Ratusan Peserta Gowes Pakai Kebaya, Wakil Wali Kota Semarang : Jangan Sampai Kita Lupakan Tradisi

SEMARANG (Awal.id) – Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu bersama ratusan warga memakai kebaya dan lurik saat gowes pagi, Minggu (14/11). Gowes berkebaya ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan serta HUT Komunitas Diajeng Semarang kelima.

Wakil Walikota Semarang atau yang akrab disapa Ita memimpin langsung gowes pagi berkebaya dengan mengelilingi destinasi wisata di Kota Semarang. Pada acara itu, Ita mengenakan busana kebaya warna merah, dengan stelan bawah sporty.

Orang nomor dua di Kota Semarang ini mengaku tidak merasa kesulitan mengayuh sepeda gowes dengan mengenakan kebaya. Bahkan, rombongan peserta gowes terlihat asyik mengelilingi jalan-jalan di Kota Lumpia.

Baca Juga:  Polda Jateng Grebek Tempat Judi Online di Purbalingga

“Gowes kebaya yang kami lakukan, bukan hanya mengenalkan saja, tetapi juga untuk membuktikan bahwa berkebaya tidak memberatkan orang untuk beraktivitas,” kata Ita.

Start gowes dimulai dari Polder Tawang dengan acara pertama berupa penanaman pohon agar lingkungan sekitar lebih hijau. Kemudian, Ita mengajak ibu-ibu Diajeng berbelanja di Pasar Johar untuk membeli aneka kebutuhan sehari-hari.

Ita menjelaskan dirinya sengaja mengajak ibu-ibu peserta gowes untuk nglarisi para pedagang Pasar Johar yang baru saja menempati lokasi baru pascakebakaran pada tahun 2016.

Baca Juga:  Jadwal dan Harga Tiket Kereta Api dari Semarang menuju Surabaya, Malang, Jember dan Banyuwangi per 1 Februari 2025

Menurut Ita, melakukan aktivitas belanja dengan mengenakan kebaya tak membuat sulit, bahkan terlihat cantik dan bisa mencuri perhatian para pedagang.

“Belanja memakai kebaya Ini, untuk membuat laku. Selain itu, saya mengajak ibu-ibu menglarisi dagangan, sehingga membuat pedagang menjadi senang,” ujarnya.

Setelah melakukan kunjungan ke Pasar Johar, rombongan gowes digiring menuju destinasi wisata Grand Maerakaca. Kunjungan ke Maerakaca tersebut untuk memperkenalkan tempat wisata kepada masyarakat luar. Peserta gowes yang diarak menuju Maerakaca diwajibkan tetap menggunakan kebaya saat berkeliling di miniatur Jawa Tengah tersebut.

Baca Juga:  Industri Sepak Bola Nasional Harus Mulai Digerakkan Kembali

“Tentunya makna berkebaya ini bahwa kita belanja, olahraga, gowes, kita beraktivitas itu apapun ternyata fleksibel bisa dipakai kapan pun,” jelasnya.

Ita berpesan agar para kaum wanita bisa memakai kebaya kapan saja, di mana saja. “Kebaya ini sudah menjadi pakaian sehari-hari. Perlu melakukan istilahnya nguri-nguri budaya untuk jadi pakaian kita semuanya. Intinya adalah, jangan sampai melupakan kebaya,” imbuhnya. (is)

Sharing:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *