ganjar.

Yoewono mengatakan, keinginannya murni atas kecintaannya terhadap tanah kelahiran. Baginya meski keturunan Tionghoa, dia adalah warga negara Indonesia.

Baca Juga:  Sepanjang 2021, BNNP Jateng Ungkap 19 Kasus Tindak Pidana

“Kita kesadaran diri, kita lahir di Indonesia, mau gimana ya jadi orang Indonesia. Wah nggak ada (gaji), kita rela mati untuk bela negara,” ujar Yoewono.

Di masa tuanya, Yoewono yang terkena stroke menghabiskan waktunya di rumah dengan melukis. Ternyata ia pernah berguru pada Dullah, pelukis istana kesayangan Bung Karno. Dullah dikenal dengan karya-karya realisnya. Itulah mengapa Yoewono pun banyak melukis realisme.

“Wah keren, berarti ini lukisan jenengan alirannya realis ya. Katanya pernah bikin pameran, mbok dipamerkan lagi,” tutur Ganjar.

Baca Juga:  Pembangunan SMA Negeri Pertama di Tawangmangu Dimulai

Yoewono mengaku belum banyak menghasilkan karya lukisan. Karena sakit, Yoewono lebih sering menggambar sketsa.

Di sela obrolan, Ganjar melihat sebuah lukisan yang menyerupai dirinya namun belum selesai.

“Pak Yu, nanti kalau sudah selesai itu lukisannya kabari saya ya. Biar saya beli,” tutur Ganjar sembari berpamitan.

Yoewono pun mengungkapkan rasa terimakasihnya pada Ganjar berulangkali. Baginya, Ganjar merupakan sosok gubernur yang rendah hati dan tidak melupakan rakyat kecil.

“Terimakasih Pak Ganjar, sudah datang. Tadi ngobrol banyak saya cerita macem-macem. Pak gubernur baik sama rakyat kecil, saya nggak pernah lupa sama pak gubernur,” ujarnya.

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *